Seorang lansia berjalan menuju Halte Transjakarta Tosari, Jakarta, Senin (7/2/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Opini

25 May 2022, 03:45 WIB

Mempersiapkan Kota Ramah Lansia

Salah satu bentuk peradaban kota bagaimana memperlakukan warga lansia dengan penuh kasih sayang.

NIRWONO JOGA, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Setiap 29 Mei, biasanya diperingati hari lanjut usia nasional sebagai bentuk apresiasi, penghormatan, dan kepedulian masyarakat untuk memuliakan warga senior/senja/lanjut usia (lansia). Para orang tua kita.

Kita semua pasti akan menjadi tua, tapi tahukah Anda jika kota-kota kita tidak pernah disiapkan untuk menyambut warga senja?

Perhatikan bagaimana fasilitas publik, sarana prasarana kota, sistem transportasi publik hingga bangunan rumah tempat tinggal Anda bisa dikatakan belum/tidak menyesuaikan dengan kebutuhan kelompok lansia yang membutuhkan persyaratan khusus.

Lalu, langkah apa yang harus dilakukan? Pertama, seiring dengan bertambah usia, seluruh organ tubuh kita turut menurun (degenerasi kesehatan) sehingga memiliki keterbatasan dan pembatasan terhadap seluruh aktivitas hidup yang membutuhkan penyesuaian diri.

 

 
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2021), salah satu bentuk peradaban kota ialah dilihat dari cara masyarakat memperlakukan warga lansia dengan penuh kasih sayang.
 
 

 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2021), salah satu bentuk peradaban kota ialah dilihat dari cara masyarakat memperlakukan warga lansia dengan penuh kasih sayang.

Secara global, jumlah penduduk lansia yang berusia 65 tahun ke atas sebesar 703 juta jiwa (2019) dan diprediksi akan bertambah dua kali lipat mencapai 1,5 miliar jiwa pada 2050 (UNIDOP, 2021).

Sementara, jumlah penduduk lansia di Indonesia sebanyak 26,82 juta jiwa (9,92 persen) dari 270,2 juta jiwa. Dengan komposisi, lansia laki-laki 47,71 persen dan lansia perempuan 52,29 persen (Badan Pusat Statistik/BPS, 2020).

Kedua, angka proyeksi jumlah penduduk lansia akan terus meningkat dari 26,82 juta jiwa (9,92 persen, 2020), 42,0 juta jiwa (13,82 persen, 2030), 48,2 juta jiwa (15,77 persen, 2035), 63,3 juta jiwa (19,80 persen, 2045) (BPS, 2020).

Hal tersebut seiring dengan meningkatnya taraf hidup, kualitas kesehatan, pertambahan penduduk, kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan usia harapan hidup.

Penambahan jumlah penduduk lansia diikuti peningkatan rasio ketergantungan lansia terhadap penduduk produktif. Rasio ketergantungan penduduk lansia Indonesia sebesar 15,54 persen (BPS, 2020).

 

 
Sementara, jumlah penduduk lansia di Indonesia sebanyak 26,82 juta jiwa (9,92 persen) dari 270,2 juta jiwa. 
 
 

Itu artinya, setiap 100 orang penduduk usia produktif berusia 15-59 tahun harus menanggung 15 orang lansia. Isu ketergantungan warga lansia sangat dipengaruhi tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, kesehatan adalah hal terpenting bagi warga senior kota maupun desa. Mereka masih mengalami keluhan kesehatan fisik maupun psikis sebesar 48,14 persen. Kelompok lansia yang sakit mencapai 24,35 persen (BPS, 2020).

Fasilitas kesehatan dan tenaga medis khusus lansia harus memadai, fasilitas publik harus ramah lansia, hingga bangunan rumah dan gedung publik harus memenuhi syarat sesuai kebutuhan lansia.

Mereka harus mendapatkan cukup asupan gizi (minum air sesuai kebutuhan harian), cukup aktivitas fisik (olahraga ringan di pagi hari secara rutin di ruang terbuka sambil berjemur), cukup tidur (kualitas dan kuantitas 6-8 jam per hari), cukup persediaan (ketersediaan obat-obatan rutin, vitamin, barang kebutuhan sehari-hari), serta cukup perhatian (keluarga terdekat, tetangga sekitar).

Keempat, jumlah penduduk lansia yang bekerja terus meningkat dari 46,53 persen (2015), 47,37 persen (2016), 47,92 persen (2017), dan 49,79 persen (2018) (Statistik Penduduk Lansia 2018, BPS, 2019).

 

 
Pemerintah harus memberikan akses seluasnya kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan formal setinggi-tingginya sebagai bekal bekerja untuk menabung mempersiapkan hari tua dengan lebih baik.
 
 

 

Lapangan usaha penduduk lansia yang bekerja menurut tipe daerah yakni di perkotaan sektor pertanian 30,58 persen, industri 19,01 persen, jasa 50,41 persen. Di perdesaan, sektor petanian 73,31 persen, industri 11,35 persen, jasa 15,34 persen.

Di perkotaan dan perdesaan, sektor petanian 54,23 persen, industri 14,77 persen, jasa 31,01 persen. Status pekerjaan utama penduduk lansia yakni berusaha dibantu buruh 39,07 persen, berusaha sendiri 28,16 persen, pekerja keluarga/tidak dibayar 12,26 persen, buruh/karyawan 10,54 persen, serta pekerja bebas 9,97 persen.

Pemerintah harus memberikan akses seluasnya kepada seluruh masyarakat untuk mengenyam pendidikan formal setinggi-tingginya sebagai bekal bekerja untuk menabung mempersiapkan hari tua dengan lebih baik.

Kelompok senior di perkotaan yang mengenyam pendidikan formal lebih tinggi, melewatkan masa produktif dengan bekerja di tempat yang mampu memberi jaminan masa senja lebih baik.

 
Isu ketergantungan warga lansia sangat dipengaruhi tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
 
 

Kelima, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat memberikan kemudahan dan keleluasaan warga lansia mendapatkan pendidikan di mana saja, dari mana saja, dan kapan saja. Kelompok senja ini diajak melek informasi dan teknologi digital menggunakan telepon genggam cerdas, sabak elektronik, maupun komputer jinjing. 

Layanan digital kesehatan memudahkan warga senior mengakses langsung fasilitas kesehatan lansia terpadu (puskesmas, klinik kesehatan, rumah sakit, laboratorium, apotek), konsultasi medis dan pemesanan obat daring 24 jam, layanan tenaga medis dan paramedis yang dibekali pemahaman terkait gerontologi dan geriatri, hingga jadwal kunjungan berkala tenaga medis ke rumah lansia atau panti jompo.

Kemudahan ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mewujudkan kelanjutusiaan sehat di era digital pascapandemi sembari menikmati kehidupan senja di kota senja. 


Memperkuat Dewan HAM

Sejak dibentuk, efektivitas Dewan HAM belum signifikan. Namun, cukup menjanjikan untuk mendorong pelaksanaan HAM lebih baik.

SELENGKAPNYA

Mitigasi Krisis Pangan

Beberapa negara berpotensi menghadapi kelaparan panjang jika ekspor Ukraina tak seperti semula.

SELENGKAPNYA

Oksigen Persaudaraan

Ajaran agama telah mengajarkan perlunya silaturahim.

SELENGKAPNYA
×