Seorang Pranata Nuklir melakukan pembuatan pelet dari serbuk uranium untuk dijadikan bahan bakar reaktor nuklir di kawasan Reaktor Nuklir Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (11/9/2019). Batan terus mencari dan mengembangkan kegunaan tenag | ANTARA FOTO

Opini

Pengembangan Energi Berbasis Riset

Sejumlah besar anggaran konsisten dialokasikan membiayai riset fusi nuklir dalam jangka panjang.

JUSUF IRIANTO, Guru Besar di Departemen Administrasi Publik FISIP Universitas Airlangga

 

Pengembangan energi nonfosil merupakan isu strategis seiring upaya konversi energi lebih bersih. Setidaknya ada dua faktor pendorong urgensi pengembangan menuju energi bersih dan terbarukan.

Selain energi berbahan fosil kian habis, konversi energi juga disebabkan penggunaan energi fosil berlebihan. Pada 2021, konsumsi energi fosil secara nasional mencapai 909,24 juta barel setara minyak (barrel oil equivalent/BOE) dan diperkirakan terus meningkat.

Angka tersebut mencakup konsumsi energi berasal dari listrik, batu bara, gas alam, LPG, bensin, solar, briket, biodiesel, biogas, dan biomassa. Kebutuhan konsumsi yang dipenuhi oleh energi berbahan fosil sangat besar, mencapai 94 persen.

Konsumsi energi fosil berlebihan memicu fenomena pemanasan global. Pemerintah berkomitmen mencegah kenaikan suhu tak melebihi dua derajat dengan menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030.

 
Pemanfaatan energi baru terbarukan konservasi energi (EBTKE) merupakan pilihan yang sangat rasional guna menghambat laju pemanasan global.
 
 

Secara praktis, pemerintah mengembangkan energi bersih nonfosil yang tak memiliki emisi besar. Pemanfaatan energi baru terbarukan konservasi energi (EBTKE) merupakan pilihan yang sangat rasional guna menghambat laju pemanasan global.

Pemerintah mengembangkan EBTKE berbasis riset berupa bioenergi dari kelapa, kelapa sawit, tebu, karet, jagung, padi, ubi kayu, bahkan sampah di perkotaan. Ada pula potensi energi yang diteliti berupa tenaga surya, angin, mikrohidro, bahkan nuklir seperti di negara maju.

Mengutip laman Voice of America (VOA), sejak 2014 para ilmuwan dari Amerika dan Eropa meneliti fusi nuklir. Tujuannya prospektif, menyediakan energi berlimpah, bersih, dan murah dengan proses yang aman hingga terlepas dari ketergantungan bahan bakar fosil.

Para ilmuwan tak menjamin fusi nuklir bebas dari kebocoran atau kejadian tak diinginkan tetapi yakin akan lebih aman daripada reaktor nuklir pembangkit listrik saat ini. Setidaknya, lebih aman dibandingkan reaktor nuklir yang pernah bocor di Rusia atau Jepang, misalnya.

Menurut para ahli, reaktor fusi nuklir tak dapat meledak karena tak mengandung radioaktif sebagai bahan bakar. Dalam jangka panjang, fusi nuklir dapat diandalkan sebagai sumber energi tak terbatas dan bebas limbah radioaktif sehingga ideal menjadi sumber energi.

Cara kerja proses fusi semula butuh kondisi hampir sama dengan permukaan matahari. Saat fusi dimulai, reaktor menghasilkan panas berjumlah besar menciptakan uap dan mampu menjalankan turbin generator listrik.

 
Ilmuwan nuklir bereksperimen menggunakan beragam metode untuk memulai fusi.
 
 

Ilmuwan nuklir bereksperimen menggunakan beragam metode untuk memulai fusi. Salah satunya, menggunakan magnet melekatkan plasma panas berada di tempatnya. Ada  metode lain, yakni memasukkan arus listrik ke plasma menciptakan daya magnetik lebih kuat.

Selama puluhan tahun, ilmuwan melakukan riset reaksi fusi tetapi belum mampu menghasilkan energi lebih besar daripada yang dikonsumsi. Ilmuwan menghadapi berbagai tantangan secara teknis maupun metode ilmiah yang digunakan.

