vp,,rm
Presiden RI Joko Widodo membaca koran Republika saat menerima kunjungan Tim Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Republika/Prayogi | Republika/Prayogi

Wawasan

Kuncinya Trust dan Pendekatan Personal

Masak kita berpuluh-puluh tahun menjadi pengekspor bahan mentah terus, sejak zaman VOC. Sudah 350 tahun kita mengekspor bahan mentah rempah-rempah, cengkeh.

Dalam suasana yang santai, ditemani nasi berbalut daun pisang dengan kudapan ikan, empal daging, dan sayur asam, Republika dijamu santap siang Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor, Jumat (25/11). Presiden menjelaskan banyak hal terkait perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Bali pada 15-16 November 2022 lalu.

Bagaimana cerita di balik pertemuan pemimpin G-20 itu, pendekatan personal yang dilakukan, hingga hasil konkretnya? Presiden juga mengupas soal perpolitikan nasional. Berikut kutipan wawancara khusus tersebut.

 

Banyak yang memuji pelaksanaan KTT G-20 sebagai acara yang sukses. Tanggapan Anda?

Saat kita memegang Presidensi G-20 ini, situasinya tidak seperti G-20 sebelum-sebelumnya yang normal. Saat ini situasnya sulit karena ada pandemi, krisis pangan, krisis energi, finansial. Ada resesi global yang mengintip. Rivalitas juga semakin tajam.

Ada perang di Ukraina dan sahut-sahutan antar negara udah kayak gitu. Geopolitiknya sangat sulit. Tapi alhamdulillah, hampir semua pemimpin G-20 hadir. Tidak ada pertemuan yang dibatalkan di tingkat menteri sampai kepala negara. Dan yang senang juga, tidak ada yang walk out. (Awalnya) saya tunggu ini, ramai, jadi sorotan.

Karena pada sesi pertama itu, waduh, nggak pernah ada di G-20. Biasanya kan menyampaikan pendapat. Kemarin (di G-20) kan gitu. Terus nembaknya kan ke situ (soal perang Rusia-Ukraina). Negara pendukung semua arahnya ke situ.

photo
Presiden RI Joko Widodo saat menerima kunjungan Tim Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). - (Republika/Prayogi)

Itu yang memang kita harapkan, Indonesia mampu menciptakan ruang dialog. Nggak apa-apa mengungkapkan. Ramainya itu sejak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan sambutan yang semestinya tiga menit, tapi sampai 24 menit. Saya hentikan dua kali, tapi tidak bisa. Untung nggak ada yang menginterupsi juga.

Mana keberhasilan yang paling membanggakan untuk Indonesia?

Yang paling penting itu keutuhan G-20 terjaga karena semula khawatir ada blok-blok kemudian pecah. Kemudian G-20 mampu bekerja dan menghasilkan Deklarasi Bali, mencapai kesepakatan dan hasil yang konkret. Misalkan seperti Dana Pandemi atau Pandemic Fund. Kemudian ada Resiliance and Sustainability Trust.

Yang duitnya jelas, Pandemic Fund, kita bisa mengumpulkan Rp 23 triliun. Di Resiliance and Sustainability Trust itu bisa 81 miliar dolar AS berarti Rp 1.200 triliun. Untuk dukungan fiskal negara-negara berkembang, muncul angka yang tidak sedikit, 200 juta dolar AS berarti Rp 12 triliun. Ini konkret, yang lain banyak banget. Semua konkret dan detail.

Yang paling sulit itu memang Deklarasi Bali. Sampai tengah malam itu hanya satu paragraf soal perang Ukraina. Satu paragraf mengenai condemnation ke perang Ukraina. Akhirnya, tengah malam sudah deal. Alhamdulillah, bisa istirahat.

 
Yang paling sulit itu memang Deklarasi Bali. Sampai tengah malam itu hanya satu paragraf soal perang Ukraina.
 
 

Bagaimana posisi kepemimpinan Indonesia di tengah geopolitik global?

