Massa anti monarki, Republic, membawa poster penolakan di Westminster Abbey yang akan dilalui prosesi Penobatan Raja Charles III dan Ratu Camilla, di London, akhir pekan lalu. ( | Pool Reuters
Massa anti monarki, Republic, membawa poster penolakan di Westminster Abbey, rute yang akan dilalui prosesi Penobatan Raja Charles III dan Ratu Camilla, di London, akhir pekan lalu. ( | Pool Reuters
Massa anti monarki, Republic, membawa poster penolakan di rute yang akan dilalui prosesi Penobatan Raja Charles III dan Ratu Camilla, di London, akhir pekan lalu. ( | Pool AFP
Massa anti monarki, Republic, membawa poster penolakan di rute yang akan dilalui prosesi Penobatan Raja Charles III dan Ratu Camilla, di London, akhir pekan lalu.( (Antonio Olmos/Pool Photo via AP) | Pool The Observer
Massa anti monarki, Republic, membawa poster penolakan di rute yang akan dilalui prosesi Penobatan Raja Charles III dan Ratu Camilla, di London, akhir pekan lalu. (Sebastien Bozon/Pool via AP) | Pool AFP
Kereta yang membawa Permaisuri Camilla melintasi massa anti monarki, Republic, membawa poster penolakan di rute yang akan dilalui prosesi Penobatan Raja Charles III dan Ratu Camilla, di London, akhir pekan lalu. ( | Pool AP

Peristiwa

Demo Anti Monarki di Sela Penobatan Raja Charles III

Mereka berdiri di rute prosesi di pusat kota London dan mengangkat plakat bertuliskan "Not My King".

LONDON -- Di tengah kemeriahan penobatan Raja Charles III  ratusan demonstran berpakaian kuning berkumpul di antara 10 massa yang berbaris di rute prosesi di pusat kota London dan mengangkat plakat bertuliskan "Not My King". Penolakan terhadap sistem monarki dari terus mengemuka seiring dengan waktu.

Di media sosial, banyak yang membandingkan krisis biaya hidup Inggris dengan kemegahan dan arak-arakan kerajaan. Kendati demikian, pengunjuk rasa merupakan minoritas dibandingkan dengan puluhan ribu orang yang berkumpul untuk mendukung raja. Jajak pendapat menunjukkan dukungan untuk monarki menurun dan paling lemah di kalangan anak muda. Para aktivis Republik berharap Charles akan menjadi raja Inggris terakhir yang dinobatkan.

"Ini memiliki individu miliarder turun-temurun yang lahir dalam kekayaan dan hak istimewa yang pada dasarnya melambangkan ketidaksetaraan kekayaan dan kekuasaan dalam masyarakat kita," kata Clive Lewis, seorang anggota parlemen oposisi dari Partai Buruh.  

Di London, pengunjuk rasa mengatakan bahwa keluarga kerajaan tidak memiliki tempat dalam demokrasi konstitusional modern. Sebagian besar pengunjuk rasa anti-monarki berkumpul di Trafalgar Square di sebelah patung perunggu Raja Charles I.

Sejak Charles naik takhta menjadi raja September lalu, telah terjadi protes di sejumlah acara kerajaan.  Charles dicela di acara Hari Persemakmuran di Westminster Abbey pada Maret dan dilempar dengan telur ketika berkunjung di York pada November. Namun lemparan telur itu gagal mengenai Charles dan pelaku diamankan. Kematian ratu juga memicu kembali perdebatan di Australia, Jamaika, dan bagian lain Persemakmuran tentang perlunya mempertahankan Charles sebagai kepala negara mereka.

Pemerintah negara bagian New South Wales telah memutuskan tidak menyalakan layar di Gedung Opera Sydney ketika penobatan Raja Charles III menghemat anggaran. Di Inggris, jajak pendapat menunjukkan mayoritas masih menginginkan keluarga kerajaan, tetapi ada kecenderungan penurunan dukungan jangka panjang.

Sebuah jajak pendapat oleh YouGov bulan lalu menemukan 64 persen orang di Inggris mengatakan, mereka sedikit tertarik atau tidak tertarik pada penobatan. Di antara mereka yang tidak tertarik atau sedikit tertarik dengan penobatan Raja Charles III berusia antara 18 hingga 24 tahun, dengan jumlah yang naik menjadi 75 persen. 

Polisi pun menangkap pemimpin kelompok anti-monarki Republik dan 51 lainnya dalam penobatan Raja Charles III pada Sabtu (6/5/2023).  Kelompok Republik mengatakan, pemimpin mereka Graham Smith telah ditahan sebelum prosesi dimulai. Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan petugas polisi menyita plakat yang dibawa oleh pengunjuk rasa.

"Kami benar-benar memahami kekhawatiran publik setelah penangkapan yang kami lakukan pagi ini," kata Komandan Karen Findlay dari kepolisian Metropolitan London dalam sebuah pernyataan.

Republik telah bersumpah untuk melakukan protes terbesar terhadap raja Inggris dalam sejarah modern. Pengunjuk rasa meneriakkan cacian saat Raja Charles III dan Ratu Camilla berjalan ke Westminster Abbey, termasuk saat kebaktian disampaikan kepada publik dengan pengeras suara besar.

"Ini menjijikkan dan berlebihan. Itu juga sangat kontraproduktif oleh polisi karena semua yang dilakukannya adalah menciptakan publisitas besar-besaran bagi kami. Ini benar-benar gila," kata seorang pengunjuk ras, Kevin John (57 tahun) yang berasal dari Devon.

  ';