Cerpen Jebakan Gerbong Kereta | Daan Yahya/Republika

Sastra

Jebakan Gerbong Kereta

Cerpen A Mundzir AR

Oleh A MUNDZIR AR

Siapa yang membuat Hasan sebegitu kantuknya hingga kitab kuning yang seharusnya ia isi dengan tinta pulpen kini ikut tertidur di pelukannya. Sudah separuh jam ia tidur bersandar pada pilar masjid, tak ada yang membangunkannya meski banyak santri lain yang masih segar bugar di samping mendengarkan penyajian dari kiai.

“Kenapa salah satu dari kita tak ada yang mau membangunkannya?” ucap Misba, salah satu santri yang berada paling dekat di samping kanan Hasan.

“Sssst... sudah jangan dibangunin, siapa tahu dia sedang bermimpi Nabi, kasihan kan kalau kita bangunkan dia sekarang.” Jawab santri yang juga berada tak terlalu jauh setengah bergurau. Lantas Misba pun hanya memandang Hasan dengan tatapan gaduh tak karuan, ia bingung antara membangunkan atau menghiraukannya dan lantas fokus kembali pada penjelasan kiai. 

Lambat laun ingatannya dibawa pada kejadian beberapa hari yang lalu. Di balik pohon jeruk yang tumbuh di samping kantor pesantren tak sengaja ia mendengar Hasan dan bapaknya sedang bercakap-cakap dengan pengurus pesantren, tanpa mendengar sampai akhir pembicaraan pun Misba tahu sudah topik apa yang sedang mereka bicarakan; mereka membahas Hasan yang tak pernah jerah melakukan pelanggaran.

Hasan sering kali tertangkap basah melanggar keluar pesantren tanpa izin dan tanpa tujuan yang jelas ketika ditanyakan pengurus. Yang membuatnya harus menerima hukuman yang cukup keras dari pengurus pesantren, karena itu pula yang menjadi alasan mengapa Misba berpikir untuk tidak membangunkannya, ia tahu bahwa tadi malam Hasan disidang keamanan pesantren dengan suara yang ngeri. 

 

***

 

Hasan tampak seperti sebatang bambu dengan kain yang mengikat dan terembus angin dengan lemahnya. Delapan tahun sudah ia menetap di pesantren ini, namun ia merasa seolah tak ada apa pun yang ia dapat. Bahkan Hasan pun boyong dari pesantren dengan tidak terhormat; ia dipaksa boyong lantaran pelanggaran yang sudah tertimbun terlalu banyak. Lantas ia pun dipasrahkan kembali kepada orang tuanya langsung oleh kiai, tentu dengan diksi yang halus. 

Sesekali Hasan melirik ke belakang dengan ekspresi kusut, melihat tanah yang menemaninya selama jangka waktu yang tak bisa dibilang singkat. 

“Sudahlah Hasan. Ini semua murni kesalahanmu, kau dikeluarkan dari pesantren ini sudah sebanding dengan perbuatan yang kau lakukan. Betul seperti apa yang bapak katakan dulu setelah kau lulus sekolah, sudah lebih baiknya kau bekerja dan berkeluarga saja, mencari uang dan berbahagia dengan keluargamu yang baru.” Ucap bapak, memecah kenangan yang melintas di benaknya sedari tadi.

Hasan mengusap air mata yang sesekali mengalir di pipinya, raungan kereta api membuatnya bertambah sedih, ia kembali teringat pada kenangan indah ketika ia dan teman-temannya bergurau riah menaiki kereta yang sedang ia naiki ketika libur Romadhan. Sekarang ia menaiki kereta itu, namun bukan untuk pulang liburan Romadhan—melainkan untuk pulang ke rumah tanpa kata kembali.

Hasan menangis sendu dalam hatinya yang perlahan remuk—sesekali ia menatap Bapak yang seolah tak henti-henti mengumbar aura kemarahannya. Wajar, Hasan adalah anak satu-satunya yang ia miliki, ia adalah anak yang akan menjadi penerus keluarganya kelak. Meski Hasan kini sudah membuat harapan itu semakin terkikis, namun di salah satu sisi hati sang bapak masih tersimpan harapan yang menyala.

Kini Hasan tak kuat lagi duduk tepat di samping bapak, ia juga ingin membuat perasaannya sedikit rada dengan tanpanya. Maka Hasan memutuskan untuk pindah tempat duduk tak begitu jauh darinya. Kini ia dapat menangis dengan air mata yang ia bendung begitu lama, ia dapat meraung mengumbar amarahnya bersama raungan kereta di malam dengan sedikit gerimis ini. 

Hasan  membasahi pipinya dengan air mata diiringi ingatan yang tak henti-henti mengalir, ia mengusap air mata itu dengan sorban yang pernah ibunya berikan dulu, sedikit ia pejamkan mata, hingga ia tak lagi mendengar riuh suara penumpang kereta—Hasan bingung, lantas membuka matanya yang masih mengalirkan air mata. Benar, kini gerbong kereta telah kosong, sang bapak yang duduk tak jauh darinya pun sudah tak ada. Sekali lagi Hasan mengusap air matanya. Perasaannya kini berubah penasaran bercampur cemas, apakah ia tidur terlalu lama hingga semua orang di dalam kereta bersih tak tersisa. Tapi tak mungkin, ucapnya lirih entah pada siapa. Jika ia tertidur pastilah masinis kereta membangunkannya.

Hasan melihat ke kanan—ke kiri,  tak lagi ia melihat seseorang di sana. Ia pun memutuskan untuk berlari menuju gerbong selanjutnya seraya mengharap ada seseorang yang dapat ia tanyai. 

