Pengunjung berbelanja di Mal Malioboro, Yogyakarta, Selasa (13/9/2022). | Republika/Wihdan Hidayat

Opini

Divergensi Pemulihan Ekonomi

Fundamental ekonomi Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan 28 negara yang mengantre bantuan IMF.

RYAN KIRYANTO, Ekonom, Co-Founder dan Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital (ISED)

Akankah resesi global pada 2023 bisa dihindari? Itulah pertanyaan yang mengemuka di ruang publik. Maklum, saat ini dunia mengalami beragam guncangan dari geopolitik, energi, pangan, dan ekonomi.

Invasi Rusia ke Ukraina menyebabkan perang darat terbesar di Eropa sejak 1945. Melonjaknya harga pangan dan energi memicu inflasi tertinggi sejak 1980-an. Kekhawatiran resesi global diperparah sejak setahun terakhir.

Dengan munculnya tanda pelemahan secara bersamaan dan konsisten pertumbuhan ekonomi negara maju dan berkembang. Perang melemahkan ekonomi global dengan kenaikan agresif suku bunga bank sentral untuk membatasi inflasi yang juga memicu kekhawatiran resesi.

Ekonom berpikir kritis soal kemungkinan resesi global sambil membangun skenario ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang berdasar pada gencatan senjata Rusia-Ukraina, disrupsi rantai pasok global, kebijakan moneter global, nol Covid-19 Cina, dan berakhirnya pandemi.

 
Perang melemahkan ekonomi global dengan kenaikan agresif suku bunga bank sentral untuk membatasi inflasi yang juga memicu kekhawatiran resesi.
 
 

Bukan halusinasi

Kalangan ekonom memperingatkan, ekonomi global berisiko resesi pada 2023, karena ketegangan perdagangan dan pertumbuhan melambat memberi tekanan pada sistem keuangan dunia. Awalnya, isu resesi dunia hanya ilusi atau halusinasi.

Namun, fakta dan data di lapangan menunjukkan, ancaman resesi itu nyata. Bank Dunia baru-baru ini memperingatkan, bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga secara bersamaan untuk melawan inflasi persisten, yang dapat menyebabkan resesi global.

Sebab, perputaran ekonomi di berbagai negara melambat ekstrem. Dalam situasi genting ini, pukulan kecil terhadap ekonomi global tahun depan dapat mendorongnya ke dalam resesi karena AS, Cina, dan zona euro melambat secara substansial.

Ini menegaskan, ekonomi global mengalami perlambatan paling curam setelah pemulihan pascaresesi sejak 1970, disertai kepercayaan konsumen turun lebih tajam daripada tahun-tahun sebelumnya.

 
Dalam situasi genting ini, pukulan kecil terhadap ekonomi global tahun depan dapat mendorongnya ke dalam resesi karena AS, Cina, dan zona euro melambat secara substansial.
 
 

David Malpass, presiden Bank Dunia, khawatir pola ini berlanjut dan berefek mengerikan pada negara berkembang dan berpenghasilan rendah.

Bank Dunia mengatakan, kenaikan suku bunga secara simultan di seluruh dunia dan perubahan kebijakan lainnya, mungkin tak cukup mengembalikan inflasi ke level sebelum pandemi Covid-19. Maka itu, diperlukan lebih banyak penyesuaian pada tahun depan.

Tingkat inflasi inti global (tingkat inflasi inti dikurangi komponen energi) diperkirakan tetap mendekati lima persen pada 2023, sampai gangguan pasokan dan tekanan pasar tenaga kerja mereda. 

Bank sentral mungkin masih perlu menaikkan suku bunga 100-200 basis poin (bps) lebih dari perkiraan sebelumnya, untuk mempercepat pelandaian inflasi ke target dua persen untuk negara maju, 3-4 persen negara berkembang, 4-5 persen untuk negara berpenghasilan rendah.

 
Bank Dunia mengatakan, kenaikan suku bunga secara simultan di seluruh dunia dan perubahan kebijakan lainnya, mungkin tak cukup mengembalikan inflasi ke level sebelum pandemi Covid-19.
 
 

Perekonomian AS

Beberapa laporan riset lembaga keuangan internasional menyebutkan, AS mungkin lolos dari resesi 2023 karena dimungkinkan membuat jalan “keluar yang sempit”, berkat pasar tenaga kerja yang tangguh dengan angka pengangguran rendah (3,6 persen).

Alarm resesi yang kian nyaring, mendorong bank sentral AS melandaikan suku bunga acuan. The Fed diperkirakan, menurunkan suku bunga acuan demi meminimalkan perlambatan ekonomi.

Pejabat the Fed dalam risalah pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober lalu menyimpulkan, bank sentral harus segera memoderasi laju kenaikan untuk mengurangi risiko pengetatan berlebihan.

Sinyal ini membuka ruang bagi bank sentral menaikkan suku bunga acuan 50 bps pada pertemuan 13-14 Desember, lebih rendah dibandingkan eksekusi beberapa bulan terakhir, 75 bps. Kalangan staf the Fed menilai, risiko resesi meningkat menjadi 50:50.

