Sastra
Lelaki Hijau yang Melubangi Perahu
Puisi-puisi Iwan Setiawan
Oleh IWAN SETIAWAN
Zulaikha Mengetuk Pintu Yusuf di Usia Senja
Pada usia ketika cermin tak lagi ramah kepada perempuan, Zulaikha masih menyimpan nama Yusuf di dalam dadanya seperti bara yang menolak padam.
Istana telah berubah sunyi.
Pelayan-pelayan pergi, lampu-lampu mulai redup, dan lorong panjang yang dahulu dipenuhi wangi kasturi kini hanya dihuni gema langkahnya sendiri.
Orang-orang pernah mengenalnya sebagai perempuan yang memotong jemari banyak wanita demi membela satu wajah.
Tetapi mereka tak pernah tahu: yang melukai Zulaikha bukan ketampanan Yusuf, melainkan cahaya yang diam-diam turun bersama wajah itu.
Sejak pertama menatap mata Yusuf, ia seperti melihat pintu menuju langit terbuka perlahan di dalam seorang manusia.
Dan sejak hari itu, tak ada lelaki lain yang benar-benar dapat tinggal di dalam hatinya.
Malam-malam berlalu dengan ratapan yang panjang.
Ia duduk sendirian di dekat jendela istana, memandang bintang-bintang sambil bertanya kepada Tuhan:
“Mengapa cinta selalu datang dengan cara yang melukai?”
Tak ada jawaban, kecuali usia yang terus menghapus kecantikannya sedikit demi sedikit.
Rambutnya memutih.
Tangannya mulai gemetar.
Dan kota yang dulu membicarakan gairahnya, kini melupakan namanya seperti angin melupakan debu.
Sementara Yusuf, lelaki yang pernah dikejarnya di lorong-lorong istana, telah berubah menjadi penguasa negeri.
Tetapi aneh, semakin tinggi kedudukan Yusuf, semakin miskin perasaan Zulaikha di hadapan Tuhan.
Ia mulai mengerti: yang dirindukannya selama ini bukan tubuh Yusuf.
Melainkan sesuatu yang pernah memancar dari wajah lelaki itu.
Sesuatu yang membuat dunia terasa terlalu kecil untuk ditinggali.
Maka pada suatu senja, dengan tubuh renta dan langkah tertatih, Zulaikha datang mengetuk pintu Yusuf.
Ketika pintu dibuka, ia menundukkan wajahnya.
Bukan karena malu, tetapi karena cinta akhirnya mengajarinya cara menjadi debu.
“Apa yang tersisa darimu sekarang?” tanya Yusuf pelan.
Zulaikha tersenyum, seperti seseorang yang baru selesai kehilangan segalanya.
“Hanya Tuhan,” jawabnya.
Dan Yusuf pun menangis.
Padang, 2026
***
Di Sumur Yusuf, Ayahku Kehilangan Langit
Malam itu anak-anak pulang membawa baju berlumur darah.
“Ada serigala memakannya,” kata mereka.
Tetapi Ya’qub tahu, tak ada serigala yang lebih buas daripada iri hati manusia.
Sejak malam itu, rumah terasa terlalu luas.
Piring-piring tetap tersusun, air kendi tetap penuh, namun suara Yusuf tak lagi berjalan di antara dinding-dinding.
Kadang sebelum subuh, Ya’qub membuka pintu, memandang jalan pasir yang tak mengembalikan siapapun.
Ia mencium gamis Yusuf yang tertinggal: bau padang rumput, bau matahari, bau seorang anak yang pernah tertidur di dadanya.
Tahun-tahun lewat seperti unta tua yang pincang.
Dan kesedihan, diam-diam, menggerogoti cahaya matanya.
Orang-orang mengira ia buta karena tangisan.
Padahal tidak ia hanya terlalu lama menatap kehilangan.
“Ya Allah,” bisiknya, “mengapa cinta selalu Kau dekatkan dengan perpisahan?”
