Cerpen Bukan Tempat Pulang | Daan Yahya/Republika

Sastra

Bukan Tempat Pulang

Oleh NURHAYATI

Azan ashar baru saja selesai berkumandang, menepuk pelan pundak hari yang mulai lelah. Hawa dingin di kota tanpa salju itu mulai terasa. Para petani bawang bergerak meninggalkan ladang. Sebagian langsung pulang ke rumah. Sebagian lagi singgah membersihkan diri di kulah masjid dan menunaikan ashar.

Begitu pula dengan Dasrul. Ia baru saja menangkupkan tangan menyudahi doa setelah shalat kala itu. Ia sapu wajahnya yang sudah makin menua. Matanya menjelajah tiang-tiang masjid dan mimbar di depannya. Masjid itu masih sama seperti tahun-tahun yang lalu.

Dasrul, seorang laki-laki yang paham dengan agama. Dia pernah menjadi guru mengaji di Kampung Baruan. Tidak bergaji tetap, tetapi murid-murid membayarnya di musim panen bawang.

Mereka menolong Dasrul memanen sampai maurek. Tidak hanya murid, orang tua mereka pun turun tangan. Para perempuan membawakan kopi dan pangacok. Sementara yang laki-laki mencabut dan mengantarkan hasil panen sampai di rumah.

Namun, semenjak Dasrul suka dengan salah satu ragam bunga di kampung sebelah, kegiatan ke surau tak lagi menjadi rutinitasnya. Dia sering libur mengajar, beberapa kali anak-anak pulang tanpa cerita, hingga akhirnya berhenti total. Lantas tersiar kabar bahwa Dasrul sudah sah menjadi pemilik bunga itu.

Indak kanyang dek rumpuik saruik!” Begitu omongan orang yang beredar di Kampung Baruan tentang Dasrul sebab pilihan hidupnya itu. Kalimat itu tak lain perumpamaan kawin batambuah yang orang namakan.

Sejak menjadi bahan pembicaraan orang kampung, cukup lama Dasrul tidak terlihat.

Beberapa orang kampung itu sudah lupa dengan guru mengaji itu. Bahkan, di sebuah rumah, ada yang menganggapnya sudah mati.

Namun, di hari yang ashar ini, ia kembali ke rumah istri pertamanya. Di mana saat itu anaknya telah sarjana. Apa yang terjadi puluhan tahun lalu seolah tak disadarinya. Ia pulang tanpa rasa bersalah. Kepulangannya ia bawa beserta harapan istri pertama dan anaknya mau menerimanya kembali. Dasrul serupa pohon yang dulu kokoh dan kini tak lagi mampu menahan badai. Daunnya tak lagi sanggup memberi teduh pada bunga di kampung sebelah itu.

Ya, karena kokoh itu pulalah yang dulu membuat bunga di kampung sebelah tergoda menjadi istri keduanya. Secara lahir, Dasrul memang terlihat mapan sebagai seorang petani bawang. Dalam sekali panen seratus hari bisa mengantongi puluhan juta dari hasil panen bawang. Padahal, modal berladang murni dari gaji istri pertamanya.

Sebaliknya, Dasrul pun kalap. Ia tergoda dengan keelokan rupa bunga di kampung sebelah yang pandai berhias diri. Tidak seperti istri pertamanya yang tidak tahu banyak tentang produk kecantikan apalagi memakainya.

“Ke mana saja selama menghilang, Guru,” tanya Pak Jorong tatkala ia dan Dasrul bertemu di halaman masjid.

Dasrul tersenyum.

“Terlalu wangi bunga di kampung sebelah rupanya, hingga Guru enggan meninggalkannya,” lanjut Pak Jorong.

Kedua orang tua itu melanjutkan obrolannya, tanpa mereka ketahui seorang anak laki-laki memandang tajam pada salah seorang di antara mereka. Ialah Raja, anak sulung Dasrul.

Ia yang berdiri di seberang masjid masih ingat betul gaya ayahnya memakai kopiah. Pun dengan postur tubuh yang masih belum banyak perubahan.

Semprot merk Tasco dan seember pestisida yang siap dibawa pulang, kembali ia taruh di pematang. Raja melangkah mengelilingi kebun bawang yang mulai muncul tombak di setiap umbinya. Satu kali, dua kali. Ia melakukannya hanya untuk mengulur waktu seolah ada titik yang ia nantikan. Sementara matanya tetap awas mengarah ke halaman masjid, pada dua orang yang masih asyik berbincang, hingga dua orang itu berpisah. Satu orang menuju jalan arah ke utara, yang satu lagi mengarah ke rumah ibunya.

Menyadari hal itu, Raja bergegas menghubungi seseorang. “Datanglah ke rumah, Pak,” katanya. 

Sementara Raja menyusul pulang kemudian. Ia masuk melalui pintu samping. Pintu yang menghubungkan ruang dapur dan gudang tempat penyimpanan alat-alat pertanian.

Melihat alat pertanian itu terkenang masa lalu di mana ia dan ayahnya serta orang-orang kampung yang selalu menolong mereka tiap kali musim panen. Kesal hatinya mengenang masa itu. Sebab kisah selanjutnya memilukan bagi Raja beserta ibunya. Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap menanti Maghrib.

