Tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung mengembalikan kok ke arah tunggal putri Belgia Lianne Tan dalam penyisihan Grup M Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Jepang, Rabu (28/7/2021). | ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN

Teraju

Bermainlah dengan Rasa Rindu Juara

Gregoria Mariska Tunjung dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti lolos di saat-saat terakhir.

OLEH NURUL S HAMAMI

Anthony Sinisuka Ginting bilang rindu juara lagi ketika tampil di Malaysia Terbuka pada Juni lalu. Makanya setiap laga dianggapnya sebagai partai final agar dia bisa mengeluarkan permainan terbaiknya.

Say Praneeth dari India berhasil dilewati di babak pertama. Selanjutnya pebulu tangkis Thailand Sitthikom Thammasin mampu dijinakkan di babak kedua. Namun, di perempat final langkahnya terantuk di tangan Viktor Axelsen asal Denmark.

Meski sempat meneruskan tren positifnya dengan memenangi gim pertama 21-18, namun Ginting akhirnya menyerah 17-21 di gim kedua dan 12-21 di gim penentuan. Ini merupakan kekalahan beruntun pemain kelahiran Cimah, Jawa Barat, 1996, itu dari Axelsen untuk kali ketiga kurang dari sebulan, setelah sebelumnya di Indonesia Terbuka dan Indonesia Masters.

Walaupun kalah lagi kala itu, Ginting optimistis suatu saat dia bisa kembali menemukan celah untuk mengalahkan Axelsen. “Pelan-pelan, semoga bisa menemukan cara untuk mengalahkan dia,” katanya.

photo
Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting mengembalikan kok ke arah tunggal putra Malaysia Lee Zii Jia pada babak perempat final Daihatsu Indonesia Master 2022 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (10/6/2022). - (Republika/Edwin Dwi Putranto)

Ginting bukannya tidak pernah menang atas pemain nomor satu dunia itu. Dalam 14 pertemuan yang telah dilalui oleh keduanya, Ginting menang empat kali. Kemenangan terakhir atas Axelsen terjadi di semifinal Indonesia Masters 2020 pada 18 Januari 2020. Di situ pulalah Ginting menjemput gelar juara setelah di final mengalahkan teman senegara Axelsen yakni Anders Antonsen.

Namun, dalam delapan pertemuan setelahnya, Ginting belum bisa lagi mengalahkan Axelsen termasuk pada pertemuan terakhir di perempat final Kejuaraan Dunia 2022 bulan Agustus lalu. Kekalahan demi kekalahan itu pula yang kerap menghambat laju Ginting naik ke podium juara BWF World Tour sejak Indonesia Masters 2020.

Lama tak menggenggam gelar juara mendatangkan rasa rindu pada Ginting setelah kegagaannya di Indonesia Masters dan Indonesia Terbuka 2022. Penuntasan rindunya iru memang harus ditunda hingga dua turnamen terlewati yakni Malaysia Terbuka dan Malaysia Masters. 

Barulah di Singapura Terbuka rasa rindu Ginting akan gelar juara terobati. Dia akhirnya kembali naik podium juara. Di final, Kodai Naraoka (Jepang) dikalahkannya dengan 23-21. 21-17. Ini merupakan gelar pertamaya setelah paceklik gelar selama dua setengah tahun.

Bermain dengan rasa rindu akan gelar juara tentu banyak memotivasi Ginting hingga dia berhasil kembali menggondol gelar. Meski harus bersusah payah terlebih dulu di dua turnamen sebelumnya, akhirnya gelar itu bisa juga diraih. Seperti halnya kerinduan akan sesuatu yang lain, seseorang pasti akan berjuang semaksimal mungkin agar keriduan itu bisa diakhiri.

Tapi, lagi-lagi Ginting harus menunda gelar juaranya di Eropa pada Oktober-November lalu setelah lebih dulu gagal di dua turnamen. Dia menyerah di babak pertama kepada Lakshya Sen (India) di Denmark Terbuka dan juga kalah di babak pertama dari pemain India yang lain, Sameer Verma, di Prancis Terbuka.

Setelah dua kegagalan itu, Ginting kembali naik podium dan merebut gelar juara Hylo Terbuka di Saarbrucken, Jerman. Di final dia mengalahkan Chou Tien Chen (Cina Taipei). Bisa jadi ini juga karena dia kembali merasakan rindu akan gelar juara.

