Petugas pemikul jenazah beristirahat usai memakamkan jenazah pasien Covid-19 di TPU Cikadut, Mandalajati, Kota Bandung, Rabu (23/2/2022). Indonesia adalah salah satu negara dengan kematian terbanyak terkait Covid-19. | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Internasional

07 May 2022, 03:45 WIB

WHO: Kematian Terkait Covid-19 Capai 14,9 Juta Jiwa

Jumlah kematian yang sebenarnya hampir tiga kali lipat yang dilaporkan pada saat itu.

JENEWA -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, jumlah korban meninggal akibat Covid-19 tiga kali lebih banyak dari data resmi pemerintah. Pada laporannya yang dirilis Kamis (5/5) WHO mengatakan, angka kematian Covid-19 yang sebenarnya hingga akhir Januari 2021 mencapai 14,9 juta orang.

Sedangkan angka resmi kematian yang tercatat terkait Covid-19 dari Januari 2020 hingga Januari 2021 dan yang WHO laporan saat itu hanya sekitar lebih dari 5,4 juta. Artinya jumlah kematian yang sebenarnya hampir tiga kali lipat yang dilaporkan pada saat itu.

Kali ini, WHO memberikan data pandemi Covid-19 yang paling komprehensif hingga saat ini. Angka kematian WHO mencatat orang yang meninggal karena Covid-19 dan yang meninggal karena dampak pandemi. Termasuk di antara mereka adalah orang yang tidak mendapatkan akses kesehatan karena sistem kewalahan menghadapi gelombang pasien Covid-19.

Angka itu juga menghitung angka kematian yang dapat dihindari selama pandemi. Contohnya angka kecelakaan yang lebih rendah selama karantina total atau lockdown

Menurut WHO, angka itu jauh lebih tinggi dari angka pemerintah karena banyak negara yang datanya tidak memadai. WHO mengatakan. sebelum pandemi, enam dari 10 kematian di dunia tidak tercatat.

Laporan lain mengenai total kematian Covid-19 di seluruh dunia juga menyimpulkan angka sebenarnya jauh lebih tinggi dibanding yang dilaporkan. Contohnya sekitar 50 juta orang meninggal dunia selama pandemi flu Spanyol 1918 dan 36 juta orang meninggal akibat HIV sejak epidemi yang bermula pada 1980-an.

Asisten direktur jenderal data, analisa, dan pelaksanaan dampak WHO yang memimpin penghitungan data Samira Asma  mengatakan data merupakan "jantung kesehatan publik" yang dibutuhkan mengasesmen dan mempelajari apa yang terjadi selama pandemi. Ia meminta pemerintah di seluruh dunia memperbaiki datanya.

"Terlalu banyak yang tidak diketahui," katanya. 

Laporan India

Dalam laporannya WHO mengatakan, hingga saat hampir setengah total kematian Covid-19 di India tidak tercatat. Laporan itu memperkirakan, sekitar 4,7 juta orang di negara itu meninggal karena Covid-19 sebagian besar kematian terjadi selama gelombang bulan Mei dan Juni 2021.

Namun, data resmi kematian Covid-19 versi Pemerintah India jauh lebih rendah dari WHO yakni sekitar 480 ribu. WHO mengatakan belum memeriksa semua data baru yang disajikan India pekan ini.

India menolak angka yang disuguhkan WHO. Sehari sebelum WHO merilis laporannya, India lebih dulu mengungkapkan data kematian berikut beragam penyebabnya yang terjadi pada 2020.

Data WHO disusun para pakar-pakar internasional. Mereka mengumpulkan data selama berbulan-bulan, menggunakan informasi nasional dan lokal serta pemodelan statistik untuk memperkirakan total data yang tidak lengkap. Namun, India mengkritik metodologi WHO.

Sementara penghitungan independen lain juga memperkirakan angka kematian India jauh lebih tinggi dari data pemerintah. Termasuk laporan yang dipublikasikan di jurnal Science yang memperkirakan total kematian Covid-19 di India lebih dari tiga juta. 

Sumber : Reuters


One Way Arus Mudik Tol Trans Jawa Bisa 24 Jam

Puncak arus balik diprediksi masih akan terjadi hingga Ahad (6/5).

SELENGKAPNYA

Timnas Garuda Belum Padu 

Sebelum laga perdana kemarin, pelatih Shin Tae-yong sempat mengakui bahwa kualitas permainan Vietnam lebih baik.

SELENGKAPNYA

Puluhan Juta Ton Biji-bijian Tertahan di Ukraina

Menurut Guterres, perang di Ukraina memberi tekanan lebih besar kepada negara berkembang.

SELENGKAPNYA
×