Malam itu, selepas makan bersama dengan suasana yang dingin, semua orang beranjak meninggalkan Darul sendirian. Kebetulan malam itu ada siaran bola. Ia tidak merasa kesepian dan masih merasa tidak ada yang aneh.

Permainan sudah berlangsung beberapa menit, bola matanya tak beralih dari barang elektronik besar berbentuk segi empat itu. Namun sebab ia yang telah tua, mudah sekali ia jatuh tertidur di sofa. Kini, giliran televisi yang menontonnya. Tipis-tipis suara ngoroknya terdengar di ruang tengah. Suara itu diselingi ketukan pintu dari luar.

Dasrul tersentak. Permainan bola masih riuh di layar televisi. Ia melangkah ke pintu depan.

“Eh, Pak Jorong, masuklah. Baru mulai babak kedua,” ucap Dasrul. “Datang bersama pemuda lain rupanya. Masuklah! Biar kupanggilkan Raja, kita nonton bareng.”

“Tidak usah, Guru. Kami hanya ingin ngobrol dengan Guru saja,” kata Pak Jorong.

Pak Jorong masuk diikuti tiga orang lainnya, salah satunya ketua pemuda. Rombongan yang lainnya menunggu di halaman.

“Pak Guru, apa hukum seorang suami yang tidak memberi nafkah lahir batin kepada istri lebih tiga bulan?"

Dasrul terdiam sejenak. Ia paham, pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya. Dasrul tidak marah. Ia mengeluarkan kata-kata berisi alasan sebab kembali ke rumah itu. Seterusnya ia ucapkan pula rencana akan menyelesaikan permasalahannya secara adat dan agama.

Meski telah panjang lebar Dasrul menjelaskan, Pak Jorong membalas dengan sebuah ucapan, “Sebaiknya Guru keluar sekarang dari rumah ini!” Ia lantas menyampaikan apa yang Raja pintakan padanya sore tadi. “Rumah peninggalan kakek Raja ini tidak mampu menopang sakit tambahan setelah dulu kau tinggalkan.”

Dasrul kaget. Ia mencoba menelan ucapan Pak Jorong pelan-pelan.

“Maksud, Pak Jorong?” Dasrul mencoba meminta penjelasan dari lawan bicaranya yang sebenarnya sudah jelas.

Dasrul masih belum menyadari, bahwa malam itu adalah babak terakhir dia berada di rumah itu. Wasit sebentar lagi akan segera meniup pluit panjang. Pertanda ia tak bisa lagi menjadi pemain utama di rumah itu. Toh, selama bertahun-tahun perannya sudah tidak ada lagi.

Di lantai dua, untuk kesekian kalinya seorang anak muda dibawa lari ke masa lalunya. Selepas hilangnya Dasrul dari kehidupan mereka, ibunya dililit kesulitan. Ibu kesulitan membagi gaji sebagai pegawai negeri untuk kebutuhan makan juga biaya pendidikan tiga orang anaknya. Sementara, ayahnya lebih memilih menyiram memupuk bunga di kampung sebelah.

Gelembung emosi itu sudah lama tertahan. Menunggu waktu yang tepat untuk meledak. Hari ini saatnya. Raja tak lagi bisa diam. Ia bukan lagi kanak-kanak yang merengeki sepatu bola. Kini, Raja sudah berumur 22 tahun dan minggu depan akan memperoleh gelar sarjana. Terang betul pemikirannya telah matang.

Kehadiran Dasrul hari ini bukan lagi kebahagiaan baginya, melainkan penyulut emosi yang membakar tenang hatinya dengan bensin kenangan masa lalu. Ia seketika masuk ke arena permainan, keluar dari kamarnya seolah tak mau dikatakan pengecut yang bersembunyi tatkala masalah telah besar begini. Ia menggenggam tangan ibunya dan melangkah bersama, menguatkan satu sama lain.

“Dulu, aku memang kehilangan sosok ayah, namun malam ini tidak kehilangan apapun,” jawab Raja singkat.

“Maafkan, Ayah, Nak.” Suara Dasrul terdengar serak.

“Kami sudah memaafkanmu, Bang, tapi rumah ini bukan tempatmu pulang!” ujar Herma. Ialah wanita yang dipanggil ibu oleh Raja. Ialah bunga yang dibiarkan layu demi kembang di kampung sebelah.

Rintik hujan mulai turun, mengalir diam-diam, membasahi janji yang dulu pernah diucapkan dengan yakin. Namun, terlupakan oleh keelokkan rupa bunga kampung sebelah.

Kini, menjelang pertengaham malam. Langkah Dasrul dipaksa berat oleh kesedihan, diiringi pemuda yang tadi menunggu di depan pintu. Ia menatap malam tanpa bintang, mencari cahaya, namun hanya hening yang menekan pelupuk mata. Sementara rumah yang tak pernah terpeluk itu menatap diam.

 

Catatan:

Maruek: berlimpah

Pangacok: camilan

Indak kanyang dek rumpuik saruik: tidak puasdengan janji-janji kosong (pepatah Minang)

 

Nurhayati, lahir di Nagari Aie Dingin, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Ia merupakan alumni Sastra Universitas Andalas. Kini, ia mengabdi sebagai guru di MAN 1 Kota Bukittinggi samenjak tahun 2009 sampai sakarang. Jejak tulisannyo dapat dilacak melalui akun FB: Noer Cakrawala, IG: noerhayati.noer. dan Blog di mynoer25.blogspot.com

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat