Pendukung Maroko merayakan kemenangan mereka di Rabat, Maroko, Selasa (6/11/2022). | EPA-EFE/JALAL MORCHIDI

Kisah Mancanegara

Magis Maroko dan Pan Arabisme

Bolehlah kita bersepakat bahwa apa yang Maroko capai ini menjadi salah satu episode gerakan 'Pan Arabisme' yang melegenda itu.

OLEH RAHMAT FAJAR, FREDERIKUS BATA

 

Maroko menorehkan sejarah emas. Negara di Benua Afrika bagian utara tersebut menjadi tim Arab pertama yang lolos perempat final Piala Dunia. Jika berdasarkan benua, Maroko menjadi wakil Afrika keempat yang menembus fase tersebut. Mereka menyusul Kamerun (1990), Senegal (2002), serta Ghana (2010).

Keberhasilan Singa Atlas memulangkan Spanyol melalui drama adu penalti di Education City Stadium, Al Rayyan, pada Rabu (7/12) dini hari disambut sukacita para pemimpin dunia Arab. Pemimpin Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani yang menonton langsung pertandingan bersejarah itu mengacungkan jempol dan memegang bendera Maroko. Emir Tamim pun mengucapkan selamat untuk Maroko.

Ucapan selamat juga mengalir dari para pemimpin Arab. Penguasa Dubai Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati, Perdana Menteri Libya Abdulhamid al-Dbeibah, hingga Ulama Syiah Irak Moqtada al-Sadr, termasuk di antara mereka yang mengucapkan selamat kepada Maroko.

Bolehlah kita bersepakat bahwa apa yang Maroko capai ini menjadi salah satu episode gerakan 'Pan Arabisme' yang melegenda itu. 

Gerakan politik ini menyatukan wilayah Afrika Utara hingga Semenanjung Arab, utamanya pada dekade 1950-an sampai 1960-an. Gerakan yang condong pada sosialisme dan menjungkirbalikan kapitalisme dunia barat. Konteks politik nya bisa jadi sudah berubah jauh. Namun, kemenangan magis Maroko, Senegal, Ghana, melawan kekuatan Eropa ataupun kekuatan besar sepak bola lainnya bisa jadi cerminan semangat Pan Arabisme itu.

Di luar stadion di Doha, Qatar, penggemar Maroko yang tampak jauh melebihi jumlah orang Spanyol dengan lebih dari 44 ribu orang hadir meluapkan kegembiraan. “Saya tumbuh dengan menonton tim besar Spanyol, seperti Barcelona dan Madrid. Jadi, mengalahkan negara besar seperti Spanyol adalah kemenangan besar bagi Maroko,” kata warga Maroko Taha, Lahrougui, 23 (tahun), yang tinggal di Doha, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (7/12).

Ahmed Inoubli, pria berdarah setengah Tunisia, setengah Aljazair, tinggal di Doha dan menikah dengan seorang wanita Maroko meyakini akan ada kejutan. Dia optimistis, Singa Atlas akan terus melaju dalam gelaran dalam Piala Dunia 2022. “Kami memiliki tim Arab. Lihatlah para penggemar ini. Apakah menurut Anda mereka semua orang Maroko? Tidak, hanya orang Arab,” katanya sambil menunjuk ke arah kerumunan yang sangat gembira.

photo
Pemain Maroko melakukan sujud syukur selepas mengalahkan Spanyol dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2022 di Stadion Education City, Al-Rayyan, Qatar, Selasa (6/11/2022). - (AP Photo/Martin Meissner)

Optimisme juga diungkapkan Hazem al-Fayez, seorang warga Yordania. Ia yakin Maroko akan ‘berbicara banyak’ ke depan. “Ini adalah kemenangan bagi semua orang Arab, bukan hanya Maroko dan kegembiraannya, bahkan lebih besar karena dicapai di tanah Arab,” kata Hazem.

Mohamed Aly, seorang Mesir berusia 35 tahun, mengatakan, dia merasa gugup saat menonton pertandingan di Kairo. “Bermain di Qatar sangat membantu mereka, semua fan Arab mendukung mereka di sana,” katanya.

