Umat Islam berjalan keluar masjid usai melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (27/10/22). | ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga

Halaman 4

Bisnis Umrah, Akankah Berkilau Lagi?

Didorong motivasi ibadah yang kuat, minat berumrah diyakini akan terus meningkat.

OLEH FUJI PERMANA, ALI YUSUF

Pandemi Covid-19 menimbulkan petaka bagi banyak sekali lini kehidupan, tak terkecuali dalam hal usaha perjalanan umrah. Wabah virus yang menghantam seluruh dunia itu menghalangi masyarakat Muslim untuk beribadah umrah di Tanah Suci. Akibatnya, bisnis umrah pun lumpuh.

Namun, kini keadaan berubah. Pandemi Covid-19 sudah terkendali, dan Pemerintah Arab Saudi telah membuka kembali pintu lebar-lebar bagi jamaah umrah, termasuk dari Indonesia. Sejumlah kemudahan dan kelonggaran pun diberikan oleh Saudi, di antaranya tak lagi mewajibkan vaksinasi meningitis bagi jamaah umrah.

Pasca dibukanya pintu umrah, masyarakat Muslim Indonesia tidak dapat membendung kerinduan mereka untuk beribadah umrah. Sejalan dengan itu, bisnis umrah pun mulai menggeliat lagi. Akankah geliat usaha umrah ini berlanjut, bahkan mekar berkilau pada tahun 2023? Apakah ancaman inflasi dan resesi akan berpengaruh?

Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama (Kemenag), Nur Arifin menyampaikan, berkaitan dengan kebijakan umrah terkini dari Arab Saudi yang tidak mewajibkan vaksin meningitis, tentu ada dampak yang baik untuk masyarakat Indonesia. Semangat umrah akan semakin menguat karena kemudahan-kemudahan yang diberikan Arab Saudi.

photo
Jamaah umrah asal Indonesia berswafoto dengan latar belakang Jabal Rahmah di Makkah, Arab Saudi, Sabtu (3/12/2022). - (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

"Dan di 2023, Insya Allah jamaah umrah semakin banyak karena kemudahan-kemudahan semakin ditawarkan oleh Arab Saudi," kata Arifin kepada Republika, belum lama ini.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah menetapkan, vaksin meningitis tidak lagi menjadi syarat wajib bagi mereka yang akan berangkat ke Arab Saudi dengan visa umrah, tetapi masih diwajibkan untuk mereka yang menggunakan visa haji.

Ketetapan tersebut berdasarkan Surat Edaran (SE) Nomor HK.02.02/C.I/9325/2022 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Meningitis Bagi Jamaah Haji dan Umrah yang diterbitkan pada 11 November 2022.

Berkaitan dengan kebijakan tidak lagi diwajibkannya vaksin meningitis bagi jamaah umrah, Arifin mengingatkan, jamaah umrah Indonesia harus tetap hati-hati. Kalau jamaah meyakini dirinya sehat, maka tidak masalah memilih tidak vaksinasi meningitis.

Akan tetapi, bagi jamaah yang punya komorbid atau penyakit yang berisiko tinggi, tentu kesiapan lebih penting diutamakan. Artinya, mereka sebaiknya tetap melakukan vaksinasi meningitis.

"Karena kita harus tetap menjaga kemungkinan-kemungkinan potensi gangguan penyebaran virus dari berbagai negara, karena seperti meningitis disebarkan dari Sahara Afrika, tentu ketika umrah bertemu banyak orang termasuk dari Afrika maka pastikan posisi kesehatan kita siaga dan bisa menangkal berbagai virus yang ada di Arab Saudi," kata Arifin.

Inflasi dan resesi

Banyak ahli memprediksi, pada tahun 2023 dunia akan dihantam inflasi dan resesi. Bahkan Pemerintah Indonesia telah memperingatkan semua pihak tentang ancaman resesi global tersebut. Harapannya,  Indonesia lebih waspada terhadap kondisi pasar global.

Menurut Pengamat Ekonomi Syariah, Irfan Syauqi Beik, Indonesia pernah mengalami resesi saat pandemi Covid-19. Kala itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama empat triwulan, mulai triwulan kedua 2020 sampai dengan triwulan pertama 2021 negatif. Namun di tengah resesi saat itu, animo masyarakat tetap tinggi kala Saudi membuka kembali pintu umrah.

