vp,,rm
Eduagen dan Otoritas Pendidik | Republika/Daan Yahya

Opini

Eduagen dan Otoritas Pendidik

Jika gelombang eduagen meluas, maka revitalisasi peran pendidik sangat diperlukan.

IBNU HAMAD, Ketua Lembaga Kajian Kurikulum dan Kebijakan Pendidikan UI 

 

Mesin pencari pengetahuan yang mampu mengobrol (chatting) dengan penggunanya kini hadir di tengah kita. Aplikasi ini begitu hidup dan responsif. Setiap ditanya suatu hal dengan cepat ia menjawabnya secara relatif lengkap dengan struktur dan bahasa mudah dipahami.

Kepadanya kita bisa minta penjelasan tema apa saja yang kita mau. Mencakup semua ilmu pengetahuan, teknologi, seni bahkan isu keagamaan. Kita juga bisa minta petunjuk cara melakukan suatu pekerjaan baik bersifat hard skill maupun soft skill.

Cara yang dijabarkannya tampak runut dan logis untuk dipraktikkan. Aplikasi ini bagian dari pemanfaatan artificial intelligence. Jika kita daya gunakan untuk kepentingan pendidikan, lahirlah fenomena eduagen, kependekan dari education by artifical intelligence.

Sebagaimana mesin pencarian lainnya, pemanfaatan aplikasi-aplikasi eduagen ini tidak mengenal batas ruang dan waktu. Kapan dan di manapun kita bisa mengoperasikannya. Pada setiap kesempatan kita bisa mengobrol dengannya sejauh ada koneksi internet.

 
Jika kita daya gunakan untuk kepentingan pendidikan, lahirlah fenomena eduagen, kependekan dari education by artifical intelligence.
 
 

Pendidikan vs pembelajaran

Bila eduagen ini terus merasuk ke semua jenis pendidikan, niscaya ia mampu menggantikan, setidaknya mengancam eksistensi lembaga pendidikan formal khususnya peran para pendidiknya, guru dan dosen, sebagai aktor transfer ilmu pengetahuan.

Untuk apa diperlukan guru dan dosen jika semua pengetahuan bisa ditanyakan kepada aplikasi pintar itu? Lalu, benarkah otoritas para pendidik bakal pudar karenanya?

Jawabannya tentulah tidak. Hal ini terpulang ke konsep pendidikan itu sendiri.

Kita maklumi, pendidikan adalah proses pendewasaan peserta didik melalui penanaman nilai-nilai. Sedangkan dalam eduagen lebih banyak terjadi proses pembelajaran yang berisi aktivitas berbagi pengetahuan. Untuk pembelajaran, harus diakui aplikasi-aplikasi eduagen bukan hanya efektif dan efisien tetapi juga masif dan demokratis.

 
Harus diakui aplikasi-aplikasi eduagen bukan hanya efektif dan efisien tetapi juga masif dan demokratis.
 
 

Dikatakan demikian karena melalui eduagen ini setiap orang tanpa dibedakan ras, suku bangsa, jenis kelamin, usia, maupun jenjang pendidikan bisa mendapatkan pengetahuan dengan topik belajar apapun sesuai keperluan masing-masing.

Namun, dalam hal nilai-nilai etis, sekalipun melalui obrolan itu kita bisa meminta nasihat darinya, wahana eduagen tidak bisa menggantikan peran pendidik dalam menanamkan dan mengawasi sikap dan perilaku peserta didik.

Sebaliknya aplikasi-aplikasi eduagen justru berpotensi menimbulkan sikap tidak jujur: bahwa jawaban soal dalam ujian atau uraian tugas tidak dipikirkan dan disusun sendiri oleh peserta didik melainkan disediakan oleh mesin pintar.

Karenaya sejumlah kalangan mengusulkan agar tugas dan ujian untuk siswa dan mahasiswa kembali dikerjakan dengan memakai kertas dan potlot/pulpen.

Dibandingkan pendahulunya yaitu edutainment, pembelajaran dalam eduagen jauh berbeda. Dalam edutainment proses pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan menghibur sambil tetap mengedepankan olah pikir, rasa, dan olah karya peserta didik.

Pendekatan menghibur dalam edutainment dimaksudkan agar ketiga jenis olah tersebut lebih cepat berproses dalam diri peserta didik tanpa beban psikologis. Sebaliknya dalam eduagen, triple olah itu bisa hilang dari diri peserta didik karena digantikan oleh aplikasi pintar.

Revitalisasi pendidik

Jika gelombang eduagen makin luas hingga ruang-ruang kelas di sekolah atau kampus, maka revitalisasi peran pendidik sangat diperlukan.

Sebagai pelaksana proses belajar dan mengajar (PBM), guru dan dosen tidak cukup hanya bertindak sebagai pengajar, melainkan mesti menjadi pendidik yang seutuhnya.

Di tangan pendidik, PBM tidak sebatas kegiatan memindahkan pengetahuan dan keterampilan tetapi proses pembentukan sikap etis di kalangan para peserta didik.

Sikap etis dimaksud di sini adalah kemampuan dan keberanian mengambil keputusan yang didasarkan atas pertimbangan nilai moral guna menghasilkan keputusan yang mengandung kebajikan setinggi-tingginya atau populer disebut summum bonum.

Di antaranya, keputusan bersifat memberikan sebesar-besar kebahagiaan kepada sebanyak-banyak manusia. Terkait hal tersebut, pengetahuan yang diperoleh melalui aplikasi eduagen dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Problem solving yang ditawarkan eduagen dapat menjadi bahan diskusi antara pendidik dan peserta didik dalam proses pengambilan keputusan yang berkategori summum bonum.

Untuk kepentingan revitalisasi pendidik, para pendidik harus terus menerus memperkuat diri dengan pengetahuan etika (meta ethics dan applied ethics), kemampuan berpikir kritis (critical thinking), dan keterampilan mengambil keputusan.

Hal demikian diperlukan agar selalu siap siaga berdialog dengan dan memberi solusi atas ragam dilema etis yang diajukan para peserta didik.

Semoga dengan melakukan langkah-langkah seperti itu kita selaku pendidik lebih siap menghadapi gelombang eduagen ini, bukan terempas karenanya melainkan justru mengambil manfaat darinya. Selamat menjadi pendidik bukan sebatas sebagai pengajar!

Pengembangan Energi Berbasis Riset

Sejumlah besar anggaran konsisten dialokasikan membiayai riset fusi nuklir dalam jangka panjang.

SELENGKAPNYA

Fasilitasi 'Kamar Berkah' Jamaah Pasutri di Tanah Suci

Setelah rukun haji selesai dan sudah tidak mengenakan pakaian ihram, maka tidak ada lagi larangan untuk melepas rindu.

SELENGKAPNYA

Tersangka Kasus Bakti Kominfo Bertambah

Kasus dugaan korupsi pembangunan BTS 4 BAKTI Kemenkominfo ini terkait uang senilai Rp 10 triliun.

SELENGKAPNYA