Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

07 May 2022, 03:45 WIB

Idul Fitri Adiluhung Budaya Bangsa

Islam tidak pernah “memformalkan” budaya silaturahim yang terbatas praktiknya hanya pada Lebaran.

OLEH SAEHUDIN MUD

Ada hal yang menarik setiap kali kita mencermati fenomena Idul Fitri di Tanah Air. Bukan hanya tradisi mudik yang selalu menghiasi wajah Lebaran, melainkan ada spirit yang lebih fundamental, yaitu tradisi saling mengunjungi dan saling berkirim makanan.

Secara historis, belum diketahui secara pasti kapan awal mula munculnya tradisi tersebut. Namun, tradisi itu selalu dilaksanakan pada setiap Lebaran. Spirit inti yang terkandung dalam tradisi di atas adalah bagian ajaran silaturahim yang merupakan dimensi doktrinal dari keagamaan Islam.

Agama Islam mengajarkan silaturahim, tapi tidak pernah “memformalkan” dalam bentuk budaya yang terbatas praktiknya hanya pada Lebaran saja. Artinya, budaya saling mengunjungi atau berkirim makanan bukanlah fardhu ‘ain yang mesti dilaksanakan pada saat Idul Fitri saja, tetapi boleh, bahkan dianjurkan, di luar itu.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi SAW, “Saling memberi hadiah kalian, karena sesungguhnya saling memberi hadiah itu bisa menghilangkan dendam dalam hati.” Bahkan, hadis yang lain menyebutkan, “Saling memberi hadiahlah di antara kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”

Tampaknya ada muatan-muatan filosofis di balik fenomena budaya silaturahim yang selalu menghiasi hari-hari Lebaran kita. Kebiasaan silaturahim mengindikasikan masih kuatnya ikatan sosial-kultural ketimuran di tengah masifikasi serbuan perilaku individualisme di tengah arus globalisasi modernistik ala  Barat yang cenderung tidak mendukung pola budaya “kumpul-kumpul dengan tetangga”.

Berdasarkan pandangan kultural-filosofis, kebiasaan silaturahim tidak sekadar tuntutan keagamaan atau hasrat berupa kerinduan hati pada kampung halaman dan keinginan untuk bertemu, bertatap muka, dan berkumpul dengan para kerabat atau tetangga, tetapi lebih mengindikasikan masih tegaknya eksistensi unsur-unsur tradisi yang selama ini dipraktikkan masyarakat kita.

 
Idul Fitri dimaknai sebagai kembali ke fitrah, kembali ke kesucian, keaslian, dan kemurnian.
 
 

Idul Fitri dimaknai sebagai kembali ke fitrah, kembali ke kesucian, keaslian, dan kemurnian. Maka, dalam pandangan kultural, fenomena Idul Fitri harus dipahami sebagai momentum kembali ke akar-akar budaya bangsa dan kembali berpijak pada unsur-unsur asli kefitrahan tradisi luhur bangsa kita yang hari ini sedang terkikis.

Idul Fitri kita maknai sebagai representasi usaha keluar dari krisis nasionalisme dan krisis kebudayaan seraya menegaskan kembali kepada komitmen kultural dalam diri kita masing-masing. Untuk itu, momen Idul Fitri harus kita jadikan sebagai tangga awal untuk membangun kembali nasionalisme integral yang saat ini meredup!

Wallahu a'lam.


Distopia atau Utopia

Sepertinya, ramalan masa depan pada dunia fiksi, lebih banyak menggambarkan kehancuran daripada kesejahteraan umat manusia.

SELENGKAPNYA

WHO: Kematian Terkait Covid-19 Capai 14,9 Juta Jiwa

Jumlah kematian yang sebenarnya hampir tiga kali lipat yang dilaporkan pada saat itu.

SELENGKAPNYA

Puluhan Juta Ton Biji-bijian Tertahan di Ukraina

Menurut Guterres, perang di Ukraina memberi tekanan lebih besar kepada negara berkembang.

SELENGKAPNYA
×