Warga Iran berjalan melewati papan iklan besar anti-AS yang mengacu pada presiden AS Donald Trump dan Selat Hormuz di alun-alun Valiasr di Teheran, Iran, 2 Mei 2026. | EPA/ABEDIN TAHERKENAREH

Nasional

Selat Hormuz Ngadat Lagi

Washington kewalahan tangani kendali Iran di Selat Hormuz.

TEHERAN -- Ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menyebabkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz merosot tajam. Kondisi ini kembali mengguncang pasar energi global yang sebelumnya telah terpukul akibat gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Data Lloyd's List Intelligence yang dirilis Kamis menyebutkan, tidak ada kapal berukuran besar yang melintasi Selat Hormuz melalui jalur pelayaran yang dikoordinasikan AS sejak Selasa sambil menyalakan sistem identifikasi otomatis (AIS). Lembaga intelijen maritim itu menyatakan lalu lintas kapal melalui jalur yang berada dekat perairan Oman praktis terhenti.

"Lloyd's List Intelligence mencatat tidak ada kapal berbobot di atas 10 ribu deadweight ton (DWT) yang melintasi jalur yang disebut Southern Highway dengan AIS aktif sejak 7 Juli, meski diyakini sedikitnya dua kapal melakukan pelayaran tanpa menyalakan sistem pelacak," demikian keterangan lembaga tersebut.

Platform intelijen maritim Windward mencatat hanya lima kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu hingga Kamis pagi. Jumlah itu turun drastis dibandingkan 45 kapal yang tercatat melintas pada Senin.

Sebelum perang pecah pada akhir Februari, sekitar 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Selat tersebut merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia.

photo
Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026. - (EPA/Stringer)

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) dalam penilaian ancaman terbarunya menyatakan penurunan lalu lintas kapal mencerminkan sikap hati-hati perusahaan pelayaran di tengah meningkatnya ancaman keamanan di kawasan.

Direktur Eksekutif Yokosuka Council on Asia Pacific Studies, John Bradford, mengatakan ketidakpastian yang berkepanjangan dapat mendorong perusahaan pelayaran mengalihkan rute maupun pelabuhan tujuan secara lebih permanen.

"Risiko terbesar adalah apabila krisis berlangsung lama dan pola eskalasi yang naik turun menjadi hal yang dianggap normal. Perusahaan pelayaran dapat mulai mengambil keputusan jangka panjang untuk memprioritaskan pelabuhan dan jalur lain," kata Bradford kepada Aljazirah.

Ia menambahkan, Iran memiliki kemampuan menyerang kapal-kapal di seluruh kawasan Teluk Persia, Selat Hormuz hingga Teluk Oman. Kondisi tersebut membuat seluruh aktivitas pelayaran di kawasan menghadapi risiko tinggi.

Di sisi lain, Iran pada Kamis melaporkan sejumlah ledakan di wilayah selatan negaranya setelah serangan udara AS terhadap puluhan sasaran di Iran pada Selasa dan Rabu. Seorang pejabat AS mengatakan kepada Aljazirah bahwa militer AS tidak terlibat dalam ledakan terbaru yang hingga kini belum diklaim pihak manapun.

photo
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah berakhir. - (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)

Sebelumnya, pejabat dan media Iran menyatakan Teheran melancarkan serangan balasan terhadap aset militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Irak. Serangan itu disebut sebagai respons atas operasi militer Washington yang dilakukan setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

Meski situasi keamanan di Timur Tengah kembali memburuk, harga minyak dunia relatif stabil pada Jumat setelah mencatat kenaikan selama beberapa hari terakhir.

Harga minyak mentah Brent sebagai acuan internasional berada di level 76,58 dolar AS per barel pada pukul 05.00 GMT. Angka tersebut nyaris tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan Kamis dan sekitar dua persen lebih rendah dibandingkan Rabu. Namun, dibandingkan pekan lalu, harga Brent masih lebih tinggi sekitar empat dolar AS per barel setelah sebelumnya sempat kembali ke level sebelum perang usai Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik bulan lalu.

Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai stabilnya harga minyak menunjukkan keyakinan pasar bahwa situasi di Timur Tengah pada akhirnya akan mereda. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa konflik terbaru berpotensi meningkatkan tekanan harga karena persediaan minyak diperkirakan terus menyusut dalam beberapa pekan mendatang.

"Dengan kondisi tersebut, kami memperkirakan harga Brent dapat naik sekitar 10 hingga 15 dolar AS selama musim panas seiring menurunnya persediaan minyak dan produk turunannya sehingga memberi tekanan pada rantai pasok," ujar Melek.

Analis senior pasar minyak Sparta Commodities, June Goh, mengatakan tekanan harga saat ini justru lebih besar terjadi pada produk olahan minyak dibandingkan minyak mentah.

photo
Seorang pejalan kaki berjalan melewati pompa bensin di Tokyo, Jepang, 16 Maret 2026. Pada 16 Maret 2026, pemerintah Jepang mengumumkan mulai melepaskan cadangan minyaknya sebagai tanggapan atas blokade de facto di Selat Hormuz. - (EPA/FRANCK ROBICHON)

Menurut dia, harga solar mengalami lonjakan tajam akibat berkurangnya pasokan dari kilang-kilang di Timur Tengah serta gangguan terhadap kilang Rusia yang terus menjadi sasaran serangan pesawat nirawak Ukraina.

Di pasar keuangan, sentimen investor tetap positif. Setelah indeks S&P 500 di Wall Street ditutup menguat 0,8 persen, bursa saham Asia dibuka di zona hijau pada Jumat.

Indeks Nikkei 225 Jepang menguat sekitar 1,8 persen pada perdagangan siang, sementara Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari lima persen. Di Hong Kong, indeks Hang Seng turut naik sekitar 1,9 persen.

Dan Grazier, mantan perwira Korps Marinir AS, mengatakan bahwa respons terhadap serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz dinilai "proporsional", namun Washington perlu mencari cara untuk menghentikan pertempuran tersebut.

Ia mencatat bahwa militer AS telah menyerang instalasi militer Iran di sepanjang pesisir selatannya, serta "kapal cepat" yang digunakan untuk mengganggu kapal-kapal yang tidak mendapat izin dari Teheran untuk melintasi selat tersebut.

"Iran memiliki keuntungan besar karena mereka tidak berupaya memproyeksikan kekuatan militer jauh melampaui wilayah pesisir mereka sendiri. Mereka hanya perlu melakukan tindakan gangguan berskala kecil untuk menciptakan masalah besar yang harus dihadapi oleh Amerika Serikat dan Israel," ujarnya kepada Aljazirah.

"Oleh karena itu, para pejabat di Washington harus benar-benar berupaya mencari cara untuk mengakhiri pertempuran ini, karena jenis peperangan asimetris semacam ini merupakan masalah militer yang rumit dan, terus terang, merupakan persoalan yang belum berhasil dipecahkan oleh Amerika Serikat."

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat