Warga berjalan melintasi apartemen yang hancur dimombardir di Kramatorsk, Ukraina, Kamis (5/5/2022). | AP/Andriy Andriyenko

Internasional

07 May 2022, 03:45 WIB

Puluhan Juta Ton Biji-bijian Tertahan di Ukraina

Menurut Guterres, perang di Ukraina memberi tekanan lebih besar kepada negara berkembang.

JENEWA -- Hampir 25 juta ton biji-bijian tertahan di Ukraina dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan negara lain. Pada Jumat (6/5), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengatakan, penyebabnya adalah hambatan infrastruktur dan blokade pelabuhan Laut Hitam termasuk Mariupol.

Menurut FAO, hambatan-hambatan itu dipandang sebagai faktor penyebab di balik kenaikan harga pangan global pada Maret lalu. Harga kemudian berangsur sedikit landai pada April.

Ukraina adalah pengekspor terbesar nomor empat untuk jagung pada 2020-2021. Negara itu pengekspor terbesar nomor enam untuk gandum.

"Situasi ini nyaris mengerikan karena saat ini ada hampir 25 juta ton biji-bijian yang seharusnya bisa diekspor namun tidak bisa keluar dari negara tersebut karena masalah infrastruktur, blokade di pelabuhan," kata Deputi Direktur Divisi Pasar, dan Perdagangan FAO Josef Schmidhuber, Jumat.

Karena pasokan yang tidak diekspor, lumbung penyimpanan diperkirakan penuh. Para petani Ukraina bahkan diperkirakan bakal kekurangan tempat penyimpanan untuk panen pada Juli dan Agustus.

"Meski perang, panen tidak seburuk yang diperkirakan. Artinya, bakal ada kekurangan tempat penyimpanan di Ukraina, khusus juga tidak ada koridor gandum yang dibuka untuk memungkinkan ekspor dari Ukraina," kata Schmidhuber.

Sejak Rusia melakukan serangan ke Ukraina mulai 24 Februari, Ukraina dipaksa mengekspor biji-bijian dengan kereta. Ekspor ini dilakukan melalui perbatasan di wilayah barat atau pelabuhan di Sungai Danube.

Awal pekan ini, Kepala World Trade Organization (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala mengaku, amat khawatir tentang harga pangan yang melejit. WTO terus mencari jalan keluar bersama mitra-mitra lain.

"Tentu amat membantu dunia jika kita bisa mengevakuasi biji-bijian (dari Ukraina)," katanya. "Ada risiko serius bahwa harga pangan terus naik dan melejit tak terjangkau, yang bisa menyebabkan lebih banyak kasus kelaparan."

Desakan Guterres

Dalam perkembangan berbeda, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, PBB sedang menggelar operasi ketiga untuk mengevakuasi warga sipil dari Kota Mariupol dan pabrik baja Azovstal yang dikepung. Sementara Rusia menuduh Barat memicu perang ekonomi dunia.

Dalam dua operasi selama satu pekan terakhir, PBB dan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) telah membantu hampir 500 warga sipil keluar dari daerah yang dikepung pasukan Rusia.

"Saya berharap koordinasi lebih lanjut dengan Moskow dan Kiev akan mengarah pada lebih banyak jeda kemanusiaan untuk membiarkan warga sipil lewat dan bantuan sampai kepada pihak yang paling membutuhkan, kami harus terus melakukan semua yang dapat kami lakukan untuk mengeluarkan orang-orang dari neraka itu," katanya, Kamis (5/5).

Guterres memperingatkan, perang di Ukraina memberi tekanan yang lebih besar kepada negara berkembang. "(Saya siap memfasilitasi perundingan) integrasi ulang produksi pertanian Ukraina dan produk pangan dan pupuk Rusia dan Belarusia ke pasar dunia, meski ada perang," katanya.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet mengatakan, mereka akan menyelamatkan nyawa setidaknya 50 warga sipil, mencegah 30-70 warga sipil terluka dan menjadi cacat. "Yang paling penting, gencatan senjata akan menunjukkan bahwa kengerian di Ukraina dapat dihentikan," kata Bachelet.

Bachelet mengatakan,  kantornya terus mendokumentasikan penahanan sewenang-wenang dan kemungkinan penghilangan paksa pejabat lokal, jurnalis, aktivis masyarakat sipil, pensiunan anggota angkatan bersenjata, dan kelompok bersenjata yang berafiliasi.

"Pada 4 Mei, kantor saya telah mendokumentasikan 180 kasus seperti itu, di mana lima korban akhirnya ditemukan tewas,” kata Bachelet. ';

One Way Arus Mudik Tol Trans Jawa Bisa 24 Jam

Puncak arus balik diprediksi masih akan terjadi hingga Ahad (6/5).

SELENGKAPNYA

Timnas Garuda Belum Padu 

Sebelum laga perdana kemarin, pelatih Shin Tae-yong sempat mengakui bahwa kualitas permainan Vietnam lebih baik.

SELENGKAPNYA

Distopia atau Utopia

Sepertinya, ramalan masa depan pada dunia fiksi, lebih banyak menggambarkan kehancuran daripada kesejahteraan umat manusia.

SELENGKAPNYA
×