"Tahun 2023 diprediksi dunia akan mengalami resesi dan inflasi juga akan naik, tapi saya yakin, daya tahan perekonomian masyarakat kita jauh lebih kuat, apalagi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif di 2023," kata Irfan.

photo
Umat Islam memberi makan burung usai melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (27/10/22). - (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Sehubungan dengan itu, Irfan meyakini, didorong motivasi ibadah yang kuat, maka minat masyarakat Indonesia untuk berumrah akan terus meningkat. Sebab, ada banyak keutamaan ibadah umrah yang dicari serta diinginkan setiap jamaah.

"Jadi insya Allah dari sisi bisnis, umrah akan tetap bertahan karena motivasi ibadah dan kesempatan mendapatkan semua keutamaan ibadah umrah akan membuat masyarakat mengorbankan konsumsi barang dan jasa yang lain, dan mengalihkan sebagian hartanya untuk melaksanakan umrah," ujar Irfan.

Peneliti Haji dan Umrah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dadi Darmadi juga melihat, tahun 2023 merupakan tahun yang bagus untuk bisnis umrah. Ada beberapa alasan yang mendasari hal itu.

Pertama, Pemerintah Arab Saudi sudah banyak melakukan perubahan kebijakan, yang mempermudah jamaah umrah masuk ke Makkah dan Madinah. Bahkan Arab Saudi memberikan tambahan fasilitas seperti proses visa yang cepat, visa yang bisa berlaku lebih lama hingga 90 hari, dan lain sebagainya.

photo
Umat Islam berjalan keluar masjid usai melaksanakan ibadah Shalat Dzuhur di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (27/10/22). - (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Alasan kedua, lanjut dia, banyak calon jamaah yang rindu ingin segera ziarah ke Tanah Suci. Efek pandemi Covid-19 kemarin sungguh luar biasa dan melatih kesabaran para jamaah.

"Semoga tahun depan banyak kuota umrah yang dapat dimaksimalkan oleh PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) untuk memberangkatkan jamaah,’’ katanya.

Mengenai kebijakan jamaah umrah tidak wajib vaksin meningitis, Dadi mengatakan, kebijakan ini pastinya berdampak besar. Kebijakan ini sebetulnya lebih memudahkan pemerintah, PPIU, dan jamaah itu sendiri. Dengan begitu, mereka bisa lebih bersiap dan PPIU fokus memberikan pelayanan yang lebih bagus serta maksimal untuk jamaah.

"Tapi, sebaiknya tetap dalam koridor menjaga kesehatan dan keamanan para jamaah umrah, jangan sampai pelonggaran aturan vaksin dan kesehatan malah menimbulkan masalah baru, gangguan kesehatan dan sebagainya," kata Dadi mengingatkan.

photo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin meningitis kepada warga di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Bandung, Jalan Cikapayang, Kota Bandung, Kamis (29/9/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Bagaimana pun, kata dia, kesehatan para jamaah umrah itu penting, baik sebelum ke Tanah Suci dan selama di Tanah suci. Karena itu, Dadi menyarankan kepada Pemerintah Indonesia, perubahan apapun yang terjadi di Arab Saudi harus direspons dengan baik dan cepat namun hati-hati. Sebab, mungkin saja tidak semua yang ditawarkan Arab Saudi itu cocok dengan situasi dan kondisi di Indonesia.

"Untuk PPIU, hemat saya aturan yang berubah dan pelonggaran kebijakan kesehatan di Arab Saudi hendaknya dijadikan momentum untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja serta fokus pelayanan kepada jamaah yang lebih baik," ujar Dadi.

Optimisme di Tengah Ancaman Resesi

Optimistis. Begitulah kira-kira suasana hati para pelaku usaha (bisnis) umrah di Tanah Air dalam menyongsong hadirnya tahun 2023. Mereka optimistis, bisnis umrah mereka akan menggeliat bahkan berkilau lagi di tahun depan, seiring melandainya situasi pandemi Covid-19 dan beragam pelonggaran kebijakan dari Pemerintah Arab Saudi.

"Meski dibayang-bayangi resesi ekonomi dunia, namun kami yakin dan optimistis bahwa industri usaha perjalanan umrah hingga akhir tahun 2022 masih positif, bahkan cenderung terus meningkat. Hal ini dilihat dari terus meningkatnya volume jamaah umrah yang terbang ke Tanah Suci," kata Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI), Firman M Nur kepada Republika, belum lama ini.

Berdasarkan data dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, jumlah jamaah yang menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci pada periode 30 Juli-Oktober 2022 mencapai 1.267.490 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 317.200 di antaranya merupakan jamaah asal Indonesia.

Artinya, kata Firman, setiap bulan, Indonesia bisa memberangkatkan lebih dari 150 ribu jamaah. Padahal sebelum pandemi, pencapaian rata-rata per bulan hanya 100 ribu jamaah umrah.

