Kebakaran di lokasi kejadian setelah sebuah bangunan dihantam rudal Iran di Tel Aviv, Israel, 28 Februari 2026. | EPA/ABIR SULTAN

Opini

Perang di Era AI: Ketika Algoritma Mengubah Konflik AS–Israel Melawan Iran

Perang modern semakin bergantung pada data.

OLEH Dr. (Can.) Ressa Uli Patrissia, S.S., M.Ikom., AMIPR (Pemerhati komunikasi dan teknologi, dosen di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya)

 

 

 

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering dibahas dalam konteks kehidupan sehari-hari: algoritma media sosial yang menentukan apa yang kita baca, aplikasi kesehatan yang memantau detak jantung, atau sistem rekomendasi yang mengarahkan pilihan kita. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, teknologi yang sama mulai memainkan peran yang jauh lebih serius—yakni dalam medan perang.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menunjukkan bagaimana algoritma tidak lagi sekadar memengaruhi kehidupan digital manusia, tetapi juga mulai memediasi keputusan hidup dan mati. Fenomena ini menandai transisi dari apa yang dapat disebut sebagai algorithmic self menuju algorithmic war.

Manusia dan “Algorithmic Self

Dalam kehidupan modern, manusia semakin hidup di dalam lingkungan algoritmik. Setiap aktivitas digital—pencarian di internet, penggunaan media sosial, hingga data kesehatan dari smartwatch—menghasilkan jejak data yang kemudian dianalisis oleh algoritma.

Algoritma tersebut tidak hanya memprediksi perilaku, tetapi juga memengaruhi cara manusia memahami dirinya sendiri. Ketika seseorang melihat grafik kesehatan dari smartwatch, misalnya, ia mulai menilai tubuhnya melalui data. Ketika media sosial menampilkan konten tertentu secara berulang, identitas politik atau sosial seseorang juga dapat terbentuk melalui lingkungan informasi yang dikurasi oleh algoritma.

Dalam konteks ini, manusia tidak lagi sepenuhnya membangun identitasnya melalui refleksi internal atau interaksi sosial tradisional, tetapi juga melalui sistem komputasi yang terus menganalisis perilaku mereka. Inilah yang disebut sebagai algorithmic self, yaitu diri manusia yang dibentuk oleh interaksi berkelanjutan dengan sistem algoritmik.

Namun, logika yang sama ternyata tidak berhenti pada level individu. Di tingkat negara dan militer, algoritma mulai memainkan peran yang serupa: membantu memahami situasi, memprediksi tindakan lawan, dan bahkan menentukan keputusan strategis.

Dari Data ke Keputusan Militer

Perang modern semakin bergantung pada data. Satelit, drone, sensor radar, dan komunikasi digital menghasilkan volume informasi yang sangat besar. Masalahnya, manusia memiliki keterbatasan untuk memproses semua data tersebut dalam waktu cepat.

Di sinilah AI masuk. Sistem berbasis machine learning dapat menganalisis citra satelit, sinyal komunikasi, dan pola aktivitas militer dalam hitungan detik. Program militer seperti Project Maven milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat dirancang untuk menggunakan machine learning guna menganalisis foto dan video intelijen, mengidentifikasi objek militer, dan membantu menentukan target operasi.

Dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, teknologi serupa memainkan peran penting. Sistem AI digunakan untuk memproses data intelijen dalam jumlah besar, memprioritaskan target, dan mempercepat perencanaan operasi militer.

Algoritma dapat menggabungkan berbagai sumber informasi—mulai dari citra satelit, sinyal elektronik, hingga data komunikasi—untuk menghasilkan apa yang disebut targeting package, yaitu daftar target potensial yang siap diserang.

Dengan kata lain, AI menjadi semacam “lapisan kognitif” dalam perang modern: sistem yang membantu militer memahami medan perang secara lebih cepat daripada analisis manusia semata.

Keputusan di Medan Perang

Salah satu perubahan paling signifikan dari penggunaan AI dalam perang adalah fenomena yang disebut decision compression—penyusutan waktu pengambilan keputusan.

Dalam konflik konvensional, proses militer biasanya berlangsung dalam beberapa tahap: pengumpulan intelijen, analisis, perencanaan, persetujuan komando, dan eksekusi. Proses ini dapat memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.

Namun, dengan AI, banyak tahap tersebut dapat dipercepat secara drastis. Algoritma dapat memproses data intelijen dalam skala besar dan memberikan rekomendasi target dalam waktu sangat singkat. Beberapa laporan menunjukkan bahwa konflik Iran memperlihatkan bagaimana siklus perencanaan militer yang biasanya berlangsung berhari-hari dapat dipersingkat menjadi hanya beberapa jam.

Akibatnya, tempo perang meningkat secara signifikan. AI memungkinkan militer melakukan ratusan serangan dalam waktu yang jauh lebih singkat dibandingkan perang konvensional.

Namun, percepatan ini juga menimbulkan pertanyaan etis dan politik yang serius: jika keputusan perang semakin bergantung pada algoritma, siapa yang sebenarnya memegang kendali?

