Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Ferdy Sambo (kanan) dan Putri Candrawathi (kiri) saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (6/12/2022). | Republika/Thoudy Badai

Nasional

Sambo: Istri Saya Diperkosa Joshua

Kombes Susanto Haris meluapkan emosinya kepada Ferdy Sambo.

JAKARTA — Terdakwa Ferdy Sambo akhirnya mengungkapkan motif membunuh Brigadir Nofriansyah Joshua Hutabarat berawal dari adanya pemerkosaan terhadap Putri Candrawathi. Mantan Kadiv Propam Polri itu menegaskan, isterinya diperkosa oleh ajudannya tersebut saat di rumah Magelang, Jawa Tengah (Jateng).

“Jelasnya isteri saya diperkosa sama Joshua. Tidak ada motif yang lain,” kata Sambo saat rehat persidangan lanjutan kasus pembunuhan Brigadir J, yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa (6/12). Sambo tak menerangkan kapan pemerkosaan yang dialami isterinya itu dilakukan oleh Brigadir J. 

Tetapi mengacu kesimpulan hasil penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dan Komnas Perempuan mengatakan, pemerkosaan itu terjadi pada Kamis (7/7), atau satu hari sebelum Brigadir J ditembak mati di rumah dinas Ferdy Sambo di Duren Tiga 46, Jaksel, Jumat (8/7). Sambo melanjutkan, pemerkosaan yang dialami isterinya itu yang melatarbelakangi pembunuhan Brigadir J.

Sambo pun membantah arah kesaksian terdakwa Bharada Richard Eliezer (RE) yang sebelumnya bersaksi di persidangan, Rabu (30/11) yang mengaku melihat perempuan menangis keluar dari Rumah Bangka XI. Rumah Bangka tersebut, adalah salah satu kediaman Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi selain di Rumah Saguling III 29 di kawasan Jaksel. 

photo
Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Putri Candrawathi menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (6/12/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Menurut Sambo, arah pengakuan Bharada RE tersebut, seperti usaha membelokkan motif peristiwa pembunuhan Brigadir J dari perbuatan amoral ke latar belakang adanya simpanan perempuan lain. “Tidak ada motif lain, apalagi perselingkuhan,” tegas Sambo. Karena itu Sambo meminta agar Bharada RE, tak mengarang cerita palsu. “Tidak benar keterangan dia (Bharada RE) itu. Ngarang-ngarang,” ujar Sambo.

Ferdy Sambo adalah terdakwa utama dalam kasus pembunuhan Brigadir J. Isterinya, Putri Candrawathi juga diseret ke pengadilan sebagai terdakwa dalam kasus yang sama. Adapun Bharada RE adalah ajudan Ferdy Sambo, yang juga didakwa dengan sangkaan yang sama dalam kasus tersebut. Dua terdakwa lain dalam kasus pembunuhan itu, adalah Bripka Ricky Rizal (RR), dan Kuat Maruf. Lima terdakwa itu didakwa dengan Pasal 340 KUH Pidana, subsider Pasal 338 KUH Pidana, juncto Pasal 55, dan Pasal 56 KUH Pidana.

Sangkaan itu terkait dengan pembunuhan berencana, subsider pembunuhan, juncto bersama-sama melakukan pembunuhan, dan memberikan sarana untuk merampas nyawa orang lain. Brigadir J yang dibunuh dengan cara ditembak sampai mati, adalah juga ajudan dari Ferdy Sambo. Atas perbuatan, dan sangkaan tersebut, kelima terdakwa itu terancam dituntut hukuman mati, atau penjara seumur hidup, atau selama-lamanya 20 tahun penjara. 

Terkait perbuataan Brigadir J yang melakukan pemerkosaan terhadap Putri Candrawathi, baru kali ini gamblang disampaikan oleh Sambo. Selama ini, Ferdy Sambo tak pernah sekalipun memberikan pernyataan gamblang tentang motif pemerkosaan tersebut.

Sambo selama ini, hanya menyampaikan ke publik tentang perbuatan Brigadir J yang merusak harkat dan martabatnya sebagai suami, juga sebagai atasan. Pun pada saat meminta maaf kepada Keluarga Brigadir J di persidangan, Selasa (1/11) lalu, Ferdy Sambo hanya menyampaikan perbuatan Brigadir J yang tak dapat ditoleransi.