Saya kira kepemimpinan Indonesia di tengah geopolitik yang sulit, di tengah tensi geopolitik yang tinggi, rivalitas yang tinggi, kita bisa mendorog terjadi kesepakatan-kesepakatan. Itu kan kita bangun tidak hanya sehari-dua hari. Menurut saya, aset terbesar kita menuju KTT G-20 kemarin adalah hubungan personal, hubungan pribadi, dengan para kepala negara, yang sudah kita bangun lama.

Kemudian membangun trust negara lain terhadap negara kita. Itu juga tidak mudah mendapatkan kepercayaan itu. Indonesia bisa dipercaya karena kita tidak menjadi proxy negara manapun, karena kita tidak berpihak pada negara manapun. Kita berpihak pada perdamaian, pada kemanusiaan. Saya kira goal itu yang saya lihat.

Working group kita memang bekerja luar biasa, pendekatannya bagus. Jangan jelekin sana jelekin sini, pokoknya semua dipuji, dibaikin semua.

Pemimpin-pemimpin itu merasa kita sebagai temannya. 

Semua (kepala negara dan pemerintahan) sudah kita datengin. Zelenskyy pernah kita datengin, Putin (Presiden Rusia Vladimir Putin --Red) kita datengin. Sampai dua mingguan sebelum hari H, masih telepon. Kita ajak bicara. Pendekatan seperti itu yang menurut saya lebih menyentuh. Kita kan nggak suka pendekatan formal. Kayak pendekatan ke Presiden UEA. Saya bilang ke beliau, ke rumahku yuk, tapi rumahku sempit, jelek, mau ndak? Ok, terus ke rumah. Jadi kayak gitu itu, pendekatan ndeso-ndesoan.

photo
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan paparan saat menerima kunjungan Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Republika/Prayogi - (Republika/Prayogi)

Tapi justru itu pendekatan yang berkesan ya?

Iya karena bukan pendekatan formal. Ketemu di pertemuan, hal-hal itu nggak akan muncul. Pendekatan personal yang kita lakukan, alhamdulillah bisa. Misal ke Xi Jinping, saya manggilnya "Kakak Besar". Kepada Presiden Joe Biden, "My Senior". Ke Putin "My Brother". Kita ini kan memang harus bisa menjadi jembatan. Kita tidak menjadi proxy negara manapun. Kita berani bilang, perang hentikan! Nggak peduli, ada Putin.

Tapi begitu ada sanksi Uni Eropa, saya ngomong apa adanya. Sanksi bikin makin ruwet, terutama buat kemanusiaan. Semua harga naik, artinya rakyat yang menderita. Pangan, pupuk, energi, semua.

Itu kita sampaikan apa adanya karena sanksi ke Rusia juga tak menyelesaikan masalah. Justru menambah ketegangan, membuat rakyat menderita, menjadi korban. Jika kita mau saling berbicara, duduk bersama, berdialog, itu yang akan memberi solusi win-win. 

Mengapa Eropa masih meneriakkan itu?

Masalah pride. Kebanggaan pemimpinnya. Kebanggaan negara. Karena mulai pada bertanya, "Why democracy doesnt work". Buat apa demokrasi kalau tidak menyejahterakan, apa gunanya demokrasi kalau kita tambah menderita.

 
Buat apa demokrasi kalau tidak menyejahterakan, apa gunanya demokrasi kalau kita tambah menderita.
 
 

Pendekatan personal itu menjadi rahasia keberhasilan di G-20?

Pendekatan personal dan membangun trust negara bahwa kita memang siap. Kita memang mampu. Itu yang ingin terus kita bangun karena yang mahal kan (trust) itu. Orang mau investasi, orang mau percaya kita, kalau nggak muncul sebuah trust.

Setelah G-20, Anda melihat peta Indonesia di gepolitik global seperti apa?

Kalau saya mengutip pernyataannya Pak Sekjen PBB Antonio Guterres bahwa Indonesia betul-betul menunjukkan kemampuan luar biasa untuk semua pihak mempromosikan dialog dan juga mencari solusi. Dan itu konkret, bisa ditunjukkan. Saya kira kita ingin menjadi bagian dari solusi. Karena di sini sudah ada masalah. Ruwet bareng, pusing bareng. Dan kita membuktikan kepemimpinan Indonesia. Kepemimpinan puncak Indonesia di geopolitik global. Kita bisa menjembatani perbedaan-perbedaan yang tajam. Itu yang memang nggak mudah.

Sebagai negara mayoritas Muslim, bagaimana pengaruh Indonesia di tingkat global saat ini?

Saya kira kita yang pertama mewakili negara mayoritas Muslim terbesar, tapi juga sebagai negara demokrasi terbesar. Itu yang membuat mereka respek. Saya kira juga sejarah panjang Indonesia juga berpengaruh, pengalaman Indonesia yang panjang yang menguasai panggung-panggung dunia itu juga ikut berpengaruh. Itu aset yang harus kita jaga selain tadi hubungan pribadi, membangun trust.

photo
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan paparan saat menerima kunjungan Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). - (Republika/Prayogi)

Bagaimana dampak G-20 ke perekonomian nasional?

Saya kira kalau melihat G-20, energi positif itu yang akan menyebabkan nanti ada capital inflow. Kalau orang percaya, maka ada capital inflow. Ada arus modal masuk, arus uang masuk. Itu yang sebetulnya kita inginkan. Misal terkait mekanisme transisi energi, kita mendapatkan kira-kira 20 miliar dolar. Itu kan gede banget. Itu kalau masuk, darah segar untuk ekonomi kita. Growth kita otomatis akan tinggi.

Kemudian energi positif di G-20 kemarin ada investasi yang business to business. Ada arus uang masuk. Karena kalau dari bilateral sendiri, komitmen itu kurang lebih 140-an proyek. Nilai total kira-kira 71 miliar dolar atau sekitar Rp 1.100 triliun.

Kita sekarang membuat task force. Ini ngurusin UEA. Ini Arab Saudi, ini Cina, ini Amerika, ini Jepang. Tim-tim itu yang kita gerakkan untuk menindakalnjuti hasil-hasil di G-20. Saya kira yang kita bangun adalah membangun kepercayaan, baik untuk hubungan sosial politik maupun ekonomi dan investasi.

Bagaimana tantangan terbesar kita ke depan dari sisi ekonomi?

Semua negara sudah nggak jelas, semua tidak pasti, semua sulit dihitung. Mereka ngomong sekarang, besok bisa berubah. Tiap hari berubah. Dolar AS juga akan makin menguat. Duit di negara-negara berkembang balik lagi ke Amerika.

Inflasi yang sulit dikendalikan. Semua negara menghadapi situasi yang sama. Perang makin nggak jelas. 2023 suram, gelap.

 
Semua negara sudah nggak jelas, semua tidak pasti, semua sulit dihitung. Mereka ngomong sekarang, besok bisa berubah.
 
 

Kecuali Indonesia?

Itu yang ngomong Kristalina (Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva -- Red). Indonesia adalah titik terang di antara dunia yang suram dan diulang di beberapa forum.

Menurut Anda, apa yang membuat Indonesia menjadi titik terang?

Fundamental ekonomi kita dari sisi fiskal-moneter, kita itu jauh lebih kuat dibandingkan negara lain. Antara pemegang otoritas fiskal dan moneter itu bisa saling sambung. BI dan Kemenkeu bisa bicara setiap minggu dan tidak pernah berbenturan. Negara lain tidak bisa seperti itu. Ini merasa independen, yang satu naikin suku bunga, yang lain defisit fiskalnya ditambah. Itu kan ngalor-ngidul.

Contoh urusan inflasi. Semua negara yang pegang peran inflasi itu kan pasti bank sentralnya. Di kita juga sama, BI, dengan instrumen menaikkan BI Rate. Tapi kita kan nggak. Pemerintah juga ikut terjun, langsung ke sumbernya. Di mana, pasar.

Misalkan beras, harga beras naik 100 perak, kita perintahkan bupati gubernur untuk menutup biaya transporotasi dari produsen ke pasar. Dari produsen ke konsumen sehingga harga yang dijual di sini harga produsen. Nggak ada kenaikan. Ditutup oleh biaya APBD.

Di semua negara mengalami kenaikan inflasi itu. Di kita bisa menurunkan. Bisa ngerem aja bagus. Lihat Argentina (inflasinya yang) 88 persen, Turki itu 85 persen. Eropa itu semua 11-12 persen. Kita bisa 5,7 persen itu luar biasa. Saya cerita itu (kepada pemimpin G-20), minder semua negara, memang som-som dikit.

photo
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan paparan saat menerima kunjungan Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Republika/Prayogi - (Republika/Prayogi)

Ke depan itu kan tahun politik. Apa harapan Pak Jokowi untuk calon presiden atau parpol?

Yang pertama muncul koalisi dulu. Koalisinya harus segera final. Dari kolisi bisa memunculkan kandidat. Nah ini yang kita harapkan kalau memllih calon betul-betul dengan moralitas yang bagus, integritas yang baik, untuk membangun negara ini ke arah yang lebih maju. Siapapun itu.

Kita juga pengen pemilu ini pemilu yang penuh keadaban. Penuh dengan kualitas. Namanya pesta demokrasi itu jangan bermusuhanlah. Demokrasi itu yang menggembirakan, bukan permusuhan. Nggak musim lagi gontok-gontokan.

Mustinya debat pemikiran, debat ide, gagasan besar untuk negara ini seperti apa. Dan juga tidak ada fanatisme yang berlebihan. Nggak anarkistis, adu domba. Yang kita kedepakan dalam kondisi sulit ini persatuan.

Negara ini negara besar. Yang paling penting pemimpin yang muncul memiliki kesadaran tinggi mengenai keberagaman Indonesia. Kita memimpin itu nggak hanya memimpin satu agama, satu etnik. Negara ini sangat besar. Memiliki suku yang banyak. Bahasa daerah, agama yang tidak satu. Kesadaran itu yang harus muncul.

 
Negara ini negara besar. Yang paling penting pemimpin yang muncul memiliki kesadaran tinggi mengenai keberagaman Indonesia.
 
 

Pada 2045 mendatang itu tahun emas. Bagaimana mengantarkan Indonesia ke sana siapapun pemimpinnya?

Peta jalan itu sudah jelas. Haluannya di dalam rencana pembangunan jangka panjang sudah ada. Jangan sampai ganti pemimpina, ganti kebijakan. Itu yang bahaya. Tidak ada kontinuitas, tidak ada keberlanjutan program.

Jangan sampai kita ini sudah SMP, balik lagi ke TK. Sudah sampai SMA, balik lagi ke SD. Jangan sampai kepentingan-kepentingan politik sesaat itu mengorbankan kepentingan besar negara ini.

Jadi haluan itu, visi itu, yang harus dipegang terus. Meski nggak apa-apa, pemimpin itu jengkoknya dangdut boleh, rock boleh, pop boleh, keroncong boleh. Kan jengkok tiap orang beda-beda. Tapi haluannya, visinya harus sama.

Saya kira fondasi yang telah dibangun, misalkan infrastruktur, yang sudah kita lakukan, bukan hanya untuk sekarang. Mungkin baru bisa dirasakan 5 sampai 10 tahun yang akan datang.

Hilirisasi sekarang akan lebih dirasakan 5 sampai 10 tahun akan datang. Harus ada konsisten terus. Sekarang mungkin baru nikel, mungkin saya nanti hanya sampai bauksit. Diteruskan lagi nanti emas.

Kalau semua itu bisa diproduksi di dalam negeri, lapangan kerjanya kan semakin meluas. Apalagi bangun ekosistem nikel, tidak hanya katoda atau prekursor. Tidak hanya baterai, tapi menjadi mobil listrik. Wah itu ekonomi kita akan ke masuk supply chain global, itu luar biasa. Itu yang sebetulnya jangan berhenti.

Itu kelemahan kita yang saya lihat sejak awal negara ini berdiri. Kontinuitas, keberlangsungan.

Hilirisasi itu kebijakan yang baik

Iya, tapi kita kalah di WTO. Saya sudah dengar dari sana. Tapi kalau kita nggak berani, nggak punya industri nikel, emas, aspal, timah, bauksit. Kapan lagi. Kalah, ya banding. Harus ada ikhtiar. Ada usaha.

Bagaimana menitipkan semangat ini kepada jajaran?

Ini yang harus terus saya teriakkan. Tapi saya optimistis, semua itu sudah diatur di aturan perundang-undangan kita seperti apa. Bagaimana mengekseusi itu menjadi sebuah pelaksanaan. Kalau saya setengah mainnya kepalang basah. Kalau kalah, ya nggak apa-apa, tapi paling ndak kita sudah punya industri nikel, industri setengah jadi. Ada alumina yang bisa menjadi badan pesawat, badan mobil. Barang jadi semua. Nilai tambahnya ada di dalam negeri, bisa menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. 

Dan pabrik-pabrik bisa mendekat?

Kalau itu sudah, mau tidak mau (mendekat). Kalau yang efisien, pasti akan datang ke tempat di mana ekosistemnya terbangun.

Jadi maju terus walau sudah kalah di WTO?

Saya nggak tahu, katanya ada banding. Hilirisasi harus terus. Masak kita berpuluh-puluh tahun menjadi pengekspor bahan mentah terus, sejak zaman VOC. Sudah 350 tahun kita mengekspor bahan mentah rempah-rempah, cengkeh. 

 

 
Masak kita berpuluh-puluh tahun menjadi pengekspor bahan mentah terus, sejak zaman VOC. Sudah 350 tahun kita mengekspor bahan mentah rempah-rempah, cengkeh. 
 
 

Pendekatan personal ini menjadi ikhtiar untuk menurunkan hambatan?

Betul. Hambatan-hambatan itu bisa dilakukan dengan pendekatan personal. Kita bisa ngomong lho, di Indonesia pengangguran nggak sedikit. Ingin juga punya nilai tambah, mencetak lapangan kerja untuk rakyat kita. Nikel ini milik kita, masak nggak boleh mengelola di industri kita sendiri. Masak dilarang. Dikelola sendiri di dalam negeri tidak apa-apa, tapi jangan dilarang ekspornya. Kalau nggak kita larang, industrinya tidak akan mendirikan di sini. 

Apa kebijakan terkait teknologi digital agar Indonesia tak hanya jadi pasar, tapi juga menikmatinya?

Kita ini kan pasar besar, potensinya juga gede banget, Rp 4.300 triliun. Tapi yang kita khawatirkan, yang nikmati bukan kita sehingga regulasi dan kemajuan teknologi itu harus betul-betul bisa paralel. Kita ini kan ketinggalan terus, dan untuk yang kecil-kecil juga harus segera angkut ke platform digital, seperti UMKM kita.

Sekarang kan 64 juta yang masuk (digital platform), dalam tiga tahun sudah 19 juta. Target kita 30 juta UMKM masuk ke platform digital. Tapi ini juga masih lambat, meski negara lain lebih lamban dari kita.

Perusahaan teknologi ini kan menguasai, meski sekarang banyak yang rontok juga. Terlalu banyak membakar uang. Perusahaan-perusahaan teknologi ini memang kita nggak bisa cegah karena kita nggak punya platform sendiri. 

photo
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan paparan saat menerima kunjungan Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). - (Republika/Prayogi)

Kalau pakai kebijakan?

