Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Lato-Lato dan Optimisme

Lato-lato mengembalikan optimisme bahwa dunia konvensional masih memiliki harapan.

OLEH ASMA NADIA

Sepintas mungkin terdengar aneh, apa hubungannya lato-lato dan optimisme? Akan saya jabarkan alasannya.

Beberapa pekan lalu, saya melihat anak kecil usia SD sedang membawa mainan berupa dua bola kecil plastik yang diikat tali. Mainan yang kini populer dengan sebutan lato-lato, bukan baru pertama saya lihat.

Dulu sekitar 1980-an, saat masih sekolah dasar, setahu saya tidak ada nama atau sebutan khusus. Mungkin kita hanya menyebut bola tektok saja.

Saya pernah mencoba, tetapi sama sekali tidak terbilang cakap atau mahir menggunakannya. Melihat mainan pada tangan anak tersebut saya tersenyum.

Senang mengetahui lato-lato yang dulu tidak pernah saya pikirkan apa kemanfaatannya ini muncul lagi. Mungkin karena dia membawa sepercik kenangan masa silam.

 
Senang mengetahui lato-lato yang dulu tidak pernah saya pikirkan apa kemanfaatannya ini muncul lagi.
 
 

Di luar perkiraan, ternyata beberapa hari kemudian lato-lato menjelma mainan paling viral seantero negeri. Dalam waktu singkat, nyaris semua anak ingin punya lato-lato.

Bahkan, putra kami yang aktivis mahasiswa sekalipun membeli lato-lato dan kini akrab di tangannya. Dunia seolah begitu lato-lato saat ini. Jika saya berjalan ke halaman, akan terdengar anak tetangga memainkan dua bola itu dari kediamannya.

Saat di kendaraan, makin ramai pedagang mendadak yang menjual lato-lato dengan lapak kecil di atas motor, sepanjang kanan dan kiri jalan. Entah mengapa, saya justru bahagia melihatnya.

Karena akhirnya ada mainan sungguhan, bukan app bukan digital, yang bisa membuat anak-anak bergerak meninggalkan gawai. Walau sejenak, bocah sampai mahasiswa setidaknya teralihkan dengan ponsel atau iPad mereka.

 
Walau sejenak, bocah sampai mahasiswa setidaknya teralihkan dengan ponsel atau iPad mereka.
 
 

Sayangnya, ketika kemudian makin viral dimainkan di mana-mana, mulai ada yang menyebarkan berita betapa berbahayanya lato-lato. Lalu menguraikan sejumlah penjelasan bahwa mainan tersebut dilarang sebab dianggap berbahaya di beberapa negara.

Tentu saja akhirnya lato-lato menuai kontroversi. Orang tua yang awalnya mendukung mulai melarang anak-anaknya. Beberapa pemerintah daerah atau sekolah lalu berpikir untuk melarang permainan ini.

Bunyinya dianggap mengganggu dan ada potensi bahaya bagi sekeliling atau yang memainkan jika dimainkan tanpa kesadaran baik akan ruang dan waktu.

Uniknya, tentang bunyi yang mengganggu, justru ada pasangan menikah yang menggantikan suara petasan dengan lato-lato. Ketika kedua mempelai lewat, anak-anak berbondong-bondong bersuka ria memainkan lato-lato dengan kecepatan tinggi hingga membuat bola beradu atas dan bawah. Terlihat semua bahagia.

 
Saat ini terlalu banyak orang tua yang mengeluhkan betapa anak-anak tidak bisa melepaskan perhatian mereka sekejap pun dari gawai.
 
 

Lalu, apa hubungannya dengan optimisme? Saat ini terlalu banyak orang tua yang mengeluhkan betapa anak-anak tidak bisa melepaskan perhatian mereka sekejap pun dari gawai. Begitu bergantung pada media sosial, gim, dan berbagai aplikasi.

Berbagai kegiatan juga melibatkan ponsel. Berpotret, mendengarkan musik, menonton televisi, dan lain-lain. Gawai, internet, medsos, dan gim daring, seolah tidak mungkin lagi dikalahkan oleh hal-hal konvensional. Namun, kini lato-lato hadir sebagai antitesisnya.

Lato-lato adalah bukti bahwa ketergantungan miliaran orang terhadap gawai tetap bisa dialihkan jika kita menemukan alat atau permainan yang tepat. Lato-lato bisa membuktikan, bukan mustahil ada permainan konvensional lain bisa muncul dan mengalahkan pesona gawai.

