Sejumlah pekerja pelabuhan menumpang truk untuk dapat menerobos banjir limpasan air laut ke daratan atau rob yang merendam kawasan Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (24/5/2022). | ANTARA FOTO/Aji Styawan

Opini

27 May 2022, 03:45 WIB

Banjir Rob dan Penurunan Tanah

Banjir rob kian parah kalau wilayah pesisirnya mengalami penurunan tanah.

HASANUDDIN Z ABIDIN; Guru Besar Bidang Geodesi, Institut Teknologi Bandung

Banjir rob di kawasan pesisir akibat melimpasnya air laut saat pasang ke daratan, sudah lama terjadi secara berkala di sejumlah lokasi sepanjang pantai utara Jawa. Di antaranya, Jakarta, Indramayu, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Kendal, Semarang, Demak, dan Pati.

Dampak banjir rob juga cukup merugikan. Di samping mengganggu aktivitas keseharian penduduk, perekonomian, dan transportasi juga menurunkan kualitas hidup penduduk, serta mendegradasi kualitas lingkungan dan air permukaan.

Karena itu, pengurangan risiko banjir rob perlu dikelola sistematis dan berkelanjutan.

Banjir rob terjadi saat permukaan air laut lebih tinggi dari permukaan tanah di sepanjang pantai. Karena itu, pembangunan tanggul penahan air laut saat pasang sepanjang wilayah pantai yang rentan, salah satu metode untuk mengantisipasi banjir rob.

 
Banjir rob terjadi saat permukaan air laut lebih tinggi dari permukaan tanah di sepanjang pantai. 
 
 

Tanggul laut ini, sebagai contoh sudah dibangun di sejumlah lokasi sepanjang pantai utara Jakarta dan Semarang. Namun, saat pasang air laut ekstrem, air laut melimpas melewati bahkan menjebol tanggul, seperti terjadi di pantai utara Semarang beberapa hari lalu.

Banjir rob kian parah kalau wilayah pesisirnya mengalami penurunan tanah. Ini memperluas dan memperdalam cakupan banjir ataupun genangan rob. Jika ada tanggul laut di wilayah pantai, akan ikut mengalami penurunan sehingga efektivitas tanggul berkurang.  

Seandainya laju penurunan tanah sepanjang tanggul bervariasi secara spasial, ada kemungkinan tanggul retak di beberapa lokasi. Saat air pasang kondisinya ekstrem, tanggul bisa jebol di lokasi-lokasi yang mengalami keretakan.

Penurunan muka tanah terjadi di wilayah relatif luas tak hanya sepanjang pantai. Penyebabnya, faktor alamiah dan/atau aktivitas manusia, seperti konsolidasi alamiah tanah alluvium, aktivitas tektonik, pengambilan air tanah berlebihan, serta beban bangunan dan konstruksi.

Penurunan muka tanah kerap terjadi di berbagai kota besar di wilayah pesisir pantai, seperti Venesia, Bangkok, Shanghai, Tokyo, Manila, Karachi, Jakarta, dan Semarang akibat kombinasi keempat faktor penyebab di atas.

 
Penurunan muka tanah kerap terjadi di berbagai kota besar di wilayah pesisir pantai, seperti Venesia, Bangkok, Shanghai, Tokyo, Manila, Karachi, Jakarta, dan Semarang akibat kombinasi keempat faktor penyebab di atas.
 
 

Dengan pengambilan air tanah yang berlebihan dilaporkan sebagai sumber yang relatif cukup dominan. Penurunan tanah umumnya terjadi perlahan dan baru disadari setelah dampak merusaknya muncul ke permukaan.

Misalnya, banjir rob makin sering, perluasan genangan banjir, retaknya konstruksi permanen dan jalan, miring dan ‘tenggelam’-nya rumah dan bangunan, rusaknya jaringan pipa bawah tanah, dan terganggunya aliran air dalam drainase, kanal, ataupun sungai di wilayah terdampak.

Selama ini, cakupan dan laju pengamatan penurunan tanah di wilayah pesisir Jakarta dan Semarang menggunakan beberapa metode geodetik, seperti terestris sipat datar (leveling) dan metode gaya berat, serta metode berbasiskan pengamatan satelit, seperti metode survei GPS dan metode InSAR (Interferometric Synthetic Aperture Radar).

Berdasarkan pengamatan peneliti dari Kelompok Keilmuan Geodesi ITB, serta perguruan tinggi dan instansi lainnya, laju penurunan tanah di wilayah pesisir Jakarta, Semarang, dan sejumlah kawasan pantura lainnya secara umum berkisar 3 sampai 10 cm/tahun.

Laju ini bervariasi, baik terhadap waktu (temporal) maupun lokasi (spasial).

 
Secara umum, pembangunan kawasan pesisir secara berkelanjutan, sebaiknya mengakomodasi informasi yang baik dan detail terkait karakteristik penurunan tanah di wilayah pesisir tersebut.
 
 

Informasi karakteristik (cakupan, laju, serta variasi temporal dan spasial) dari penurunan tanah di kawasan pesisir, bermanfaat untuk proses pengendalian banjir rob serta perencanaan dan pembangunan tanggul laut.

Perencanaan tata ruang, pembangunan sarana dan prasarana, pengendalian pengambilan air tanah, pengendalian intrusi air laut, dan pelestarian lingkungan di wilayah pesisir, perlu mempertimbangkan informasi terkait penurunan tanah di wilayah tersebut.

Secara umum, pembangunan kawasan pesisir secara berkelanjutan, sebaiknya mengakomodasi informasi yang baik dan detail terkait karakteristik penurunan tanah di wilayah pesisir tersebut.

Di samping itu, peta-peta bahaya dan risiko penurunan tanah untuk kawasan pesisir yang rentan juga perlu dibuat, diremajakan, dan disosialisasikan secara berkala.

Sosialisasi dan edukasi untuk penduduk di kawasan pesisir yang rentan penurunan tanah dan berbagai dampaknya perlu dilakukan, terutama terkait cara dan pendekatan untuk mitigasi dan adaptasinya yang efektif dan efisien.

Mengingat Indonesia memiliki garis pantai sangat panjang (sekitar 108 ribu km), aturan perundangan dan kelembagaan terkait pemantauan, mitigasi, dan adaptasi penurunan tanah di wilayah pesisir perlu diperkuat, baik di level pemerintah pusat maupun daerah. Semoga.


Mati dalam Keadaan Fitrah

Dari Allah fitrah dan hendaknya kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah. Bersih semua.

SELENGKAPNYA

Mengenali Sifat Dengki

Orang yang mendengki tak akan mendapatkan apa-apa kecuali cela dan hina

SELENGKAPNYA

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

SELENGKAPNYA
×