Museum Muslim di Distrik Goalpara, Assam, India. | istimewa

Kisah Mancanegara

Di Assam, Museum Muslim Miya Timbulkan Kontroversi

Museum itu ia dedikasikan untuk budaya Miya yaitu komunitas Muslim berbahasa Bengali di Assam.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Gara-gara museum tentang Muslim, September lalu Mohar Ali ditangkap Otoritas Negara bagian Assam, India. Ali memang mendirikan museum itu di kediamannya di dusun di Distrik Goalpara. Museum itu ia dedikasikan untuk budaya Miya yaitu komunitas Muslim berbahasa Bengali di Assam. 

Ali adalah pemimpin partai politik lokal. Dia menghabiskan dana sekitar 7.000 rupee untuk mendirikan museum tersebut. 

Museum Miya ini didirikan di sebuah ruangan kecil. Museum itu menampung beberapa alat pertanian tradisional, alat tangkap yang terbuat dari bambu, dan gamusa atau pakaian tenun tradisional Assam. Ali mengatakan, barang-barang yang dipamerkan di museum itu adalah budaya orang Miya.

Dua hari kemudian, otoritas setempat menutup museum tersebut. Mereka juga menyegel rumah Ali. Otoritas Assam menuduh Ali telah menyalahgunakan rumahnya untuk tujuan komersial. Rumah itu memang diberikan kepada Ali berdasarkan skema pemerintah. 

 
Museum Miya ini didirikan di sebuah ruangan kecil. Museum itu menampung beberapa alat pertanian tradisional.
 
 

"Apa sebenarnya kejahatannya?,"  tanya ibunda Ali, Mohiton Bibi dengan mata yang berkaca-kaca, dilansir BBC, Senin (28/11).

Polisi juga menangkap dua orang lainnya yang membantu mendirikan museum. Polisi berdalih, penangkapan Ali tidak terkait dengan museum. 

Menurut polisi, penangkapan itu dilakukan karena Ali dan dua orang lainnya diduga memiliki hubungan dengan dua kelompok teror. Ketiganya didakwa berdasarkan undang-undang antiterorisme yang dikenal kejam.

Banyak pemimpin partai berkuasa Bharatiya Janata Party (BJP) menuduh Ali mencoba menciptakan perpecahan dalam masyarakat. Mereka mengatakan bahwa artefak tersebut mewakili identitas Assam dan bukan komunitas Muslim berbahasa Bengali.

"Memang ada komunitas bernama Miya?" kata menteri utama Sarma bulan lalu, beberapa jam sebelum museum itu disegel.

Pemimpin senior BJP, Vijay Kumar Gupta membantah tudingan bahwa partainya berupaya mengucilkan Muslim India. Gupta mengatakan, ada pihak yang mencoba untuk menciptakan perselisihan antar komunitas.

“Museum dimaksudkan untuk melestarikan warisan budaya suatu komunitas, tetapi hal seperti itu tidak terjadi di sini,” kata Gupta.

Penangkapan itu mengejutkan komunitas Muslim berbahasa Bengali di Assam. Para kritikus mengatakan, penangkapan itu adalah langkah terbaru dari upaya panjang untuk meminggirkan komunitas Muslim di Assam. 

Assam dihuni dengan ragam penduduk multi-etnis. Penduduknya terdiri dari orang Hindu berbahasa Bengali dan Assam, termasuk campuran suku dan Muslim. Mereka telah menyaksikan gerakan antiimigrasi melawan "orang luar". Istilah orang luar ini mengacu pada warga asal negara tetangga Bangladesh selama beberapa dekade. Khususnya, Muslim berbahasa Bengali, yang sering dituduh sebagai imigran tidak berdokumen.

Sejak berkuasa pada 2016, BJP telah menggalang basis suara komunitas nasionalis Hindu dan suku dengan mengumumkan kebijakan yang diskriminatif terhadap Muslim.  Beberapa politisi, termasuk menteri utama saat ini Himanta Biswa Sarma, juga menargetkan komunitas Muslim dalam pidatonya.

 
Assam dihuni dengan ragam penduduk multi-etnis. Penduduknya terdiri dari orang Hindu berbahasa Bengali dan Assam.
 
 

Setelah kembali berkuasa pada 2021, pemerintahan BJP mengusir paksa ribuan orang dalam upaya kontroversial melawan perambahan ilegal. Sebagian besar dari mereka yang terkena dampak adalah Muslim berbahasa Bengali.  

Di seluruh Asia Selatan, kata Miya digunakan sebagai sebutan kehormatan bagi pria Muslim. Namun di Assam, kata tersebut dianggap merendahkan dan digunakan untuk menggambarkan ribuan petani Muslim yang bermigrasi dari bagian timur Benggala yang kini berada di Bangladesh.  Assam berbagi perbatasan sepanjang hampir 900 kilometer dengan Bangladesh.

Sebagian besar dari para migran ini adalah petani miskin dan pekerja dengan upah harian. Mereka kerap menghadapi diskriminasi, dan sering digambarkan sebagai "penyusup" yang mengambil alih pekerjaan, tanah, dan budaya penduduk serta suku berbahasa Assam.

"Muslim asal Bengali telah menjadi sasaran empuk politik. Idenya adalah untuk menunjukkan kepada mayoritas (populasi) bahwa orang Miya bukan bagian dari masyarakat Assam, mereka adalah musuh," kata Dr Hafiz Ahmed, cendikiawan yang aktif menggalang kerja sama dengan warga setempat.

Kisah Kesombongan Kafir Makkah

Orang-orang kafir Makkah sombong karena mengira bahwa kelak di akhirat mereka akan diutamakan daripada kaum Mukminin.

SELENGKAPNYA

Ulama Perempuan Harus Dijadikan Mitra Strategis Negara

Ulama perempuan merupakan mitra strategis negara dalam perumusan kebijakan.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Pandangan Syariah Menonton Piala Dunia?

Saat kopi disebut sebagai minuman sejuta umat, menonton sepak bola itu tontonan sejuta umat.

SELENGKAPNYA