Sebagai sebuah kegiatan, lato-lato merupakan permainan fisik yang bermanfaat untuk kinestetik dan melatih koordinasi otak. Secara sosial, permainan lato-lato juga mendekatkan anak anak dengan orang tua dan teman-temannya.

 
Lato-lato adalah bukti bahwa ketergantungan miliaran orang terhadap gawai tetap bisa dialihkan jika kita menemukan alat atau permainan yang tepat.
 
 

Sebagian anak akan bangga karena bisa melakukan sesuatu yang mengungguli kebanyakan orang dewasa. Pada masa lalu, kita memiliki begitu banyak permainan tradisional yang bisa memenuhi kriteria di atas.

Permainan yang melatih kinestetik, koordinasi otak, membangun team work, dan berbagai hal yang dibutuhkan untuk perkembangan anak. Sebut saja tak benteng, main karet, congklak, tak umpet, takadal, galasin, kasti, dan lain-lain.

Sekalipun terlihat sederhana, semua permainan ini mensyaratkan keterampilan kinestetik, strategi, dan berbagai hal yang memicu kecerdasan intelektual dan emosional.

Jika lato-lato bisa kembali populer, saya mendadak optimistis kalau permainan tradisional lain, yang merupakan kekayaan tak benda bangsa, bisa saja kembali dan mencuri perhatian seperti lato-lato.

 
Sebagian anak akan bangga karena bisa melakukan sesuatu yang mengungguli kebanyakan orang dewasa.
 
 

Bagaimana dengan bahayanya? Tidak usah bicara lato-lato, semua mainan ada bahayanya. Main balok susun yang populer jelas aman, tapi bisa berbahaya jika ditelan. Kakaknya main balok susun, adik bayi bisa menelan balok plastiknya.

Naik sepeda atau main sepatu roda pun bisa jatuh. Bermain balon bisa saja tiba-tiba kaget karena meletus dan dan memicu kecelakaan.

Kembali ke berbagai permainan daring, tidak sedikit yang justru memiliki dampak tidak baik pada perkembangan kejiwaan anak.

Kalau khawatir cedera, pakaikan saja anak-anak kacamata sport agar tidak kena serpihan dan pastikan anak-anak tidak main berdekatan agar tidak membahayakan yang lain.

 
Bagaimana dengan bahayanya? Tidak usah bicara lato-lato, semua mainan ada bahayanya.
 
 

Pendeknya banyak yang lebih berbahaya, apa pun itu khususnya terkait anak yang masih kecil, pengawasan orang tua diperlukan. Ini saatnya orang tua pun bangun dari sihir gawai yang juga menyedot pandangan dan perhatian kita.

Pada sebagian orang berbagai atribut elektronik itu sangat mungkin lebih sering dipandangi daripada buah hati. Padahal mereka yang membuat keluarga sempurna dan merupakan harta paling berharga.

Saya pribadi masih menyimpan harap, fakta lato lato pecah cuma terjadi pada masa lalu karena teknologi yang kala itu mungkin kurang kualitasnya dibandingkan sekarang. Namun, karena sudah ada peringatan bahaya, kita harus lebih hati-hati.

Perhatikan kedua bola sebelum mengayunkannya. Begitu melihat ada bagian retak, berhenti memainkannya. Sebab kita tentu tidak harus menunggu sesuatu terjadi baru melarang, tetapi melarang sesuatu murni karena dorongan ketakutan semata, juga bukan pilihan tepat.

Terlepas berbagai kontroversinya, lato-lato mengembalikan optimisme bahwa dunia konvensional secara umum masih memiliki harapan dan peluang bersaing pada masa serbadigital ini.

Mainan konvensional, buku konvensional, koran konvensional, konser konvensional, dan berbagai hal konvensional masih punya kesempatan kembali berjaya. Insya Allah.

AS Kian Terbuka Soal Keberadaan UFO

Direktorat Intelijan Nasional AS umumkan 501 laporan UFO.

SELENGKAPNYA

Makan Dulu (Tanpa Tahu Harga), Baru Bayar

Ada beberapa rumah makan yang membolehkan makan dulu baru bayar. Apakah sah?

SELENGKAPNYA

Indahnya Shalat Malam

Nabi SAW pernah melaksanakan shalat malam sampai bengkak kakinya, sebagai bukti syukur kepada-Nya.

SELENGKAPNYA