Menurut Firman, ada sejumlah faktor yang mendorong peningkatan jumlah jamaah umrah tersebut. Di antaranya, ghirah (semangat) umat Islam Indonesia yang sangat tinggi untuk berumrah, setelah dua tahun ditutup akibat pandemi Covid-19.

Juga, terus melandainya kasus Covid-19 di dalam negeri maupun di Arab Saudi, yang kemudian berujung pada dicabutnya aturan protokol kesehatan (prokes). Faktor lainnya, Pemerintah Arab Saudi memperpanjang masa berlaku visa umrah dari 30 hari menjadi 90 hari.

"Tentu ini memberi angin segar bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah umrah," katanya.

photo
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berjabat tangan dengan Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi Tawfiq F Al Rabiah saat tiba untuk melakukan pertemuan di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Senin (24/10/2022). Pertemuan tersebut membahas terkait peningkatan kualitas layanan dan kemudahan dalam penyelenggaraan ibadah haji dan umrah bagi jemaah Indonesia. - (Prayogi/Republika.)

Bahkan dengan visa umrah ini, jamaah bisa mengunjungi tidak hanya dua Tanah Suci (Makkah dan Madinah), tapi juga seluruh wilayah Saudi. Hal ini semakin memacu semangat orang untuk jalan-jalan ke Arab Saudi dengan visa umrah.

Faktor berikutnya, lanjut Firman, yakni kebijakan Arab Saudi yang telah melonggarkan berbagai persyaratan kesehatan bagi jamaah umrah, mulai dari prokes pencegahan Covid-19 hingga dicabutnya syarat vaksinasi meningitis.

Hal lain yang juga mendukung iklim positif bisnis umrah yakni dibukanya bandara embarkasi umrah di sejumlah daerah. Terbaru, Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat kembali melayani penerbangan umrah.

"Paling tidak inilah yang membuat AMPHURI yakin bahwa ke depan usaha perjalanan umrah akan tumbuh positif, bahkan meningkat," ujar Firman.

Optimisme juga disuarakan Sekretaris Jenderal Afiliasi Mandiri Penyelenggaraan Umrah Haji (AMPUH), Tri Winarto. Menurut dia, bisnis umrah di tahun 2023 akan cerah dan terus tumbuh. Hal ini bisa dilihat dari jumlah jamaah umrah yang terus meningkat pasca pandemi Covid-19.

"Menurut Dirbina (Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag) saat pembukaan Rakernas AMPUH kemarin, jumlah jamaah umrah Indonesia tahun ini saja saat musim belum berakhir sejak dibuka tanggal 12 Januari sudah mencapai 900 ribu lebih," katanya.

Angka itu, menurut Tri, melebihi jumlah jamaah umrah Pakistan. Tak lama lagi, kata dia, jumlah jamaah umrah Indonesia bisa tembus satu juta orang. "Jadi animo masyarakat memang luar biasa untuk umrah," ujarnya.

photo
Sejumlah calon jamaah haji dan umrah memakai kain ihram saat melaksanakan manasik haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin (23/5/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Tri berpandangan, ada dua faktor utama yang mendorong geliat bisnis umrah saat ini. Pertama, membaiknya situasi pandemi Covid-19. Kedua, adanya pelonggaran kebijakan umrah dari Pemerintah Saudi. "Seperti dibebaskannya vaksinasi Covid-19 dan vaksinasi meningitis," katanya.

Dua faktor itu, menurut dia, menjadi angin segar bagi iklim bisnis umrah di Indonesia.

Sementara, Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi), Syam Resfiadi mengatakan, bisnis umrah di tahun 2023  belum bisa dipastikan stabil. Meski demikian, dia optimistis, akan ada jalan keluar untuk mengatasi permasalahan yang menimpa bisnis umrah ini.

"Insya Allah kita optimistis, semua ada kemudahan di balik kesulitan dan itu sudah sunnatullah," ucap dia.

MUI: Penentuan Halal Dilakukan Ahli Agama

Rakornas Komisi Fatwa juga menjadi ajang konsolidasi untuk penguatan internal Komisi Fatwa MUI.

SELENGKAPNYA

Baznas Dorong Aturan Wajib Zakat

Pewajiban zakat diharapkan mengatasi berbagai persoalan seperti kemiskinan ekstrem.

SELENGKAPNYA

Tip untuk Ojek Online

Ojek online juga harus tetap profesional melakukan tugasnya melayani semua penumpang.

SELENGKAPNYA