Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Ibn Abbas menyebutkan bahwa surah al-Qalam diturunkan pada urutan kedua setelah surah al-Alaq, yaitu perintah iqra (membaca). Suatu bukti bahwa ilmu dan pena satu kesatuan tak terpisahkan.

Para ulama mengatakan bahwa orang yang mencari ilmu tanpa menulisnya dengan kalam seperti pemburu yang tidak mengikat hasil buruannya. Pesan pokok surah al-Qalam adalah pembekalan bagi kaum Muslimin agar selalu menunjukkan akhlak mulia.

Inti utama diutusnya Rasulullah SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, “innamaa buitstu liutammima makaarimal akhlaaqi”. Dibuka dengan huruf al-muqthaah, nuun, surah al-Qalam merekam sumpah Allah dengan pena, “wal qalami wa maa yasthuruun” (QS 68: 1), ini untuk menunjukkan keagungan pena yang Allah ciptakan.

Ibn Abbas berkata bahwa yang pertama-tama Allah ciptakan adalah pena, lalu ia diperintahkan untuk menulis semua ketetapan-Nya yang akan terjadi sampai hari kiamat. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Idris yang melanjutkan tugas risalah setelah wafatnya Nabi Adam adalah orang yang pertama-tama diajarkan oleh Allah ilmu menulis. Artinya, sejak awal kehidupan di bumi, ilmu dan pena adalah hakikat yang tidak pernah terlepas dari perjalanan sejarah manusia.

Ketika menjelaskan ayat tentang akhlak Nabi dalam surah al-Qalam, ulama tafsir mengatakan bahwa akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat, “wa makaarimul akhlaaqi hiya shalaahud dunya wad diin wal ma’aad”. Inilah kemaslahatan yang menjadi misi utama risalah Rasulullah SAW.

Juga inilah makna rahmat dalam ayat: “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin” (QS 21: 107). Karena itu Allah memuji Rasulullah SAW: “Wa innaka la’alaa khluqin azhiim (Sesungguhnya engkau Muhammad berada pada akhlak mulia).” (QS 68: 4). Artinya, kebaikan akhlak Nabi sebagai teladan bagi kaum Muslimin telah mencapai puncak kemuliaannya.

Cukuplah persaksian Allah ini sebagai bukti keagungan akhlak Rasulullah SAW. Tidak ada persaksian yang lebih objektif daripada persaksian-Nya. Sebab, Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Bila ada seseorang bersaksi atas kebaikan orang lain, itu pasti hanya berdasarkan apa yang dia ketahui secara subjketif. Namun, persaksian Allah adalah Maha Objektif.

Ibunda ‘Aisyah bersaksi bahwa akhlak Nabi adalah Alquran. Seorang sahabat yang berkhidmah kepada Nabi selama sepuluh tahun, namanya Anas bin Malik, bersaksi bahwa Nabi tidak pernah membentaknya dan tidak pernah menegur atau mempertanyakan apa yang ia perbuat (HR Bukhari-Muslim).

Supaya bisa meniru akhlak Rasulullah SAW, surah al-Qalam ayat 8-13 mengajarkan agar menghindari orang-orang yang berperilaku buruk sebagaimana berikut, yaitu: para pendusta (al mukazzibuun), orang yang banyak bersumpah (hallaf), orang yang suka mencela (hammaz), orang yang selalu mengadu domba (masysyaain binamiim), kikir dan mencegah kebaikan bagi orang lain (mannaa’in lilkhair), suka melampaui batas (mu’tadin), selalu berbuat dosa (atsiim), berperilaku kasar (utullin), dan dikenal dengan keburukannya (zaniim).

Akhlak Muslimah Calon Tetangga Rasulullah SAW di Surga

Ada sepuluh akhlak bagi Muslimah yang ingin menjadi tetangga Rasulullah SAW kelak di surga.

SELENGKAPNYA

Siti Walidah Dahlan, Perempuan Pejuang dari Aisyiyah

Menantang zaman mengangkat derajat perempuan.

SELENGKAPNYA

Wapres Apresiasi Kontribusi Al Irsyad

Muktamar ke-41 diharapkan menjadi penanda kebangkitan Al Irsyad.

SELENGKAPNYA