Sambo meminta Polri juga melakukan pemecetan terhadap terdakwa Bharada Richard Eliezer (RE) dari keanggotaan di Polri. Pemecatan tersebut, dikatakan oleh mantan Kadiv Propam itu, agar ada keadilan terhadap dirinya yang sudah awal mendapatkan pemecatan sebagai anggota kepolisian lantaran menjadi terdakwa pembunuhan berencana Brigadir Nofriansya Joshua Hutabarat (J).

Bahkan kata Sambo, Bharada RE memang layak untuk dipecat, karena dalam kasus pembunuhan di Duren Tiga 46 itu, sebagai pelaku penembakan terhadap Brigadir J. “Untuk Bharada Richard Eliezer, harusnya dipecat juga. Karena dia kan yang menembak Joshua. Jangan cuma saya (yang dipecat),” begitu kata Sambo usai menjalani persidangan.

photo
Terdakwa Richard Eliezer alias Bharada E bersiap menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Senin (21/11/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Marah

Sementara, Kombes Susanto Haris meluapkan emosinya kepada Ferdy Sambo. Mantan kepala bagian Penegakan Hukum Biro Provos (Kabag Gakkum Roprovos) Mabes Polri tersebut menangis, mengadu di hadapan majelis hakim pengadilan atas ulah mantan Kadiv Propam itu yang menghancurkan karier banyak anggota Polri lantaran dihukum gegara skenario palsu kasus kematian Brigadir Nofriansyah Joshua Hutabarat (J).

Emosi Kombes Susanto itu, meluap saat dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan lanjutan pembunuhan Brigadir J yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Selasa (6/12) atas terdakwa Ferdy Sambo. “Jenderal kok bohong. Susah nyari Jenderal,” begitu kata Kombes Susanto di pengadilan, Selasa (6/12).

Emosi tersebut, terucap setelah Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santosa menanyakan tentang apakah Kombes Susanto, ikut terkena hukuman dari Polri karena ada terkait dengan rentetan peristiwa pembunuhan di Duren Tiga 46.

“Saudara ikut di Patsus (Penempatan Khusus)?. Apa hukuman yang saudara dapatkan atas peristiwa ini?,” tanya hakim Wahyu kepada Kombes Susanto. Perwira tiga bunga di pundak itu mengaku ikut mendapatkan sanksi penempatan khusus. Bukan cuma dihukum kurungan khusus. Kombes Susanto mengatakan, dirinya juga mendapatkan sanksi pencopotan jabatan, dan pemindahan kedinasan dalam jangka waktu yang lama ke Yanma Polri. “Saya di patsus selama 29 hari. Demosi tiga tahun, yang mulia,” ujar Kombes Susanto. 

Hakim lalu menanyakan, apakah Kombes Susanto ditetapkan sebagai tersangka obstruction of justice terkait kasus pembunuhan Brigadir J tersebut. Tetapi, Kombes Susanto mengatakan, dirinya yang tak dijadikan tersangka. Namun, dikatakan dia, sanksi patsus dan demosi tersebut, seperti menghancurkan kariernya di kepolisian, yang sudah terbangun lebih dari 30 tahun. “Lalu bagaimana perasaan saudara?” tanya hakim.

“Saya kecewa, yang mulia. Kesal, marah. Jenderal kok berbohong. Susah jadi jenderal itu, yang mulia,” kata Kombes Susanto. Kata dia, selama proses pengungkapan dan penyidikan Polri atas peristiwa pembunuhan di Duren Tiga 46 tersebut, pun berdampak pada psikologisnya sebagai kepala keluarga di rumah.

Sebab dikatakan dia, namanya masuk daftar 95 para anggota Polri yang disebut awal-awal terlibat dalam kasus pembunuhan itu. “Keluarga kami malu. Kami semua paranoid nonton televisi, baca media sosial, yang mulia,” kata Kombes Susanto yang masih terdengar tersedu-sedu menangis. Semakin terdengar tangisan Kombes Susanto kepada hakim, saat ia menjelaskan juga tentang penilaiannya terhadap Ferdy Sambo yang menghancurkan karier banyak anggota kepolisian.

