Orang yang dengki tak akan mendapatkan apa-apa kecuali cela dan hina. | Pixabay

Tuntunan

26 May 2022, 04:08 WIB

Mengenali Sifat Dengki

Orang yang mendengki tak akan mendapatkan apa-apa kecuali cela dan hina

 

OLEH A SYALABY ICHSAN

Kedengkian merupakan salah satu hasil dari sifat dendam yang tercela. Sifat dengki yang paling purba, menurut pendapat generasi salaf, yakni kedengkian iblis kepada Nabi Adam AS.

Iblis dengki karena maqam Nabi Adam, lewat intelektualitasnya yang merupakan anugerah dari Allah SWT, mampu mengenali nama-nama benda di surga. Allah SWT pun memerintahkan para malaikat untuk bersujud —bukan menyembah tetapi menunjukkan sikap hormat— kepada Adam AS yang dituruti oleh makhluk cahaya itu. Semuanya turut kecuali iblis.

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS al-Baqarah: 34).

Banyak hadis yang mencela sifat dengki. Di antaranya, yakni sabda Rasulullah SAW, “Kedengkian itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” 

Imam al-Ghazali, yang mengutip seorang salaf soal kedengkian, mengungkap, orang yang mendengki tidak akan mendapatkan apa-apa kecuali cela dan hina. Dia tak akan mendapatkan apapun dari malaikat kecuali laknat dan kebencian.

Dia pun tak akan mendapatkan sesuatu dari makhluk kecuali ketakutan dan keresahan. Saat berdiri di hadapan Allah SWT, dia juga tak akan mendapatkan apa-apa kecuali malu dan siksa.

 
Imam Al Ghazali mendefinisikan kedengkian menjadi dua macam
 
 

Imam Al Ghazali mendefinisikan kedengkian menjadi dua macam. Pertama, membenci kenikmatan yang dialami orang lain serta menginginkan hilangnya kenikmatan dari mereka yang mendapatkannya.

Kedua, tidak menginginkan hilangnya kenikmatan orang lain serta menginginkan kenikmatan yang serupa untuk diri sendiri. Dengki jenis ini disebut juga dengan iri.

Kedengkian pertama dihukumi haram dalam setiap keadaan. Hanya, ada pengecualian saat kenikmatan itu dimiliki seorang durjana yang menggunakan kenikmatan itu untuk sesuatu yang diharamkan.

Punya keinginan agar kenikmatan itu hilang dari orang tersebut tidak bermudarat mengingat kenikmatan tersebut digunakan sebagai alat perusak. Untuk kondisi di luar itu, pengharaman kedengkian ditunjukkan oleh hadis-hadis Rasulullah. 

Kebencian ini pun dinilai sebagai kebencian terhadap qadha (ketetapan) Allah dalam memberi kelebihan kepada sebagian hamba-Nya atas hamba-Nya yang lain. Menurut Al-Ghazali, perbuatan ini tidak dibenarkan dengan alasan dan rukhsakh (keringanan) apapun.

Karena itu, kita patut menginstrospeksi diri kita dengan pertanyaan, “Maksiat manakah yang melebihi kebencianmu terhadap kesenangan seorang Muslim yang tidak menyebabkan mudharat kepadamu?” 

Hal ini diisyaratkan oleh Alquran dengan firman-Nya, “Jika kebaikan menyentuh kalian, mereka bersedih hati dan jika keburukan menimpa kalian, mereka bergembira karenanya.” (QS Ali Imran : 120).

 
Sikap tersebut merupakan bentuk kegembiraan atas kesusahan orang lain di mana selalu beriringan satu sama lain dengan sifat dengki.
 
 

Sikap tersebut merupakan bentuk kegembiraan atas kesusahan orang lain di mana selalu beriringan satu sama lain dengan sifat dengki. Kita patut belajar dari kaum Anshar yang rela berlapang hati manakala kenikmatan dilebihkan atas kaum muhajirin.

“Dan mereka (kaum Anshar) tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (kaum muhajirin).” (QS al-Hasyr: 9).

Untuk kondisi kedua, Imam al-Ghazali menjelaskan, hal yang tidak diperkenankan agama adalah manakala seseorang menginginkan nikmat orang lain berpindah kepada dirinya. Dia menginginkan nikmat yang sedang ‘dinikmati’ keluarga atau temannya itu sehingga disebut sebagai perbuatan tercela.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT QS an-Nisa: 32: “Dan janganlah kalian mengangankan apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kalian lebih banyak daripada sebagian yang lain.“

 
Ada pula sifat iri yang diperbolehkan, contohnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan.
 
 

Ada pula sifat iri yang diperbolehkan, contohnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan. Sabda Rasulullah SAW, “Tidak boleh iri hati kecuali kepada dua orang, laki-laki yang Allah anugerahi harta lalu ia mempergunakannya dengan menghabiskannya di jalan kebenaran dan laki-laki yang Allah anugerahi ilmu lalu ia mengamalkan ilmunya dan mengajarkan kepada orang lain.” 

Banyak pintu masuk kepada kedengkian. Di antaranya yakni permusuhan dan kebencian. Lantas, bagaimana cara mengobati penyakit dengki?

Imam Al Ghazali memberi resep untuk mengobati penyakit hati besar ini tidak lain yang dibutuhkan adalah ilmu dan amal. Ilmu yang paling bermanfaat untuk mengobati penyakit dengki adalah mengetahui dengan sebenar-benarnya jika kedengkian berbahaya di dunia maupun di dalam agama.

Sementara itu, amal yang bermanfaat sebagai obat kedengkian adalah dengan memaksakan diri untuk melakukan apa yang bertentangan dengan tuntutan kedengkian.

Al Ghazali memberi contoh yakni dengan berendah hati kepada orang yang didengki. Di antaranya, memujinya, menyanjungnya dan menampakkan kegembiraan atas nikmat yang diperolehnya.

Wallahu a’lam (Dikutip dari Syekh Jamaluddin al Qasimi dalam Saripati Ihya Ulumuddin Imam Al Ghazali).


Mempersiapkan Kota Ramah Lansia

Salah satu bentuk peradaban kota bagaimana memperlakukan warga lansia dengan penuh kasih sayang.

SELENGKAPNYA

WWA: Risiko Gelombang Panas 30 Kali Lipat

India mengalami paparan yang paling terik pada Maret sejak 1901.

SELENGKAPNYA

Pesan Spiritual Ujian

Setiap kita pasti pernah mengalami ujian, dengan kadar dan bentuk yang berbeda.

SELENGKAPNYA
×