Dengan kombinasi metode dan kerja keras, akhirnya jelang akhir tahun ini ditemukan cara mempertahankan arus listrik lebih efisien. Para ilmuwan energi fusi di Laboratorium Nasional Lawrence Livermore AS mengumumkan mampu mereproduksi kekuatan matahari.

Cara kerjanya menggunakan laser terbesar di dunia untuk menciptakan reaksi fusi meniru reaksi yang menggerakkan matahari dan bintang. Hasilnya berupa reaksi fusi mampu memproduksi lebih banyak energi, yakni sebesar 3,15 megajoule output energi fusi.

Pencapaian tersebut merupakan kemajuan sains dan teknologi dalam mengembangkan sumber baru energi bersih melimpah sekaligus memengaruhi lanskap suplai energi bersih secara global. Temuan tersebut juga memicu lebih banyak riset energi masa selanjutnya.

Berdasarkan hasil riset fusi nuklir, Pemerintah AS era Presiden Joe Biden mendorong investasi energi bersih yang butuh waktu panjang untuk penerapannya. Energi fusi nuklir butuh satu dekade atau lebih untuk riset lanjutan sebelum bisa digunakan secara praktis.

 
Energi fusi nuklir butuh satu dekade atau lebih untuk riset lanjutan sebelum bisa digunakan secara praktis.
 
 

Program riset fusi nuklir bagi AS awalnya sengaja dirancang untuk pemenuhan kebutuhan sejata nuklir bagi militer yang tak sekadar modern tetapi juga lebih efektif. Tujuan ini dilandasi asumsi, reaksi fusi nuklir dapat digunakan untuk menguji persenjataan tanpa ledakan tetapi efektif menghasilkan radioaktif guna melumpuhkan musuh.

Sejalan dengan kebutuhan energi lebih besar, tujuan riset fusi nuklir berubah haluan yang selanjutnya menjadi dasar kebijakan energi pemerintah AS. Tujuannya, menjawab tantangan pemenuhan energi nonfosil lebih ramah lingkungan.

Pemerintah AS berinvestasi besar untuk riset energi bersih dan terbarukan dalam jangka panjang dan memberi hasil sangat menakjubkan. Langkah terobosan para peneliti fusi nuklir sangat menjanjikan mampu memastikan pasokan sumber energi tak terbatas.

Komitmen Pemerintah AS atau berbagai negara maju lain dalam penyediaan energi bersih dan terbarukan bukan sekadar jargon atau lip service. Sejumlah besar anggaran konsisten dialokasikan membiayai riset fusi nuklir dalam jangka panjang.

Pemerintah negara maju juga yakin atas argumen ilmuwan dengan memproduksi energi fusi nuklir sejalan dengan upaya mewujudkan energi listrik dalam suatu jaringan tanpa jejak karbon dan radioaktif. Kebutuhan sumber daya pun lebih sedikit daripada yang dibutuhkan untuk menghasilkan energi yang memanfaatkan tenaga surya atau angin.

Tanpa mengabaikan manfaat fusi nuklir dalam konteks mengatasi dampak perubahan iklim, masa depan energi global ramah lingkungan optimistis diwujudkan berbasis riset. Energi murah terjangkau bagi semua lapisan masyarakat di semua negara.

Pemerintah Indonesia dapat belajar dari AS atau negara lain. Penyediaan energi bersih merupakan komitmen nyata dengan mengalokasikan anggaran untuk riset dan kebijakan yang konsisten. Energi terbarukan bukan jargon, apalagi komoditas politik.

Pembakaran Alquran Menjalar ke Belanda

Finlandia siap tinggalkan Swedia gabung NATO.

SELENGKAPNYA

Naiknya Biaya Haji dan Nilai Manfaat yang Terancam Habis

Masih ada diskusi lanjutan bersama DPR tentang persentase yang harus dibayar jamaah.

SELENGKAPNYA

Ramai-Ramai Menolak Perpanjangan Masa Jabatan Kades

Perpanjangan masa jabatan kades menjadi sembilan tahun dinilai memunculkan banyak mudarat.

SELENGKAPNYA