Pria Palestina menggiling gandum pada musim panen di pertanian di Khan Younis. Jalur Gaza, Sabtu (21/6/2022). | REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

Opini

Multilateralisme Ekonomi Halal Intra-OKI

Meningkatkan kolaborasi perdagangan intra-OKI adalah kunci agar kawasan ini menjadi lebih tangguh.

IRVAN MAULANA, Anggota Masyarakat Ekonomi Syariah DKI Jakarta

Terlepas dari semua peristiwa geopolitik dan tantangan ekonomi tahun 2023, ekonomi halal global tetap menghadirkan peluang yang menjanjikan bagi negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Ini tak lepas dari kian populernya produk dan layanan halal di seantero dunia.

Namun, peluang besar ekosistem ekonomi halal relatif belum dimanfaatkan negara OKI. Sebagian besar negara OKI masih memiliki masalah ketahanan pangan dan investasi terbatas dalam rantai nilai makanan halal, untuk melindungi ketersediaan dan akses pangan halal.

Hal ini menyebabkan sebagian besar negara anggota OKI bergantung pada impor untuk semua sektor produk kecuali fesyen. Sektor makanan memiliki defisit perdagangan terbesar.

Ketergantungan impor pada makanan dan minuman berdampak negatif terhadap ketahanan pangan. Pandemi Covid-19, konflik Ukraina, perubahan iklim, serta ancaman resesi ikut memperburuk masalah ketahanan pangan dan kemiskinan.

 
Ketergantungan impor pada makanan dan minuman berdampak negatif terhadap ketahanan pangan.
 
 

Laporan tahunan OIC Halal Economy Report 2022 mengungkapkan, negara-negara anggota OKI mencatat defisit perdagangan 63 miliar dolar AS untuk produk ekonomi halal pada 2021. Meliputi makanan, fesyen, farmasi, dan kosmetik dengan total ekspor tercatat 275 miliar dolar AS dan impor 338 dolar AS miliar.

Dari total impor tersebut, hanya 18 persen impor yang berasal dari negara OKI. Sementara itu, hanya tiga negara OKI yang masuk dalam 20 besar pengekspor produk ekonomi halal, yaitu Turki, Indonesia, dan Malaysia.

Sayangnya, tidak ada merek dari negara-negara OKI yang memiliki reputasi global untuk kategori komoditas halal dan aset halal. Padahal, banyak di antara merek regional yang potensial dalam kategori ini, misalnya Astra dari Indonesia, IOI dan Sime Darby dari Malaysia.

Faktor penyebabnya, mereka terlalu terdiversifikasi dalam portofolio bisnisnya sehingga tidak fokus dan kurang sinergi. Lebih jauh, hanya sedikit merek dari negara-negara OKI di bidang makanan, kosmetik, farmasi, mode, atau perbankan dan keuangan yang bereputasi global.

 
Sementara itu, hanya tiga negara OKI yang masuk dalam 20 besar pengekspor produk ekonomi halal, yaitu Turki, Indonesia, dan Malaysia.
 
 

Bahkan, banyak negara anggota OKI melakukan pengambilalihan merek global dan “menghalalkan” merek tersebut, dengan strategi acquired halal asset. Negara-negara OKI berbondong-bondong membeli lisensi makanan dari perusahaan multinasional.

Seperti Nestle di Swiss dan mengonversinya menjadi merek halal atau membeli rantai kopi Starbucks Amerika, dan mengubahnya menjadi merek kopi halal dengan menggunakan standar halal masing-masing negara.

Maka itu, meningkatkan kolaborasi perdagangan intra-OKI adalah kunci agar kawasan ini menjadi lebih tangguh, dalam membangun ekosistem halal secara mandiri.

Uni Eropa, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan Masyarakat Afrika Timur, beberapa contoh integrasi ekonomi menyatukan orang lintas batas, hambatan geografis, dan perbedaan budaya serta memberdayakan mereka mendorong pertumbuhan, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan kemakmuran.

 
Maka itu, meningkatkan kolaborasi perdagangan intra-OKI adalah kunci agar kawasan ini menjadi lebih tangguh.
 
 

Dari perspektif teori gravitasi perdagangan yang mendalilkan ukuran ekonomi, kedekatan, partisipasi dalam perjanjian perdagangan regional, latar belakang bahasa dan budaya yang sama meningkatkan perdagangan antarnegara, ini faktor yang memperkuat ekonomi kawasan.

Hal ini mengingat penghapusan atau pengurangan tarif antara penandatangan perjanjian perdagangan regional dan pengurangan biaya perdagangan, akan menghasilkan volume dan nilai perdagangan lebih tinggi.

Untuk itu, investasi mendesak diperlukan untuk mendongkrak kapasitas dalam rantai pasokan halal dan mengatasi hambatan paling kritis dalam rantai pasokan halal, terutama produksi bahan baku dan bahan aditif bersertifikat halal.

Dalam hal ini, bank syariah dapat memainkan peran kunci dalam pembiayaan proyek-proyek halal bersama pemerintah dan industri.

 
Dalam hal ini, bank syariah dapat memainkan peran kunci dalam pembiayaan proyek-proyek halal bersama pemerintah dan industri.
 
 

Negara-negara Islam perlu menyusun strategi industri halal untuk mengatur dan meningkatkan produksi halal dengan lebih baik, mengurangi ketergantungan impor dari negara lain, dan menghindari kekurangan pangan.

Dengan ekonomi global yang diprediksi bergerak ke dalam resesi, pemerintah negara anggota OKI dapat memperkuat industri dan ekonomi halal mereka, melalui langkah-langkah taktis dan strategis.

Pertama, negara OKI harus melanjutkan upaya menghilangkan hambatan perdagangan dan investasi dengan memanfaatkan kemitraan strategis dan perjanjian perdagangan bebas, yang berkaitan dengan perdagangan intrakawasan.

Khususnya, Sistem Preferensi Perdagangan antar Negara Anggota OKI (TPS-OKI), Protokol tentang Skema Tarif Preferensi untuk TPS-OIC (PRETAS), dan Kawasan Perdagangan Bebas Benua Afrika (AfCFTA).

 
Keempat, negara-negara OKI, terutama di Afrika Utara dan Timur Tengah, harus mendiversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan impor.
 
 

Kedua, mengadopsi standar halal yang seragam di seluruh industri akan berfungsi sebagai pengganda perdagangan dan investasi di kawasan OKI. Negara OKI harus mengatasi konflik politik dan perdagangan, menerapkan standar halal ini melalui peningkatan kapasitas sistematis.

Ini akan menjamin kecukupan produksi pangan, meningkatkan efisiensi proses produksi, serta memperkuat persepsi dan pangsa produk halal dalam perdagangan pangan global. Ketiga, fokus pada pengembangan rantai nilai regional, yang bertujuan mengembangkan bahan mentah.

Seperti bahan baku dan bahan aditif pangan melalui penguatan sektor penelitian dan pengembangan di berbagai bidang industri pertanian pangan, dengan maksud memodernisasi mekanisme produksi dan pemasaran.

Keempat, negara-negara OKI, terutama di Afrika Utara dan Timur Tengah, harus mendiversifikasi mitra dagang untuk mengurangi ketergantungan impor sereal pada Rusia dan Ukraina. Banyak negara di OKI memiliki kemampuan meningkatkan ekspor sereal ke negara anggota.

 
Keenam, diperlukan program peningkatan kapasitas dalam manajemen rantai nilai, internasionalisasi UKM, dan strategi perdagangan.
 
 

Pengekspor sereal teratas di antara negara OKI, termasuk Pakistan dan Kazakhstan, masing-masing mengekspor 51 persen dan 27 persen dari total ekspor OKI sebesar 4,41 miliar dolar AS pada 2021.

Kelima, menciptakan koridor perdagangan dan investasi berpusat pada pengembangan perdagangan dan investasi bersama infrastruktur darat dan laut, untuk meningkatkan konektivitas antara negara anggota OKI di tiga wilayah ruang, yaitu Afrika Sub-Sahara, Timur Tengah, dan Asia.

Keenam, diperlukan program peningkatan kapasitas dalam manajemen rantai nilai, internasionalisasi UKM, dan strategi perdagangan.

Tak kalah penting, negara-negara OKI perlu memperkuat mekanisme tanggap darurat yang harus dikembangkan dan diadopsi, untuk meminimalkan dampak buruk perubahan iklim dan konsekuensi dari bencana alam, yang menyebabkan kerusakan parah lahan pertanian.

KH Nasaruddin Umar Pimpin Ponpes As’adiyah

Ponpes As’adiyah Sengkang merupakan pesantren tertua di Indonesia bagian timur.

SELENGKAPNYA

Bermainlah dengan Rasa Rindu Juara

Gregoria Mariska Tunjung dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos di saat-saat terakhir.

SELENGKAPNYA

Memperkuat Kontribusi BPRS dalam Ekosistem Syariah

Saat ini, belum banyak BPRS yang masuk ke ranah pembiayaan properti.

SELENGKAPNYA