Ketika Algoritma Masuk ke “Kill Chain

Dalam studi militer modern, terdapat konsep yang dikenal sebagai kill chain—rantai proses dari identifikasi target hingga pelaksanaan serangan.

AI mulai terlibat hampir di setiap tahap rantai tersebut:

1. Pengumpulan data melalui drone, satelit, dan sensor.

2. Analisis algoritmik untuk menemukan pola aktivitas musuh.

3. Identifikasi target menggunakan sistem pengenalan objek dan data intelijen.

4. Rekomendasi serangan berdasarkan prioritas strategis.

5. Pelaksanaan operasi oleh drone, rudal, atau pesawat tempur.

Dalam beberapa operasi militer, sistem AI bahkan mampu menghasilkan ratusan rekomendasi target dalam waktu singkat—sesuatu yang hampir mustahil dilakukan oleh analis manusia.

Perubahan ini menunjukkan bahwa perang tidak lagi hanya bergantung pada kekuatan militer tradisional seperti jumlah pasukan atau senjata, tetapi juga pada kecepatan komputasi dan kemampuan analitik algoritma.

Perang Informasi dan Algoritma

Selain di medan perang fisik, algoritma juga memainkan peran penting dalam perang informasi. Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran juga disertai dengan pertarungan narasi di ruang digital. Konten visual, video, dan pesan propaganda yang dihasilkan atau dimanipulasi menggunakan AI beredar luas di media sosial untuk memengaruhi persepsi publik global.

Beberapa laporan menunjukkan bahwa aktor negara menggunakan konten AI untuk memperkuat propaganda atau menyebarkan informasi yang menyesatkan terkait perkembangan perang.

Hal ini membuat perang modern tidak hanya berlangsung di udara dan darat, tetapi juga di ruang informasi yang dikendalikan oleh algoritma media sosial.

Dari Algorithmic Self ke Algorithmic War

Jika dilihat secara lebih luas, terdapat kesamaan struktur antara algorithmic self dan algorithmic war. Pada level individu, algoritma mengumpulkan data perilaku, menganalisis pola, dan memberikan rekomendasi tindakan. Pada level militer, algoritma melakukan hal yang hampir sama, yaitu mengumpulkan data intelijen, menganalisis aktivitas musuh, dan memberikan rekomendasi target atau strategi.

Perbedaannya hanya pada skala dan konsekuensi. Dalam kehidupan sehari-hari, algoritma mungkin menentukan video apa yang kita tonton atau rute perjalanan yang kita pilih. Dalam perang, algoritma dapat memengaruhi keputusan tentang target yang akan diserang.

Dengan demikian, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memperlihatkan transformasi penting dalam sejarah teknologi: algoritma tidak lagi hanya membentuk perilaku manusia dalam kehidupan digital, tetapi juga mulai membentuk cara negara berperang.

Tantangan Etika dan Masa Depan

Perkembangan ini memunculkan sejumlah pertanyaan yang belum memiliki jawaban jelas. Pertama, sejauh mana algoritma boleh dilibatkan dalam keputusan militer yang berpotensi menentukan hidup dan mati manusia?

Kedua, siapa yang bertanggung jawab jika keputusan yang dipengaruhi oleh algoritma menyebabkan kesalahan atau korban sipil?

Ketiga, apakah percepatan keputusan militer oleh AI justru meningkatkan risiko eskalasi konflik global?

Para pakar keamanan dan teknologi semakin menyadari bahwa AI bukan sekadar alat teknis. Ia adalah teknologi yang membawa konsekuensi politik, etika, dan kemanusiaan yang sangat besar.

Pada akhirnya, perkembangan AI memaksa kita menghadapi pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar kemajuan teknologi. Jika algoritma kini membantu manusia memahami tubuh, emosi, dan keputusan sehari-hari—dan pada saat yang sama juga membantu negara menentukan target serangan militer—maka batas antara teknologi kehidupan sipil dan teknologi perang menjadi semakin tipis.

Perjalanan dari algorithmic self menuju algorithmic war menunjukkan satu ironi besar zaman kita: teknologi yang awalnya dirancang untuk memahami manusia kini juga digunakan untuk menghitung kehancuran manusia.

Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan dalam perang—karena itu sudah terjadi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa jauh manusia masih memegang kendali atas keputusan yang dihasilkan oleh mesin yang ia ciptakan sendiri?

Jika algoritma dapat mempercepat keputusan militer hingga hitungan menit, maka ruang refleksi manusia juga ikut menyusut. Perang yang dahulu memerlukan pertimbangan politik yang panjang kini dapat bergerak dengan logika komputasi: cepat, efisien, dan terkadang tanpa jeda untuk berpikir.

Dalam situasi seperti ini, masa depan konflik global mungkin tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki pasukan terbesar, tetapi oleh siapa yang memiliki algoritma tercepat dan data paling lengkap.

Dan di tengah percepatan itu, kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kecerdasan buatan benar-benar membuat manusia lebih bijak—atau justru hanya membuat perang menjadi lebih cepat daripada kemampuan moral manusia untuk menghentikannya?

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat