ILUSTRASDahulu, dikisahkan seorang ulama yang silau terhadap dunia, hingga meninggalkan agama dan jadi gembala ternak milik tuan yang memurtadkannya. | DOK FLICKR

Kisah

Tobatnya Ulama Pengejar Dunia

Dahulu terdapat ulama yang silau akan ambisi duniawi, tetapi akhirnya bertobat kepada Allah.

Dahulu kala, ada seorang ahli ilmu-ilmu agama yang memiliki banyak murid. Para santrinya sangat senang berada di majelisnya. Sang guru pun dengan sabar mengajarkan kepada mereka berbagai aspek ajaran Islam.

Suatu hari, ulama tersebut berceramah perihal karakteristik hati manusia. “Allah Maha membolak-balikkan hati,” katanya, “maka dari itu, berdoalah kepada-Nya agar hati kalian diteguhkan dalam iman dan Islam.” Nasihat itu pun tertanam dalam diri para muridnya.

Beberapa pekan berlalu sejak saat itu. Saat sedang melalui sebuah kota, tanpa sengaja ulama itu berpapasan dengan seorang perempuan yang cantik mempesona. Dai tersebut langsung jatuh hati kepada sang wanita. Seakan-akan lupa pada tujuan awal perjalanannya, ia diam-diam mengikuti gadis tersebut dari kejauhan.

Ternyata, perempuan ini tinggal di sebuah permukiman yang dekat dengan gereja. Karena terlanjur jatuh cinta, ulama ini kemudian mendatangi rumah tersebut. Ia diterima oleh bapak si gadis. Kepadanya, lelaki Muslim tersebut menyampaikan niatnya untuk menikah dengan putri sang tuan rumah.

“Boleh saja engkau menikah dengan anak gadisku, asalkan memenuhi syarat,” kata ayah perempuan tersebut.

“Apakah saja itu?”

“Pertama-tama, lepaskan jubah dan sorban yang ada pada dirimu!” sambung si tuan rumah.

Dai itu memahami maksud di balik perkataan tersebut. Maknanya tidak sekadar menanggalkan pakaian, tetapi meninggalkan agama. Karena hatinya dipenuhi gejolak untuk menjadikan gadis itu miliknya, sang ulama menuruti.

Alim yang telah murtad itu keesokan harinya bertamu lagi ke rumah dekat gereja itu. Dengan penuh percaya diri, ia memberi tahu si tuan rumah perihal keadaannya kini yang menjadi seagama dengan si gadis. Namun, bapaknya perempuan tersebut menambahkan satu lagi persyaratan, yang mesti dipenuhi bila lelaki itu hendak menjadi menantunya.

 
Engkau harus mengurus domba-domba kami yang masih kecil. Kalau hewan ternak itu sudah besar, barulah engkau boleh menikah dengan anakku.
 
 

“Engkau harus mengurus domba-domba kami yang masih kecil. Kalau hewan ternak itu sudah besar, barulah engkau boleh menikah dengan anakku,” ucapnya.

Lagi-lagi, ulama yang telah meninggalkan Islam itu menyanggupi ketentuan si tuan rumah. Sebab, hati dan pikirannya hanya memikirkan cara untuk memiliki gadis yang elok itu. Jadilah ia mencampakkan ilmu-ilmu agama yang selama ini dimiliknya, untuk menjadi seorang tukang penggembala domba.

Di tempat lain, murid-muridnya kebingungan. Sudah beberapa pekan majelis libur karena tidak ada guru. Mereka berusaha mencari keberadaan sang alim. Semua rumah di desa disambangi, tetapi hasilnya nihil.

Kemudian, seorang penjaga perbatasan memberi tahu bahwa ulama tersebut telah menjadi pemiara binatang ternak di sebuah kota yang berjarak cukup jauh. Mendengar keterangan itu, para santri hampir-hampir tidak percaya. Untuk apa seorang yang berilmu meninggalkan madrasah dan memilih pekerjaan sebagai gembala?

Demi memeriksa kebenaran informasi ini, seorang santri senior pergi ke kota yang dimaksud. Sesampainya di daerah tujuan, sang murid bertanya kepada banyak orang, apakah mereka pernah berjumpa dengan seorang ulama dari desanya. Beberapa warga lalu memberi tahu bahwa ada seorang yang mulanya selalu berjubah dan sorban kini menjadi penggembala domba-domba. Bukan hanya itu, orang tersebut juga telah murtad dari Islam.

Santri itu kemudian menuju peternakan domba yang dimaksud. Benar saja, ia menemukan ulama yang sedang dicari-cari. Anehnya, orang alim itu seperti tidak mengenali muridnya tersebut.

 
Wahai guru, kami mencarimu ke mana-mana. Alhamdulillah, engkau tampak sehat walafiat
 
 

“Wahai guru, kami mencarimu ke mana-mana. Alhamdulillah, engkau tampak sehat walafiat,” kata sang santri.

Ulama itu diam saja, pura-pura sibuk dengan pakan domba-domba. Setelah berulang kali disapa, barulah ia membalas salam. Saat ditanya perihal kepindahan agama, ia pun mengangguk pelan.

Apakah muridnya itu terkejut, murka, dan mencaci-maki gurunya? Ternyata, tidak demikian. Santri ini malah tersenyum, lalu berkata dengan lemah lembut, “Wahai guru, hari ini aku lebih mencintamu dibanding hari-hari silam. Dahulu, engkau menasihati kami bahwa Allah Maha membolakbalikkan hati manusia. Engkau pun mengajarkan kami bahwa tidak ada yang bisa diperbuat manusia kecuali atas izin Allah. Kami pun diingatkan, manusia adalah tempatnya salah dan dosa.”

Murid itu meneruskan, “Maka hari ini, kami menyaksikan bahwa semua kata-katamu terbukti. Hanya Allah yang Maha membolakbalikkan hati. Kembalilah, guru ….”

Mendengar perkataan muridnya, dada ulama itu seakan terguncang. Alim ini menangis, menyesali perbuatannya yang telah meninggalkan Islam. Setelah bersyahadat, ia pun memeluk santrinya itu dan kembali ke desanya.

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat.

SELENGKAPNYA

Islamic Relief: Perempuan Rentan terhadap Perubahan Iklim

Lombok menjadi salah satu pulau yang berisiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim.

SELENGKAPNYA

Ustaz Faisol Nasar Kembali Nahkodai Al Irsyad

Al Irsyad akan menggenjot bidang pendidikan dan memperbanyak amal usaha.

SELENGKAPNYA