“Jenderal kok tega menghancurkan kami. Tiga puluh tahun saya mengabdi hancur di titik nadir, yang mulia. Rendah pengabdian saya yang mulia. Belum lagi yang dialami anggota-anggota hebat dari Polres Jakarta Selatan. Saya sebagai Kabag Gakkum yang biasanya memeriksa polisi yang nakal, kami diperiksa, yang mulia. Bayangkan bagaimana perasaan keluarga kami, yang mulia,” ujar Kombes Susanto. 

photo
Personel Brimob berjaga saat sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) terhadap mantan Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo di gedung TNCC Mabes Polri, Jakarta, Kamis (25/8/2022). - (Republika/Thoudy Badai)

Kombes Susanto, dalam banyak kesaksian di persidangan selama ini disebut-sebut sebagai salah-satu personel dari Propam Polri yang datang awal ke tempat kejadian perkara (TKP) pembunuhan Brigadir J di Duren Tiga 46. Kombes Susanto, bahkan disebut-sebut sebagai anggota Ferdy Sambo di Propam Polri, yang ikut serta melakukan pengamanan TKP saat tim penyidik Polres Jaksel melakukan olah TKP, Jumat (8/7).

Kombes Susanto, juga disebut-sebut sebagai personel Propam yang sempat memeriksa Bharada Richard Eliezer di TKP, beberapa saat setelah penembakan Brigadir J.

Dalam pemeriksaan Bharada RE tersebut, Kombes Susanto yang memeriksa identitas keanggota Polri Bharada RE. Juga memeriksa Surat Izin Menggunakan Senjata Api (SIMSA) milik Bharada RE yang dinilai bermasalah karena tak ada foto diri. Kombes Susanto juga yang memeriksa nomor seri pistol Glock-17 yang digunakan Bharada RE untuk menembak Brigadir J. Kombes Susanto, juga yang melakukan pengamanan barang bukti senjata api yang digunakan oleh Bharada RE tersebut.

Dalam pengakuannya, Kombes Susanto, pun yang ikut bersama-sama Karo Provos Polri Brigadir Jenderal (Brigjen) Benny Ali, memeriksa Putri Candrawathi di rumah Saguling III 29, beberapa saat setelah melakukan pengamanan di TKP Duren Tiga 46. Dalam pemeriksaan singkat tersebut, kata Kombes Susanto, pun Putri Candrawathi sudah memberikan kesaksian tentang dirinya yang menjadi korban pelecehan seksual oleh Brigadir J sebelum pembunuhan terjadi. Pelecehan versi Putri tersebut, yang disebut mula-mula melatarbelakangi peristiwa penembakan terhadap Brigadir J.

Penembakan terhadap Brigadir J itu, pun dikatakan Kombes Susanto, disebutkan mulanya sebagai peristiwa tembak-menembak antara Bharada RE, yang menewaskan Brigadir J.

Namun semua cerita tembak-menembak dan pelecehan seksual di Duren Tiga 46 itu, dikatakan Kombes Susanto terungkap sebagai peristiwa dari skenario palsu yang Ferdy Sambo bikin untuk menutupi kasus pembunuhan yang sesungguhnya. Terungkap dalam penyidikan, Brigadir J tewas ditembak mati oleh Bharada RE, dan juga dikatakan Ferdy Sambo yang turut serta melakukan penembakan.  

RKUHP Dijadwalkan Disahkan Hari Ini

Menkumham mengeklaim RKUHP telah mengakomodasi berbagai aspirasi masyarakat menjelang disahkan menjadi UU.

SELENGKAPNYA

Piala Dunia dan 'Harga Selangit'

Piala Dunia 2022 di Qatar menjadi turnamen sepak bola termegah sekaligus termahal yang pernah ada.

SELENGKAPNYA

Erick Perkuat CSR BUMN untuk Biayai Usaha Mikro

Erick mengatakan, rasio utang terhadap modal BUMN juga terus mengalami penurunan.

SELENGKAPNYA