Langit tetap sunyi.
Hanya angin yang menggesek dedaunan seperti tasbih dari makhluk-makhluk kecil yang ikut bersedih.
Di negeri jauh, Yusuf hidup di dalam sumur-sumur lain: sumur pengkhianatan, sumur penjara, sumur kesepian.
Dan setiap manusia, pada waktunya, akan jatuh ke salah satunya.
Ada yang tenggelam.
Ada yang keluar dengan wajah baru dan hati yang retak oleh cahaya.
Sampai rambutnya memutih oleh rindu, Ya’qub tetap berkata:
“Aku masih mencium bau Yusuf dari arah yang tak dipercaya manusia.”
Barangkali hidup memang hanya itu:
Mencari kembali seseorang yang pernah membuat kita lebih percaya kepada Tuhan.
Padang, 2026
***
Lelaki Hijau yang Melubangi Perahu
Aku pernah mengira Tuhan selalu datang dengan wajah yang mudah dipahami.
Sampai Musa bertemu seorang lelaki hijau di tepi laut yang tampak lebih tua daripada waktu.
Laut sore itu tenang.
Burung-burung melintas rendah. Perahu nelayan bergerak pelan di atas air yang memantulkan langit pucat.
Para nelayan miskin mempersilakan mereka naik tanpa meminta apa pun.
Lalu di tengah laut, lelaki itu mengambil kapak kecil dan melubangi perahu mereka.
Air masuk perlahan.
Musa terkejut.
“Apakah kau hendak menenggelamkan mereka?”
Tetapi lelaki hijau itu diam, seolah telah terlalu lama hidup bersama rahasia.
Dan Musa akhirnya mengerti: beberapa kasih sayang Tuhan datang menyerupai bencana.
Perjalanan berlanjut.
Di sebuah lorong sempit, seorang anak kecil berlari sambil tertawa di bawah langit yang terlalu cerah untuk firasat buruk.
Lalu lelaki itu menghentikan langkahnya.
Dunia seperti retak di dalam dada Musa.
“Untuk dosa apa anak itu harus mati?”
Tak ada jawaban.
Hanya angin yang bergerak perlahan melewati dinding-dinding kota yang dingin.
Menjelang malam, mereka tiba di sebuah negeri yang menutup pintu bagi orang asing.
Namun di sana, lelaki hijau itu justru memperbaiki tembok tua yang hampir roboh.
Tangannya penuh debu. Keringat turun pelan di dahinya.
Dan Musa, yang sejak tadi memungut sabar sedikit demi sedikit, akhirnya berkata:
“Kalau kau mau, kau bisa meminta upah.”
Lelaki itu berhenti.
Malam turun seperti tirai hitam di atas gurun.
“Inilah perpisahan kita.”
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi terasa lebih berat daripada runtuhnya gunung.
Dan malam membuka apa yang selama ini disembunyikan takdir.
Tentang perahu. Tentang anak kecil. Tentang tembok tua.
Musa pun mengerti: pengetahuan manusia hanyalah pelita kecil di tengah malam Tuhan yang tak bertepi.
Sejak kisah itu, aku selalu curiga: jangan-jangan yang paling melukai hidup kita justru sedang menyelamatkan kita.
Sebab tidak semua rahmat datang dengan wajah yang menenangkan.
Sebagian turun seperti malam: gelap, sunyi, dan membuat manusia merasa ditinggalkan.