Dua gelar dan dua kali semifinal sera beberapa perempat final BWF World Tour 2022 membawa Ginting masuk “delapan besar” dalam peringkat pengumpulan poin BWF World Tour tahun ini. Dia pun berhak atas tiket menuju Putaran Final yang di setiap nomor hanya diikuti oleh delapan pemain/pasangan teratas pwringkat BWF World Tour.

Hingga Jumat (2/12) drawing pertandingan masih belum dikeluarkan oleh BWF. Namun, siapa-siapa yang akan menjadi calon lawan Ginting sudah bisa diketahui setelah BWF merilis 8 pemain/pasangan teratas yang sudah dipastikan tampil di Bangkok, Thailand, pada 7-11 Desember mendatang.

Termasuk di sini kepastian masuknya Gregoria Mariska Tunjung di tunggal putri dan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti di ganda putri menggantikan pemain/pasangan yang mundur karena masih terbelit cedera.

Semua calon lawan Ginting sudah pernah dia hadapi dengan head to head saling mengalahkan. Axelsen menjadi calon lawan yang paling berat buat dia. Ginting belum pernah menang dalam delapan pertemuan terakhir.

Tahun ini Axelsen berhasil merebut lima gelar juara, termasuk di Indonesia Masters dan Indonesia Terbuka, dari tujuh turnamen yang diikutinya. Dua lagi dia hanya sampai semifinal (Jerman Terbuka) dan perempat final (Denmark Terbuka).

Harus diakui, Axelsen saat ini sedang berada dalam permainan terbaiknya dan mendominasi tunggal putra. Tapi, bukan berarti dia tak bisa dikalahkan. Loh Kean Yew (Singapura) mengalahkan Axelsen di perempat final Denmark Terbuka. Sebelumnya, sebelum All England Axelsen menyerah kepada Lakshya Sen di semifinal Jerman Terbuka.

Seperti pernah kami ulas sebelumnya, Ginting sebenarnya sudah memiliki kapasitas untuk menjadi juara di semua level, dari Super 300 hingga Super 1000. Pukulannya sudah lengkap, fisiknya pun terjaga. Bia dia sedang “main enak” ke manapun bola bisa dikejar dan menjadi poin buatnya. Tapi sebaliknya, jika sedang “kacau” maka dia seperti kehilangan fokus dan banyak membuat kesalahan sendiri. Inilah problem Ginting.

photo
Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mengembalikan kok ke arah lawannya asal Malaysia Cheam June Wei dalam pertandingan babak final Badminton Asia Team Championships (BATC) 2020 di Rizal Memorial Coliseum, Manila, Filipina, Ahad (16/2/2020). - (ANTARA)

Selain Axelsen dan Jonatan Christie, lima pemain lainnya yang juga menjadi pesaing Ginting untuk menjadi kampiun di BWF World Tour Finals 2022 yakni Chou Tien Chen, HS Pranoy (India), Kodai Naraoka, Loh Kean Yew, dan Lu Guang Zu (Cina). Terhadap semua pemain itu Ginting pernah menang. Bahkan dia belum pernah kalah dari Naraoka dan Lu.

Rekor kekalahan terbanyak Ginting adalah dari Axelsen. Dalam 14 kali pertemuan sejak 2017, dia kalah sepuluh kali dengan delapan pertemuan terakhir selalu kalah sejak 16 Januari 2021. Sedangkan, kemenangan terbanyaknya adalah atas Chou Tien Chen yakni delapan kali dari 14 pertemuan sejak 16 Juli 2014. Sementara, hasil head to head imbang masing-masing dengan Jonatan 3-3 dan dengan Loh Kean Yew 2-2.

Dengan catatan pertemuan terhadap tujuh calon lawannya itu, Ginting tetap memiliki peluang untuk naik podium tertinggi. Apalagi putaran final menggunakan sistem grup di mana setiap pemain bertanding tiga kali, sehingga tidak langsung gugur ketika kalah di partai perdana.

Dua terbaik berhak ke semifinal. Berharap saja Ginting sedang main enak dari awal hingga penghabisan, serta dia sudah menemukan celah untuk kembali bisa mengalahkan Axelsen. Ayo, Jo, bermain lagi dengan rasa rindu kembali menjadi juara.

Gregoria dan Apriyani/Fadiia

Di saat-saat terakhir, Indobesia dipastikan bakal juga diwakili Gregoria Mariska Tunjung di tunggal putri dan pasangan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti di ganda putri. Mereka masuk setelah menggantikan pemain di “Top 8” peringkat BWF World Tour mundur karena cedera. Gregoria menggantikan PV Sindhu (India), sementara Apri/Fadia menggantikan Nami Matsuyama/Chiharu Shida (Jepang). Sebelumnya Gregoria dan Apri/Fadia gagal masuk ke jajaran delapan besar.

