Pengurus remaja masjid Arriyadh menyemprotkan cairan disinfektan di area Masjid Arriyadh, Jakarta, Senin (21/12). Kegiatan tersebut rutin dilakukan setiap hari guna menjaga kebersihan dan kenyamanan saat melaksanakan shalat serta meminimalisir paparan vir | Republika/Thoudy Badai

Laporan Utama

Demi Generasi Z yang Berakhlak

Mereka tak lelah mengajak remaja ibu kota Jakarta agar mau datang dan beraktivitas di masjid.

Di tengah maraknya perilaku remaja yang mempertontonkan gaya hidup hedonis, materialis, bahkan menyimpang, ada sebagian dari kalangan muda justru terus bergerak demi membangun akhlak mereka yang disebut sebagai Generasi Z.

Apa yang dilakukan Remaja Islam Sunda Kelapa (Riska) salah satunya. Mereka tak lelah mengajak remaja ibu kota Jakarta agar mau datang dan beraktivitas di masjid.

Mereka membimbing Generasi Z dalam mengambil panutan (role model) yang tepat dalam kehidupan sesuai tuntunan agama. Menurut Ketua Riska, Kismanto di tengah pesatnya kemajuan dan arus informasi di dunia maya, Generasi Z dihadapkan pada tantangan dalam memilih panutan. "Persoalan lifestyle media sosial adalah yang dihadapi Gen Z. Mudahnya akses melihat kehidupan orang lain di medsos, akhirnya keluar kata insecure di dirinya. Karena setiap hari membandingkan dengan kehidupan orang lain," kata pemuda yang akrab disapa Akis.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by RISKA MENTENG (@riskamenteng)

Karena itu, RISKA ingin mengajak generasi Z tidak menghabiskan waktu dengan melihat media sosial. Melalui berbagai pendekatan seperti olahraga hingga kesenian yang diselenggarakan di lingkungan masjid, RISKA berupaya menggaet para remaja untuk aktif berkegiatan yang positif.

Menurut Akis, setelah para remaja nyaman dan terbiasa berkegiatan di lingkungan masjid, RISKA bisa mengajak mereka mengikuti pengajian untuk perbaikan dan peningkatan kualitas diri dalam beragama.

 
Persoalan lifestyle media sosial adalah yang dihadapi Gen Z. Mudahnya akses melihat kehidupan orang lain di medsos, akhirnya keluar kata insecure di dirinya.
KISMANTO Ketua Riska
 

Begitu juga, yang dilakukan Mahdi Xmuff yang tak lelah mengajak para generasi muda di kota Solo untuk melakukan berbagai amal kebaikan. Melalui komunitas Generasi Muda Indonesia, Mahdi merangkul para remaja dan kaum muda di Solo untuk menyalurkan hobi dan bakat mereka melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti komunitas sepak bola, komunitas kuliner, dan lainnya.

Ia pun aktif mengajak generasi Z menghadiri pengajian dan berdiskusi agar mereka dapat mengemukakan ide-idenya. "Persoalan yang saya amati (dari generasi Z) mungkin lebih kepada perilaku harian. Yang mana pergerakan Gen Z lebih dominan individual atau kelompoknya dengan kurang peka atau acuhnya terhadap lingkungan sekitar," kata Mahdi.

Mahdi menilai, generasi Z cenderung individual dan tak peduli terhadap lingkungan sekitar. Sebab itu, di antara misi utama berbagai kegiatan yang digalakkan komunitasnya adalah agar membangun empati generasi Z terhadap lingkungan sekitar.

Bagi Mahdi, Generasi Z harus menjalani hidup dengan berpedoman pada agama, menghormati dan patuh pada orang tua, dapat menghargai orang lain, serta mampu bijak menggunakan media sosial. Dia menjelaskan, medsos seharusnya bisa dijadikan alat untuk kemajuan agama dan bangsa.