Padang, 2026
***
Pisau di Tangan Ibrahim
Pagi belum selesai terang ketika Ibrahim
membangunkan Ismail dengan tangan gemetar
“anakku aku melihatmu disembelih di dalam tidurku”
padang pasir sunyi, angin bergerak pelan
melewati batu-batu yang dingin seperti firasat
Ismail menatap ayahnya tanpa ketakutan
seolah ia telah mengerti cinta kepada Tuhan
kadang meminta manusia kehilangan apa yang paling dicintainya
mereka berjalan melewati lembah-lembah sepi
tak ada suara kecuali langkah kaki dan jantung Ibrahim
yang berdegup seperti seseorang
yang sedang membawa kuburnya sendiri
di puncak sunyi itu Ibrahim merebahkan anaknya di atas tanah
pisau terangkat dan seluruh langit seakan menahan napas
tak ada malaikat tak ada mukjizat
hanya seorang ayah tua, seorang anak dan Tuhan
yang berdiri di antara keduanya
seperti rahasia yang tak selesai dipahami manusia
lalu pisau itu tak jadi melukai
dan sejak hari itu Ibrahim tahu
yang harus disembelih manusia bukan selalu tubuh
melainkan segala yang lebih dicintainya daripada Tuhan
Padang, 2026
***
Pohon Kurma untuk Maryam
Malam turun pelan di tubuh padang pasir
Maryam berjalan sendiri membawa nyeri dan seorang bayi yang belum lahir
tak ada rumah, tak ada pelukan, tak ada suara
selain angin yang menggesek daun-daun kurma
langit seperti pintu yang belum mau terbuka
di bawah pohon itu Maryam bersandar dengan tubuh gemetar
“andai aku mati sebelum hari ini”
kalimat itu jatuh pelan sekali
seperti hati yang terlalu lama menanggung rahasia
malam makin dingin
rasa sakit datang berulang-ulang
seperti ombak yang memukul batu sunyi
tak ada bidan, tak ada ibu, tak ada siapa-siapa
hanya seorang perempuan dan Tuhan
lalu dari tempat yang tak terlihat manusia air mengalir pelan
dan pohon kurma menjatuhkan buahnya satu demi satu
seakan langit tahu kesedihan manusia
kadang hanya membutuhkan sedikit air, sedikit buah dan alasan untuk tetap hidup
ketika bayi itu lahir dunia belum tahu
seorang perempuan yang menangis sendirian di bawah pohon kurma itu
sedang melahirkan cahaya dan kesedihan manusia sekaligus
Padang, 2026
***
Riwayat Cinta Laila dan Majnun
aku dedikasikan puisi ini untuk Siti Aisyah
malam turun pelan di tubuh kota
dan seseorang masih menyebut satu nama di dalam sepi
seperti Majnun menyebut Laila di padang pasir yang tak bertepi
Siti Aisyah
mula-mula ia hanya nama yang membuat dada bergetar
tetapi cinta diam-diam mengubah arah dari mata manusia
ke langit yang tak selesai dipahami
majnun akhirnya mengerti mengapa rindu tak pernah benar-benar habis
sebab yang dicarinya bukan lagi tubuh Laila
melainkan sesuatu yang membuat dunia terasa terlalu sempit untuk ditinggali
maka ia berjalan dari satu gurun ke gurun lain
membawa kesunyian seperti seorang darwis membawa zikir
orang-orang mengira ia sedang mabuk cinta
padahal di dalam dadanya ada sesuatu yang perlahan terbakar
setiap kali nama Laila disebutkan
dan dari reruntuhan itu ia mulai mengenal Tuhan
sebab beberapa manusia dihadirkan ke dunia bukan untuk dimiliki
melainkan untuk membuat hati seseorang runtuh hingga tak tersisa lagi selain Tuhan
maka sampai hari ini nama itu masih hidup
Siti Aisyah, seperti Laila yang tinggal di dada majnun
bukan sebagai perempuan semata melainkan sebagai luka sunyi
yang membuat seorang lelaki terus berjalan melewati pasir
dan kesepian dunia
Padang, 2026
***
Iwan Setiawan kelahiran Kotabumi lampung utara 23 Agustus 1980, puisi-puisinya bernuansa sufistik dan beberapa karya-karyanya sudah di muat di media Online dan cetak juga di tahun 2017 mendapatkan Anugerah Sastra dari majalah Littera, dan penulis buku puisi aforisme SANG PENCARI CINTA dan juga buku puisi lainnya yang berjudul LAILA.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