Mimpi Maroko

Dari 11 pemain Maroko yang diturunkan dari awal ketika mengalahkan Spanyol, hanya tiga pemain yang lahir di Maroko, yakni Nayef Aguerd, Azzedine Ounahi, dan Youssef En Nesyri. Ditambah dengan lima pemain yang datang dari bangku cadangan. Sisanya lahir di negara lain.

photo
Pemain Spanyol Marcos Llorente menghindari sapuan pemain Maroko Romain Saiss dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2022 di Stadion Education City, Al-Rayyan, Qatar, Selasa (6/11/2022). - (AP Photo/Martin Meissner)

Penjaga gawang Maroko yang menjadi pahlawan dalam babak adu penalti, Yassine Bounou, lahir di Montreal, Kanada. Sedangkan, gelandang Chelsea Hakim Ziyech lahir di Dronten, Belanda, dan bek sayap Achraf Hakimi lahir di Madrid, Spanyol. Namun, semangat mereka membela negara yang bukan tanah kelahirannya membuktikan mereka sungguh-sungguh membela Maroko.

Kejutan yang dipersembahkan Singa Atlas menunjukkan kepada dunia bahwa mereka bisa mengalahkan siapa pun sekalipun itu adalah mantan juara dunia. Hakimi dan kawan-kawan tampil percaya diri sejak babak penyisihan grup. Mengalahkan Belgia 2-0 dan Kanada 2-1 serta imbang tanpa gol melawan Kroasia dan terakhir menyingkirkan Spanyol pada fase gugur.

“Saya sangat bangga dengan para penggemar saya, orang-orang saya dan orang-orang Arab. Juga karena saya pikir ada orang Qatar di sini, mungkin orang Aljazair, orang Tunisia, orang Arab, dan orang Afrika,” kata pelatih Maroko, Walid Regragui, seusai pertandingan dikutip dari ESPN.

photo
Para pemain Maroko mengangkat pelatih Walid Regragui selepas mengalahkan Spanyol dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2022 di Stadion Education City, Al-Rayyan, Qatar, Selasa (6/11/2022). - (AP Photo/Abbie Parr)

Regragui mungkin tak akan menyangka bisa membawa Maroko melangkah sejauh ini mengingat ia baru tunjuk menggantikan Vahid Halilhodzic pada Agustus lalu atau hanya tiga bulan sebelum Piala Dunia berlangsung. Namun, dalam sebuah wawancara seusai memastikan lolos ke babak delapan besar, Regragui tetap berani bermimpi membawa timnya melangkah jauh.

Rupanya, sang arsitek menerima panggilan telepon dari Raja Maroko, Mohammed VI, setelah pertandingan. Baginya, ini bukan situasi biasa. Tak semua orang mendapatkan kesempatan tersebut. “Dia selalu menyemangati kami, dia memberi kami nasihat, dan meminta kami memberikan segalanya,” ujar Regragui menjelaskan pesan sang raja terhadap mereka. 

The Atlas Lions tak ingin berhenti. Mereka siap melangkah lebih jauh.

Kini, nama Regragui harum di Maroko setelah sukses lolos ke babak perempat final. Ia juga telah mengukir sejarahnya sendiri sebagai orang Afrika pertama yang melatih tim Afrika di perempat final Piala Dunia. Masih ditunggu kejutan apa yang akan diberikannya lagi.

Ada banyak pesan mencolok yang dibawa oleh timnas Maroko di Piala Dunia kali ini. Sujud syukur adalah selebrasi yang kerap dilakukan mereka pascapertandingan. Sebuah ekspresi keagamaan bagi umat Islam. Kemudian, pesan kemanusiaan tentang kebebasan Palestina juga tak luput dari kampanye mereka dari lapangan.

Mereka mengibarkan bendera Palestina saat merayakan kemenangan atas Spanyol sebagai dukungan atas saudara Muslim yang tertindas oleh Zionis. Kini, mereka tengah bersiap melanjutkan kisahnya di perempat final melawan Portugal. 

Menjaga Pemulihan di Tengah Ketidakpastian Global

APBN akan tetap berperan sebagai shock absorber di tengah potensi pelemahan ekonomi pada 2023.

SELENGKAPNYA

Bisnis Umrah, Akankah Berkilau Lagi?

Didorong motivasi ibadah yang kuat, minat berumrah diyakini akan terus meningkat.

SELENGKAPNYA

Meredam Dampak Guncangan Global

Cukupkah hanya dengan berhati-hati? Tentu saja tidak.

SELENGKAPNYA