Sementara itu, Ustaz Halim Ambiya aktif mengajak kaum muda untuk mengenal Allah SWT melalui komunitas yang didirikannya bernama Tasawuf Underground. Ustaz Halim mengatakan, tasawuf underground sangat concern mengusung program Pengenalan Peta Jalan Pulang, yakni memberi kesadaran rohani kepada seseorang, terutama para generasi muda agar tahu tujuan hidup dan mengenali dirinya yang kelak pasti akan kembali kepada Allah.

Melalui komunitas tersebut, ia berupaya menumbuhkan kesadaran sosial dan kemanusiaan bahwa mereka akan kembali kepada keluarga dan masyarakat. Ustaz Halim mengatakan, generasi Z cenderung memiliki daya juang menghadapi hidup lebih rendah dan rapuh dibanding generasi milenial atau generasi sebelumnya. Dia menjelaskan, generasi Z terbiasa hidup dengan budaya serbainstan dan kemudahan teknologi.

 
Akibatnya, generasi ini lebih rapuh secara psikologis dalam hubungan sosial dan keagamaan.
USTAZ HALIM AMBIYA Pendiri Tasawuf Underground
 

"Generasi Z cenderung menjadi pemalas, sebab mereka lahir di fase teknologi digital yang memanjakan mereka. Media sosial semakin membuat mereka berjarak secara emosional, sebab model interaksi sosialnya lebih banyak melalui online. Padahal, dalam komunikasi online, banyak sekali instrumen komunikasi dan emosi tak terwakili. Akibatnya, generasi ini lebih rapuh secara psikologis dalam hubungan sosial dan keagamaan," katanya.

Selain itu, ia mengatakan, generasi Z miskin dalam literasi. Menurut dia, budaya membaca generasi Z rendah. Akibatnya, nilai-nilai budaya, agama, kesenian, dan kebangsaan bergeser, karena penyerapan informasi pada Generasi Z begitu instan.

Ustaz Halim juga berpendapat bahwa banyaknya masalah sosial di kalangan generasi Z, seperti perkelahian, pelecehan adalah imbas dari kurangnya kontrol terhadap media sosial.

Dia menjelaskan, sudah terjadi pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat akibat media sosial. Menurut dia, pola komunikasi online terbilang amat kering secara sosial dan keagamaan. Karena itu, ruang dan jiwa yang mestinya berisi tentang simpati, empati, kepedulian, rasa hormat, dan nilai-nilai kemanusiaan kini terisi oleh tren yang terjadi di media sosial, seperti budaya hedonisme, materialisme, bullying, persaingan ekonomi, dan lainnya.

"Faktanya kita bisa lihat, mereka mudah tersulut emosi, pemarah, mudah gelisah dan stres, hingga melakukan kekerasan dan kenakalan remaja yang lain. Lalu, mencari kepuasan dan pelampiasan sesaat, melalui narkoba, psikotropika dan tergoda melakukan seks bebas," katanya.

Karena itu, dia menjelaskan, tasawuf underground para kaum remaja dan kaum muda didorong agar dapat bisa dan bisa mengontrol penggunaan gadget dan menumbuh kembangkan tradisi literasi. Ia pun mendorong agar kaum generasi Z dapat menyeimbangkan komunikasi online dan offline secara baik. Misalnya, dengan mengikuti kegiatan sosial dan keagamaan secara offline.

Dalam hal ini, Ustaz Halim mengatakan, peran orang tua dan guru sebagai teladan sangat penting. Karena, menurut dia, generasi Z membutuhkan teladan yang baik dari generasi sebelumnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Halim Ambiya (@tasawufunderground)

Joki Pantarlih Pemilu Bisa Dipidana Satu Tahun Penjara

DEEP menemukan 176 kasus joki pantarlih di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

SELENGKAPNYA

Kementerian: Kaji Ulang Sekolah Pukul 05.30

Kurang tidur bisa menurunkan imunitas anak-anak.

SELENGKAPNYA

Ekonomi, Hukum, dan Demokratisasi Politik

Demokrasi masih rawan, jika perkembangan ekonomi mengalami hambatan.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya