Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Nostalgia

Gempa Mengerikan di Cianjur, Sukabumi, Minahasa di Masa Lalu

Gempa di Sukabumi pada 1900 menimbulkan getaran tanah akibat gempa terjadi secara vertikal.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Dokter Tumbelaka menyampaikan informasi soal gempa di Minahasa. Pada 25 Mei 1932 itu penggalangan dana dilakukan di gedung Koninklijke Natuurkundige Vereeniging di Batavia. Bataviaasche Nieuwsblad edisi 26 Mei 1932 menyebut, Tumbelaka merupakan ketua panitia penggalangan dana untuk korban gempa Minahasa.

De Indische Courant pada Kamis, 19 Mei 1932, melaporkan terjadinya gempa di Minahasa, tapi tidak melaporkan tanggal kejadiannya. “Selasa dini hari pukul 02.00 terlihat semburan api di kawah Gunung Soputan dan kemarin pagi pukul 05.30 terasa getaran ringan lagi,” tulis De Indische Courant.

Gempa itu digambarkan telah menghancurkan Minahasa secara mengerikan. Gempa itu membuat tanah di berbagai tempat di Ratatotok (sekarang merupakan kecamatan di Minahasa Tenggara) terbelah dan menyemburkan air. Pada hari pertama gempa, dilaporkan ada 20 pohon kelapa tumbang dan kebun kelapa berubah menjadi lautan air. Enam rumah juga dilaporkan ambruk.

 
Gempa itu digambarkan telah menghancurkan Minahasa secara mengerikan.
 
 

Di Tempang, Langowan, gempa memunculkan mata air panas di beberapa tempat. Mata-mata air itu bukan menyemburkan air, melainkan menyemburkan lumpur. Di Buyat, Bolaang Mongondow, tanah juga terbelah, tetapi tak ada laporan menyemburkan air. Sebanyak 40 rumah dan masjid dilaporkan hancur di Ratatotok.

Pada malam penggalangan dana di  Koninklijke Natuurkundige Vereeniging, dihadirkan GSSJ Ratulangi yang memberikan kuliah umum mengenai Sulawesi Utara dan penduduknya. Ia mengungkapkan, Sulawesi Utara terdiri atas empat wilayah besar.

Gorontalo dengan penduduk 180 ribu jiwa, Bolaang Mongondow 71 ribu jiwa, Minahasa 310 ribu jiwa, dan Kepulauan Sangir-Talaud berpenduduk 158 ribu jiwa. Penduduk Gorontalo dan Bolaang Mongondow mayoritas beragama Islam (275 ribu jiwa) dan penduduk Minahasa dan Sangir-Talaud mayoritas beragama Kristen (468 ribu jiwa).

Jumlah penduduk yang disebut Ratulangi meningkat 24 persen dibandingkan data sensus 2020, lebih besar dari pertumbuhan penduduk di Jawa yang hanya 19 persen. Tapi, banyak pemuda Minahasa yang merantau.

Mereka yang bekerja di luar Sulawesi Utara ada 6.000 tentara dari Minahasa, ada 10 ribu pekerja dari Minahasa. Jumlah ini mencapai 20 peresen dari total jumlah pemuda Minahasa. Ini tentu merugikan Minahasa karena kehilangan banyak pekerja untuk menggarap perkebunan di Minahasa.

Kopra menjadi andalan utama hasil perkebunan Minahasa. Ekspor kopra pada 1929 mencapai 25 juta gulden dengan harga kopra 12 gulden-14 gulden per pikul. Pada 1932, harga kopra jatuh pada harga 3 gulden-4 gulden per pikul. “Dapat dikatakan bahwa kemiskinan kini sedang mendera dan diperparah oleh bencana alam,” kata Ratulangi.

 
Gempa yang membuat tanah terbelah lalu menyemburkan air, mata air menyemburkan lumpur, dan Gunung Soputan menyemburkan api.
 
 

Di kegiatan malam penggalangan dana itu tak disebutkan jumlah dana yang terkumpul. Gempa yang membuat tanah terbelah lalu menyemburkan air, mata air menyemburkan lumpur, dan Gunung Soputan menyemburkan api, memang memberikan perasaan ngeri terhadap dampak yang dimunculkannya.

Belum ada laporan dari tempat lain yang menggambarkan gempa seperti yang terjadi di Minahasa itu. Tapi, gambaran yang berbeda dan mengerikan didapat dari laporan kejadian gempa di Cianjur. Pada gempa 1900, saat gempa berlangsung, dilaporkan adanya suara bergemuruh dari dalam tanah.

Di wilayah Cianjur dan Sukabumi pernah terjadi gempa pada 1844, 1879, dan 1900. Dua gempa terjadi dengan gerakan tanah secara vertikal. Bataviaasch Nieuwsblad edisi 15 Januari 1900 melaporkan, gempa di Sukabumi pada 1900 menimbulkan kerusakan yang parah karena getaran tanah akibat gempa terjadi secara vertikal, tidak horizontal seperti biasanya.

Gempa muncul pada tengah malam, pada Ahad malam, 14 Januari 1900, pukul 23.30. Durasi gempa dengan getaran yang dahsyat hanya 30 detik. Tapi, kemudian disusul dengan gempa susulan.

 
Gempa di Sukabumi pada 1900 menimbulkan kerusakan yang parah karena getaran tanah akibat gempa terjadi secara vertikal, tidak horizontal seperti biasanya.
 
 

Selama guncangan gempa terjadi berulang kali, suara gemuruh terdengar dari dalam tanah. Warga Sukabumi akhirnya semalaman menyelamatkan diri di luar rumah. Guncangan hebat mengakibatkan bangunan-bangunan berderit. Lalu ada yang atapnya runtuh, ubin lantai berantakan. Banyak pula rumah yang ambruk. Pada esok harinya, dilaporkan ada 47 rumah yang ambruk.

Gempa Sukabumi ini sudah dimulai dengan getaran-getaran ringan sejak 4 Januari 1900. Sejak itu, warga Sukabumi sudah ada yang mengungsi ke Bogor. Pada 15 Januari 1900 diketahui, jalur kereta api Parungkuda-Cianjur terputus, tanah longsor akibat gempa itu terjadi di jalur rel kereta.

Tidak hanya di satu titik. Jalur lalu lintas Batavia-Sukabumi-Cianjur terputus. Halte-halte Gandasoli dan Cibeber roboh. Halte Cisaat juga rusak.

Pada 16 Januari 1900 transportasi untuk penumpang dan surat mulai dipulihkan untuk jalur Sukabumi-Gandasoli. Tapi, transportasi ini belum melayani pengangkutan hewan ternak dan barang.

Gempa dengan guncangan tanah secara vertikal juga terjadi pada 15 Fabruari 1844. Gempa terjadi di Cianjur pukul 12.15. Angin kencang menyertai kejadian gempa. Banyak pohon tumbang dan rumah ambruk.

Cianjur juga pernah dilanda gempa pada Maret 1879. Javasche Courant melaporkan, getaran gempa terjadi berulang-ulang dari malam hari pada 28 Maret 1879 hingga sepanjang hari pada 29 Maret 1879. Gempa juga masih terjadi pada 30 Maret 1900, pukul 01.00 dini hari, pukul 07.45, dan pukul 09.25.

Rumah-rumah warga desa banyak yang hancur. Beberapa rumah Eropa dan Cina juga runtuh. Banyak yang mengalami luka-luka, termasuk bupati Cianjur yang mengalami luka ringan. Sebanyak tujuh orang, termasuk kepala penghulu dilaporkan meninggal.

Musibah Buka Peluang Pahala

SELENGKAPNYA

Bencana Alam, Azab atau Musibah?

Apa yang belum lama ini dialami masyarakat Cianjur dan sekitarnya adalah musibah.

SELENGKAPNYA

Tobatnya Ulama Pengejar Dunia

Dahulu terdapat ulama yang silau akan ambisi duniawi, tetapi akhirnya bertobat kepada Allah.

SELENGKAPNYA