Bantaran Sungai Yamuna di New Delhi, India, tampak kering pada 2 Mei lalu. Manish Swarup/AP | Manish Swarup/AP

Internasional

25 May 2022, 03:45 WIB

WWA: Risiko Gelombang Panas 30 Kali Lipat

India mengalami paparan yang paling terik pada Maret sejak 1901.

NEW DELHI -- Gelombang panas dahsyat yang telah membakar India dan Pakistan dalam beberapa bulan terakhir lebih mungkin disebabkan oleh perubahan iklim. Studi oleh sekelompok ilmuwan internasional pada Senin (23/5) menyatakan, kondisi ini menjadi gambaran sekilas tentang masa depan wilayah tersebut.

Kelompok World Weather Attribution (WAA) menganalisis data cuaca historis. Data itu menunjukkan, gelombang panas yang datang lebih awal serta lama yang berdampak pada kawasan yang luas adalah peristiwa jarang terjadi. Bahkan, peristiwa ini biasanya terjadi sekali dalam satu abad.

Namun, tingkat pemanasan global akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia telah membuat risiko gelombang panas naik 30 kali lipat.

Ilmuwan iklim di Institute of Technology di Mumbai, yang merupakan bagian dari penelitian, Arpita Mondal mengatakan, jika pemanasan global meningkat hingga 2 derajat Celcius lebih panas dari tingkat praindustri, gelombang panas seperti ini dapat terjadi dua kali dalam satu abad, bahkan hingga setiap lima tahun sekali.

"Ini adalah tanda dari hal-hal yang akan datang," katanya.

Sebuah analisis yang diterbitkan pekan lalu oleh Met Office Inggris mengatakan, risiko gelombang panas dapat 100 kali lipat diakibatkan perubahan iklim. Suhu terik seperti itu kemungkinan akan terulang kembali setiap tiga tahun.

Namun, laporan World Weather Attribution memiliki perhitungan berbeda saat memperhitungkan aspek-aspek dari gelombang panas, seperti berapa lama dan luas yang terkena dampak. Mereka menuding penyebabnya adalah pemanasan global.  

"Hasil sebenarnya mungkin di tengah-tengah antara (analisis) kami dan Met Office (Inggris), tentang seberapa jauh peran perubahan iklim dalam hal ini," kata ilmuwan iklim di Imperial College of London yang juga merupakan bagian dari penelitian ini, Friederike Otto.

Hal yang pasti adalah kehancuran yang ditimbulkan gelombang panas. India mengalami paparan yang paling terik pada Maret sejak pencatatan dimulai pada 1901. Sedangkan, pada April adalah rekor terpanas di Pakistan dan sebagian India.

Kota-kota di kedua negara itu mengalami suhu di atas 45 derajat Celsius dalam beberapa pekan terakhir. Di Pakistan, suhu terpanas mencapai di atas 50 derajat Celsius di sejumlah tempat termasuk Jacobabad dan Dadu. Sedangkan, sejumlah tempat di New Delhi, India, suhu mencapai 49 derajat Celsius pada bulan ini.

photo
Petani memanggul hasil panen di Jammu, India, Kamis (28/4/2022). Cuaca panas mengganggu hasil panen gandum tahun ini. - (AP/Channi Anand)

Efek panas yang meningkat ini telah mengalir dan meluas. Gletser pecah di Pakistan, kemudian menyebabkan banjir ke hilir.

Sedangkan, musim panas yang datang lebih dini membakar tanaman gandum di India. Ini memaksa India menutup keran ekspor ke negara-negara yang terguncang karena kekurangan pangan akibat perang Rusia di Ukraina.

Kondisi itu juga mengakibatkan lonjakan awal permintaan listrik di India yang menghabiskan cadangan batu bara, mengakibatkan kekurangan daya yang memengaruhi jutaan orang.

Kemudian, ada dampak bagi kesehatan manusia. Setidaknya 90 orang telah meninggal di kedua negara. Namun, pendataan kematian yang tidak memadai di kawasan itu kemungkinan melaporkan jumlah yang tidak pasti.

Beberapa kota di India yang telah mencoba mencari solusi. Kota Ahmedabad adalah yang pertama di Asia Selatan yang merancang rencana gelombang panas untuk populasinya yang sekitar 8,4 juta jiwa. Ini terjadi sejak 2013.

Rencana tersebut mencakup sistem peringatan dini untuk bersiap menghadapi gelombang panas. Ahmedabad juga telah mencoba untuk mendinginkan atap dengan bereksperimen berbagai bahan yang menyerap panas secara berbeda.

Salah satunya adalah membuat atap yang memantulkan sinar matahari dan menurunkan suhu dalam ruangan dengan menggunakan cat putih atau bahan yang lebih murah, seperti rumput kering.

Sumber : Associated Press


Tiga Besar Tercapai

Peringkat tiga besar SEA Games dicapai dengan kontingen yang lebih ramping.

SELENGKAPNYA

Mitigasi Krisis Pangan

Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula.

SELENGKAPNYA

Oksigen Persaudaraan

Ajaran agama telah mengajarkan perlunya silaturahim.

SELENGKAPNYA
×