Terus nanti kita mau pake platform digitalnya apa. Yang bisa melawan itu kan hanya di Cina saja. Negara lain nggak ada. 

Paling tidak kebijakannya untuk menyiapkan?

Yang paling penting itu kebijakan, policy-nya. Supaya bisa mengikuti, melindungi, mencegah dia tidak masuk terlalu jauh. Seperti contoh sekarang, platform digital ini kan berbicara interaksi sosial, tapi juga masuk ke ekonomi. Maaf sebut merek ya, kayak Tiktok, bisa juga digunakan untuk ekonomi. Aturannya bagaimana kalau nggak punya regulasinya?

Dari sisi itu yang akan dibenahi?

Inggih, termasuk masalah pajak. Sekarang iklan-iklan kan masuk ke sana semua. Cara memajakinya seperti apa. Instrusmennya dengan apa. Semua negara kocar-kacir mengikuti kemajuan digital platform. Betul-betul ngak mudah.

Di forum ASEAN ngomong itu, di G-7, G-20 itu. Di APEC juga ngomong itu. Setiap hari pasti muncul teknologi yang baru. Outing kita. Ada blockchain, cryptocurrency, metaverse, NFT. Yang satu baru apa, ini apa, sudah muncul baru.

Sekarang perusahaan teknologi banyak yang gogrok karena sudah nggak mau bakar duit lagi. Mulai layoff banyak sekali. Nggak hanya di luar, di Indonesia juga sama.

photo
Presiden RI Joko Widodo menyampaikan paparan saat menerima kunjungan Republika di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (25/11/2022). Republika/Prayogi - (Republika/Prayogi)

Kondisi di dalam negeri juga sama

Saya juga heran. Bisnis kok yang dihitung valuasi. Bisnis itu ya Ebitda berapa, profit berapa, internal rate of return berapa, kan itu. Saya kan juga bisnis ndeso-ndesoan, tapi yang riil.

Acara Pak Presiden luar biasa banyak. Apa rahasia supaya tetap enerjik?

Capek juga kemarin. Dari KTT ASEAN 4 hari di Kamboja, ke Bali 4 hari. Terus ke Solo, jemput Muhammad Bin Zayed ke bandara yang sudah sampai, balik lagi siang ke Bali. Setelah itu ke Thailand, balik Solo untuk muktamar Muhammadiyah. Setelah itu berharap bisa istirahat. Eh turun dari pesawat, dapat laporan ada gempa. Tapi nggak apa-apa kelihatannya nggak ada yang berat, semalam 20 yang meninggal. Pas pagi hari dilaporkan sudah 100 meninggal. Waduh

Jadi rahasianya: jamu jahe temulawak, tapi membuat sendiri, jangan sachet. Beli Rp 10 ribu sudah dapat banyak. Ditumbuk, diiiris, dikasih air panas. Tiap pagi diminum. Saya melakukan ini mungkin sudah hampir 21 tahun. 

Kalau temulawaknya dicampur yang lain?

Diberi madu lebih baik. Itu akan memperbaiki curcuma, hati, pencernaan, ginjal. Memperbaiki semua. Alasan ilmiahnya ada. Itu saya dapat dari dalem Keraton. Orang ndeso, tapi denger-denger (sambil tertawa). Secara kedokteran ada ilmiahnya dan ini warisan leluhur.

Rahasia secara spiritual?

Ya selalu bersyukur.

 

Bersiap Menghadapi Menopause

Semua perempuan harus siap menjalaninya sebagai proses alami yang patut disyukuri.

SELENGKAPNYA

Gempa Mengerikan di Cianjur, Sukabumi, Minahasa di Masa Lalu

Gempa di Sukabumi pada 1900 menimbulkan getaran tanah akibat gempa terjadi secara vertikal.

SELENGKAPNYA

Menghafal Alquran dengan Metode Sabaq Sabqi

Santri di tingkat SMP ditargetkan lulus dengan memiliki hafalan Alquran sebanyak 5 juz.

SELENGKAPNYA