Jenazah almarhumah adik kandung Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Nyai Lily Khodijah Wahid, diangkat untuk dimakamkan di komplek pemakaman Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Selasa (10/5/2022). | ANTARA FOTO/Syaiful Arief

Silaturahim

26 May 2022, 06:28 WIB

Mati dalam Keadaan Fitrah

Dari Allah fitrah dan hendaknya kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah. Bersih semua.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Ajal setiap makhluk telah ditetapkan Allah SWT. Tidak ada satu pun yang dapat mengelak dari ajal ketika telah datang waktunya.

Dai yang juga ketua Bidang Dakwah Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Islam (Persis) KH Zae Nandang mengatakan, sebagaimana dalam QS al-An'am ayat 2 bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah. Setelahnya, Allah menentukan ajalnya. 

Hanya Allah yang mengetahui tentang ajal manusia. Akan tetapi, banyak di antara kita yang justru meragukan akan kematian dan hari akhir. Padahal, mau tidak mau, manusia pasti kembali kepada Allah SWT. Yang menjadi persoalan, menurut Kiai Zae, manusia harus kembali dalam keadaan fitrah sebagaimana asal mula penciptaannya.

 
Hanya Allah yang mengetahui tentang ajal manusia. Akan tetapi, banyak di antara kita yang justru meragukan akan kematian dan hari akhir.
 
 

 

"Hanya yang jadi catatan adalah semua manusia lahir dalam keadaan fitrah. Dan nanti kembali mesti fitrah. Itu masalahnya. Awalnya fitrah akhirnya mesti fitrah. Dari Allah fitrah dan hendaknya kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah. Bersih semua," kata Kiai Zae dalam kajian PP Persis yang juga disiarkan virtual beberapa hari lalu.

Kiai Zae menjelaskan, tidak ada manusia yang dilahirkan dalam keadaan berdosa. Orang tua dan lingkungannya memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang seseorang termasuk dalam persoalan akidah.

Karena itu, Islam mengajarkan agar anak sudah didekatkan kepada Allah SWT sejak dini. Kiai Zae mengatakan, manusia diawali dari fitrah. Dalam perjalanan hidup, setiap manusia terkena kotoran, yakni dosa yang merusak kesuciannya. Dosa itu memengaruhi jiwa, pikiran dan amal perbuatan manusia dalam perjalanan hidupnya.

photo
Di hari kedua Idul Fitri 1443 H, peziarah dari berbagai wilayah di Kota Bandung terus berdatangan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) khusus Covid-19 Cikadut, Kota Bandung, Selasa (3/5). Menurut petugas pemakaman, hingga hari ke tiga setelah Lebaran, suasana TPU Covid-19 yang cukup luas itu biasanya masih ramai oleh peziarah. - (Edi Yusuf/Republika)

Kiai Zae mengatakan, setiap manusia memang tak bisa luput dari perbuatan dosa. Bisa jadi seseorang dapat terhindar dari dosa-dosa besar dalam perjalan hidupnya, tapi akan sulit untuk terhindar dari dosa-dosa kecil.

Sebab itu, Kiai Zae mengatakan, sebagai manusia biasa tidak patut mengakui suci di hadapan orang lain. Orang yang merasa dirinya paling suci dibandingkan dengan orang lain menandakan adanya kesombongan dalam dirinya dan tidak pernah beristighfar kepada Allah. 

Kiai Zae mengatakan, Allah SWT  akan membalas setiap perbuatan yang dikerjakan manusia selama hidup di dunia. Allah membalas kepada orang yang berbuat baik dengan surga.

Allah memberi balasan kepada orang yang melakukan perbuatan dosa dengan neraka. "Allah sangat sayang kepada hamba-Nya supaya kembali dalam keadaan fitrah semuanya. Dan orang yang kembali dalam keadaan fitrah, Allah siapkan surga. Dan surga itu suci, tidak layak ditempati oleh yang kotor.  Makanya diusahakan dari sekarang supaya bersih, mudah-mudahan nanti di hadapan Allah ada kesalahan diampuni," kata dia.

Kiai Zae mengatakan, Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk membacakan ayat-ayat Allah. Ayat-ayat itu yang akan membersihkan atau menyucikan nafsiyah, badaniyah, dan maliyah manusia.

Karena itu, untuk mencapai kesucian jiwa harus mengikuti petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah SAW. Kiai Zae mencontohkan sahabat Umar bin Khattab yang menjadi manusia mulia setelah bertobat dan membersihkan jiwanya dari setiap dosa-dosa serta mengikuti Allah dan Rasul-Nya. 

Kiai Zae pun berpendapat yang perlu dimulai untuk membersihkan jiwa adalah dengan membersihkan akidah, setelah itu memperbanyak istighfar dan mengikuti tuntutan Rasulullah. "Jadi, awalnya fitrah, usahakan kembali dalam keadaan fitrah. Dan yang fitrah layak menempati surga," kata dia.


Mengenali Sifat Dengki

Orang yang mendengki tak akan mendapatkan apa-apa kecuali cela dan hina

SELENGKAPNYA

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

SELENGKAPNYA
×