“Duduklah dulu sebentar.” benar harapnya, ia mendapati seorang kakek dengan pakaian yang mengingatkannya pada kiai di pondoknya. Pelan-pelan dengan sedikit waspada Hasan pun duduk di kursi depan kakek itu, membuat mereka saling hadap-hadapan satu sama lain.

“Apakah kakek tahu alasan mengapa orang-orang di kereta menghilang? Apakah mereka sudah pulang ke rumah mereka masing-masing? Dan pintu kereta ini juga tidak bisa dibuka.” Hasan langsung melempar pertanyaannya.

“Kau akan tahu ketika kau mulai membuka lembaran kitabmu.” Balasnya, membuat Hasan plonga-plongo tak paham.

“Apakah kita pernah bertemu di suatu tempat?” tanya Hasan penasaran.

“Aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri, Hasan.”

“Bukalah kitabmu jika kau ingin mengetahui tentang luasnya dunia ini.” Kakek itu menambah dengan nada sedikit memaksa. Hasan pun membuka salah satu kitab yang ia bawa di dalam tasnya, sebelum kakek itu mulai berbicara, asan menyempatkan diri untuk menatap ke luar jendela—ia melihat pemandangan yang sama sekali tak akan ia percaya; puluhan huruf hijaiah mengambang di ruang hampa, kereta yang sedang ia naiki pun kini tak lagi menapaki relnya. Entah di mana ia sekarang, bintang-bintang bertaburan lebih banyak dari yang selama ini ia lihat dari pekarangan pondok. Planet yang seharusnya dapat ia lihat hanya sebagai titik kecil di langit itu pun kini tampak begitu besar berlarian mengejar satu sama lain di luar kereta.

Hasan kembali melirik kitab yang baru saja ia buka, heran—kini perasannya bercampur aduk, ia heran namun juga seolah tak ingin mengetahui alasannya. Hasan melirik wajah kakek itu penasaran. Lantas ia pun mulai menjelaskan isi kitab yang sedang Hasan pegang, ia menjelaskan secara singkat dan lantang. Hasan pun menyimak tanpa rasa ragu akan penjelasannya. 

Lima belas kali sudah kereta itu melewati matahari raksasa di luar jendela. Kitab pertama yang Hasan buka pun sudah rampung ia pelajari. Tanpa harus mendengar penjelasan ulang darinya Hasan sudah menangkap seluruh penjelasan yang kakek itu berikan. Hasan merasa bahwa dirinya kini bukanlah dirinya yang pernah ia kenal, padahal, nahas di pesantren ia tak dapat menangkap sama sekali apa yang gurunya jelaskan. Namun kini ia bagai jaring besar yang menangkap ikan-ikan di kolam yang kecil. 

“Kitab pertamamu berhasil kau lewati. Bukalah kitab keduamu.”

“Maaf, bisakah saya mengetahui siapa Anda?” Hasan menyela, rasa penasaran itu masih merayunya untuk bertanya.

“Kau tak memerlukan namaku untuk belajar, aku hanya insan penyampai ilmu pada hamba yang bersungguh ingin tahu.” Jawabnya, membuat Hasan menunduk, lantas meraih kitab kedua di dalam tas. Seperti yang pertama, ia mulai menjelaskan isi kitab kedua secara ringkas nan jelas pula. 

Hingga puluhan—ribuan bintang dan planet sudah kereta itu lewati. Puluhan tahun Hasan menetap di sana, hanya duduk, hanya menyimak, hanya menatap kitab berwarna kuning tanpa harus makan sesuap nasi dan meneguk segelas air untuk sekadar meredakan dahaga. Namun Hasan sudah melupakan itu semua, kini ia tak butuh makanan untuk bertahan hidup, yang ia butuhkan hanya ilmu untuk membopongnya tetap bernafas

Kakek tua yang kini Hasan anggap sebagai seorang guru menatap wajah Hasan untuk kali pertama. Kini mereka saling menatap satu sama lain. Hasan termangu, merasa tak asing dengan wajahnya. Untuk sekian lama Hasan merinaikan air mata. Penglihatan Hasan lambat laun memudar di halang air mata yang mengalir deras.

Pelan-pelan ia kembali mendengar bising penumpang kereta yang entah kapan terakhir kali ia dengar.

“Hasan bangun, sudah sampai. Rapikan kembali kitabmu itu.” Wajah Hasan mengerut, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia kembali pada keadaan ratusan tahun yang lalu. keadaan di mana ia baru saja dipaksa boyong dari pesantren langsung oleh kiai. Ia melihat sekitar—melirik keluar jendela, ia melihat orang-orang sedang bergilir memasuki kereta. Ia tak lagi melihat ribuan—miliaran bintang lengkap dengan planet yang saling mengejar satu sama lain.

Bapak Hasan membawa tas dengan kitab berantakan itu, ia sendiri yang merapikannya lantaran Hasan hanya mematung tak menjawab. Hasan berjalan lunglai sambil melihat punggung gagah bapak. Kini Hasan melihat dunia seluas bintang di angkasa. Namun sebelum ia melangkah keluar kereta, pertanyaan kembali melintas di benaknya.

“Apakah bapak akan percaya jika aku mengatakan bahwa pernah diajari oleh seseorang yang sudah wafat?”

A Mundzir AR adalah salah satu peserta Rakara Residensi Cerpen yang saat ini sedang menjaga diri di PP Annuqayah Lubangsa.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat