Sastra
Menemui Kemarau
Puisi Rudiana Ade Ginanjar
Oleh RUDIANA ADE GINANJAR
Menemui Kemarau
Telah lama, sebuah perapian
membubungkan asap.
Kemah pengembara sepi,
rumput dan rimbunan sunyi.
Sebentuk air mancur hari-hari,
yang pernah menerima
keberadaanku.
Suara jauh telah mendekap
lembah padam,
kunang-kunang terjerat selamanya
ke serat malam.
Dengan perasaan bahagia,
bulan Mei muncul dan akan mengakhiri
hujan. Serangkum angin dari jauh
menelan kehangatan suara
dari gemericik cerita:
musim beralih,
raut wajahnya mulai berpindah
dari satu warna bentangan ke bentangan lain.
Lebih hening dari pertapaan
adalah kemunculan matahari.
2023
***
Oh, Matahari
Siang. Sebuah dunia baru mengerjapkan mata
angin, jauh dan gemilang
datang mendaratkan cahaya.
Bila hari ini adalah pantai pertama
maka pintu-pintu yang menutup
akan mencari cerita,
lewat satu kuakan dari dada lapang.
Orang-orang dengan tambur
mulai menimbulkan satu ketukan
di lantai hidup.
Dengan riang burung berkata dalam sarang mereka
bahwa seseorang telah menjadi
bagian hutan,
mereka mencari lengan primitif
meneroka masa depan.
Panah-panah cahaya dilepaskan
dari busur galaksi.
Sebuah menara pandang
akan menyiarkan dendang
bagi sesat tualang.
2023
***
Ekuator Memorial
Yang mungkin membagi
hidup kita,
antara baris-baris terang siang
dan hening malam.
Sedang tanah tidur dengan kehangatan matahari.
Seperti biduan, seperti seluruh pagi
dipeluk oleh nyanyian.
Kau dengar, jam berdetak dalam tangkup
siang dan malam.
Tajam, bola mata mengawasi lebat hutan.
Di sini, seseorang mengingat
matahari lebih dekat.
2021
***
Berkat Teman
Sebab baru hari ini
cuaca tidur dalam angin.
Seperti terminal ditinggalkan
alamat pergi,
memberi isyarat bahaya
amsal tiada,
pintu-pintu rumah suci menangis.
Berikan lengan,
sebab baru hari ini
angin terus membeku di ketinggian.
Seperti cabang-cabang hujan tertahan,
mencari isyarat kehadiran
di waktu dini,
peti-peti membungkus tiap doa.
2020
***
Teman Hujan
Kepada Aliv V. Esesi
Aku tidak ingat
kapan terakhir kali menemukannya.
Dia tinggal dan menyendiri—aku kira rumahnya
tua dan terpencil.
Bagaimana menyusur jalan ke sana?
Petunjuknya adalah hujan dan perasaan murung.
Lalu waktu yang licin.
Lukisan-lukisan berganti mengisi
relung mataku.
Diakah bulan?
Mungkin. Sebab aku merasakan gurau yang sama:
dia telah menunggu,
dengan lembut di pintu
dan pertanyaan lepas
bersama kenangan yang lebih pantas.
Dialah bulan,
tiada berganda serupa di Mars.
Dialah penanggung kosakata biru
yang bersama malam
menggantungi sunyi.
2018
***
Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 1985. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan. Karya-karyanya diterbitkan dalam media massa cetak atau daring serta sejumlah buku. Antara lain antologi puisi tunggal Wanita dari Tarifa: Vol. II (2025). Mengelola media sosial Fb. “Rudiana Ade Ginanjar” dan blog “Ginanjar Pustaka”.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