 
Sinyal ini membuka ruang bagi bank sentral menaikkan suku bunga acuan 50 bps pada pertemuan 13-14 Desember, lebih rendah dibandingkan eksekusi beberapa bulan terakhir, 75 bps.
 
 

Ini peringatan pertama sejak otoritas moneter menaikkan suku bunga acuan pada Maret. Investor berekspektasi, the Fed menaikkan suku bunga acuan 50 bps pada pertemuan 13-14 Desember, dan mempertahankannya di kisaran lima persen hingga pertengahan 2023.

Para pejabat the Fed juga sepakat mengurangi penaikan suku bunga acuan sambil mengevaluasi dampaknya terhadap perekonomian.

Mereka masih melihat beberapa tanda inflasi mereda dan khawatir terjadi risiko terhadap sistem keuangan, seandainya the Fed terus bergerak dengan kecepatan agresif yang sama. Data terkini, inflasi per Oktober menurun signifikan di level 7,7 persen.

Ini menjauhi rekor tertinggi dalam 40 tahun di sembilan persen pada Juni, meski jauh di atas target dua persen. Hal menarik, seiring pelandaian inflasi, ekonomi AS membaik. Pada kuartal III-2022, tumbuh 2,6 persen (yoy) atau mengalahkan perkiraan pasar 2,4 persen (yoy).

 
Ini menjauhi rekor tertinggi dalam 40 tahun di sembilan persen pada Juni, meski jauh di atas target dua persen.
 
 

Perekonomian Cina

Perekonomian Cina diproyeksikan tetap suram, menyusul lonjakan kasus infeksi Covid-19 pada 24 November 2022. Ini mendorong kota-kota di seluruh negeri kembali memberlakukan //lockdown// lokal dan pembatasan lain yang memicu frustrasi di masyarakat.

Tak heran, Nomura memangkas perkiraan pertumbuhan PDB Cina  kuartal IV-2022 dari 2,8 jadi 2,4 persen (yoy), dan menurunkan prediksi pertumbuhan sepanjang 2022 ini dari 2,9 (yoy) menjadi 2,8 persen  (yoy).

Lembaga keuangan ini percaya pembukaan kembali masih merupakan proses panjang, dengan biaya tinggi sehingga menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB Cina tahun depan, dari 4,3  persen (yoy) menjadi 4,0 persen (yoy).

Untuk menjaga ekonomi tumbuh positif, otoritas moneter Cina mengisyaratkan lebih banyak stimulus moneter, termasuk pemotongan rasio persyaratan cadangan bank. Ini demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tertekan lonjakan kasus Covid-19 dan lockdown.

 
Perekonomian Cina diproyeksikan tetap suram, menyusul lonjakan kasus infeksi Covid-19 pada 24 November 2022.
 
 

Perekonomian Indonesia

Ekonomi negara ASEAN dinilai dapat menikmati posisi geopolitik istimewa pada tahun-tahun mendatang karena alasan sama. Rivalitas AS dan Cina mendorongnya berinvestasi dan memperdalam hubungan di kawasan ini.

Indonesia diuntungkan karena memiliki populasi muda yang tumbuh relatif cepat dan berpotensi memacu pertumbuhan 4,7-5,0 persen tahun depan. Tak berlebihan jika dikatakan, Indonesia  jauh lebih baik dalam menghadapi “badai sempurna” daripada negara lain.

“Badai sempurna” adalah kombinasi inflasi tinggi, resesi ekonomi, dan dampak konflik geopolitik yang meningkat.  

Perekonomian Indonesia memiliki pertahanan pada permintaan domestiknya yang tetap kuat, inflasi relatif terkendali, pasokan makanan terjamin, pandemi Covid-19 surut, dan pemulihan ekonomi Cina kemungkinan menopang permintaan untuk komoditas utamanya.

 
Perekonomian Indonesia memiliki pertahanan pada permintaan domestiknya yang tetap kuat.
 
 

Fundamental ekonomi Indonesia saat ini berbanding terbalik dengan 28 negara yang mengantre bantuan IMF. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2022 mencapai 5,72 persen dan diperkirakan 5,2 persen pada kuartal IV-2022.

Secara keseluruhan perekonomian Indonesia bisa tumbuh berkisar 5,1-5,3 persen pada 2022. Fakta ini jawaban Indonesia tak akan masuk resesi. Sebagai referensi, negara ini lolos krisis keuangan global pada 2008 karena respons kebijakan yang baik.

Ini modal berharga pengambil kebijakan untuk mendesain ramuan kebijakan saat perekonomian dunia melemah. Pertumbuhan PDB tahunan sejak kuartal IV-2021 hingga kuartal III-2022 yang di atas lima persen, bukti kecermatan penyusunan kebijakan yang efektif.

UMP DKI 2023 Hanya Naik Rp 259 Ribu

Kadin DKI masih keberatan UMP DKI naik 5,6 persen menjadi Rp 4,9 juta.

SELENGKAPNYA

Kenaikan Tarif PDAM Diklasifikasi

Kenaikan tarif baru air PDAM harus diiringi peningkatan kualitas air dan pelayanan.

SELENGKAPNYA

Bantu Korban Bencana, DD Gelar Konser Kemanusiaan

Beberapa musisi dan selebritas Tanah Air turut hadir dalam acara tersebut.

SELENGKAPNYA