Peluang Gregoria memang cukup berat. Dia pernah bertemu dengan ketujuh calon lawannya di Bangkok nanti. Namun, jejak rekamnya tidak terlau bagus. Dia hanya menang head to head atas Busana Ongbamrungphan (Thailand) 4-2.

Selebihnya, dia kalah dalam head to head dengan yang lain. Bahkan, terhadap empat pemain yakni An Se Young (Korsel), He Bing Jiao (Cina), Ratchanok Intanon (Thailand), dan Tai Tzu Ying (Cina Taipei), Gregoria belum pernah menang. “Untuk target, pastinya mau yang terbaik,” kata Gregoria.

Masuk final Australia Terbuka bulan lalu menjadi modal besar bagi Gregoria. Paling tidak bisa memotivasi dirinya ternyata bisa bermain di level tertinggi. Apalagi dia juga meyimpan rasa rindu menjadi juara.

"Setelah lama enggak ke final turnamen level BWF World Tour, saya kini bisa lagi ke final di turnamen seperti di Australia Open ini. Terus terang saya juga kangen juara,"  kata Gregoria.

Sedangkan, Apri/Fadia peluangnya 50-50 dengan calon lawan-lawannya. Baru bermain bersama di musim tur tahun ini, mereka sudah mampu menembus final Indonesia Masters dan juara di Malaysia dan Singapura Terbuka. Ini yang membuat pasangan dari negara lain cukup gentar bila menghadapi Apri/Fadia.

“Kalau peluang, kita di sini tidak mau muluk-muluk dahulu. Kita mau menampilkan yang terbaik saja, masalah hasilnya apa kita tidak mau terlalu memikirkan,” kata Apri seperti dikutip dari laman resmi PBSI.

Peluang belum tertutup sama sekali. Bermainlah dengan rasa rindu menjadi juara agar ada tujuan yang akan dikejar sekuat-kuatnya. 

Putaran Final BWF World Tour 2022

Tunggal putra

1. Viktor Axelsen (Denmark)

2. Chou Tien Chen (Taiwan)

3. Prannoy H. S. (India)

4. Jonatan Christie (Indonesia)

5. Kodai Naraoka (Jepang)

6. Lu Guang Zu (Cina)

7. Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia)

8. Loh Kean Yew (Singapura)

Tunggal putri

1. Chen Yu Fei (Cina)

2. Tai Tzu Ying (Taiwan)

3. He Bing Jiao (Cina)

4. An Se Young (Korsel)

5. Ratchanok Intanon (Thailand)

6. Busanan Ongbamrungphan (Thailand)

7. Akane Yamaguchi (Jepang)

8. Gregoria Mariska Tunjung (Indonesia)

Ganda putra

1. Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia)

2. Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (Indonesia)

3. Ong Yew Sin/Teo Ee Yi (Malaysia)

4. Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi (Cina)

5. Kim Astrup/Rasmussen (Denmark)

6. Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang)

7. Choi Sol Gyu/Kim Won Ho (Korsel)

8. Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia)

Ganda putri

1. Jeong Na Eun/Kim Hye Jeong (Korsel)

2. Zhang Shu Xian/Zheng Yu (Cina)

3. Benyapa Aimsaard/Nuntakarn Aimsaard (Thailand)

4. Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (Cina)

5. Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand)

6. Vivian Hoo/Lim Chiew Sien (Malaysia)

7. Tan Pearly/Thinaah Muralitharan (Malaysia)

8. Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti (Indonesia)

Ganda campuran

1. Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (China)

2. Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand)

3. Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (China)

4. Goh Soon Huat/Lai Shevon Jemie (Malaysia)

5. Tan Kian Meng/Lai Pei Jing (Malaysia)

6. Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (Indonesia)

7. Thom Gicquel/Delphine Delrue (Prancis)

8. Supak Jomkoh/Supissara Paewsampran (Thailand)

Biden Bersinar, Trump Kian Redup

Hasil Pemilu 2022 membuat jalan Biden untuk nyapres di Pemilu 2024 semakin lempang.

SELENGKAPNYA

Perburuan Gelar Pemuncak di Bangkok

Fajar/Rian dan Ahsan/Hendra dapat diandalkan untuk merebut gelar ganda putra. 

SELENGKAPNYA

Mengembalikan Pesona Planetarium Jakarta

Planetarium Jakarta kini tenggelam di antara bangunan gedung-gedung tinggi.

SELENGKAPNYA