Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Motivasi Alquran

Kisah Kesombongan Kafir Makkah

Orang-orang kafir Makkah sombong karena mengira bahwa kelak di akhirat mereka akan diutamakan daripada kaum Mukminin.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Beberapa ayat dalam Alquran surah al-Qalam merekam pembelaan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya, kaum kafir Makkah menuduh Rasulullah SAW sebagai orang gila. “Maa anta bini’mati Rabbika bimajnuun.” (QS al-Qalam: 2).

Suatu saat, kata Allah, pasti akan tampak siapa yang sebenarnya gila. “Fasatubshiru wa yubshiruun; bi ayyikumu al-maftuun.” (QS al-Qalam: 5). Kemudian, kala orang-orang kafir itu merasa benar dengan kekafirannya, Allah menjawab, Dia tahu siapa yang sesat dan yang mendapatkan hidayah. 

Inna Rabbaka huwa a’lamu biman dhalla ‘an sabiilih, wahuwa a’lamu bi al-muhtadiin.” (QS al-Qalam: 7). Dijelaskan pula bahwa kesombongan orang-orang kafir itu disebabkan bahwa mereka mempunyai harta dan anak-anak yang banyak. “An kaana dzaa maaliw wa baniin” (QS al-Qalam: 14).

Ibnu Abbas menuturkan, orang-orang kafir Makkah menjelang Perang Badar berangkat dengan pasukan yang berjumlah banyak serta persenjataan yang lengkap. Dengan sombong, mereka pun sesumbar akan membunuh Nabi SAW dan para sahabat beliau. Setelah itu, dalam bayangan mereka, kemenangan akan dirayakan dengan pesta khamar di sekitar Ka’bah. 

Ternyata, dalam Perang Badar mereka mengalami kekalahan yang sangat mengenaskan. Tidak sedikit dari pembesar musyrikin Quraisy yang terbunuh. Mereka kembali ke Makkah dengan kesedihan.

Alquran menggambarkan kekalahan tersebut melalui kisah keluarga yang sombong dengan kekayaan, yakni dua kebun yang sangat luas dan subur. Mereka dengan sesumbar menyatakan, tidak mau memberikan hak fakir miskin pada hari panen nanti. Maka, Allah menghanguskan semua kebun mereka.

Seakan-akan dikatakan, “Wahai kaum kafir Makkah! Apa-apa yang kalian alami di Badar adalah sama dengan yang dialami oleh keluarga ini. Bila kalian kalah dan berantakan dalam Perang Badar, pemilik kebun ini juga sama. Kebunnya hangus karena kesombongan dan kekikiran.”

Kejadian itu bermula sesudah kedua orang tua mereka yang dermawan wafat. Anak-anak yang menerima warisan bersepakat, tidak akan lagi menyedekahkan hasil panen kebunnya kepada fakir miskin. Kesepakatan ini memanggil bencana.

Seketika, kebun yang subur itu hangus pada saat mereka tidur lelap pada malam hari. Keesokan harinya, mereka baru tahu, kesepakatan buruk yang mereka buat kemarin lalu benar-benar mengundang murka Allah.

Seorang mufasir, Muqatil, menceritakan, orang-orang kafir Makkah menjadi sombong karena mengira bahwa kelak di akhirat mereka akan diutamakan daripada kaum Mukminin. Sebagaimana mereka diutamakan di dunia dengan kekayaan dan kedudukan, dikiranya kaum kafir di akhirat kelak pun memperoleh perlakukan yang sama.

Beberapa ayat pada akhir surah al-Qalam membantah semua perkiraan itu. “Afanaj’alu al-muslimiina kal mujrimiin (Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa [orang kafir]?).”

Maa lakum kayfa tahkumuun (Apa dasar pandangan mereka?)” Apa kitab yang mereka jadikan pegangan? (Am lakum kitaabun fiihi tadrusuun). 

Siapa yang menjamin keselamatan mereka? (Salhum ayyuhum bi dzaalika za’iim). Mereka bungkam terhadap sejumlah pertanyaan yang tak terjawabkan.

Ki Bagoes Hadikoesoemo, Penggagas Tegaknya Syariat Islam

Ia telah merumuskan pokok-pokok pikiran KH Ahmad Dahlan hingga menjadi Mukaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Pandangan Syariah Menonton Piala Dunia?

Saat kopi disebut sebagai minuman sejuta umat, menonton sepak bola itu tontonan sejuta umat.

SELENGKAPNYA

Kuncinya Trust dan Pendekatan Personal

Masak kita berpuluh-puluh tahun menjadi pengekspor bahan mentah terus, sejak zaman VOC. Sudah 350 tahun kita mengekspor bahan mentah rempah-rempah, cengkeh.

SELENGKAPNYA