Internasional
AS Lanjutkan Serangan ke Iran
Perundingan damai terancam gagal.
TEHERAN — Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan gelombang serangan udara ke Iran untuk hari kedua secara berturut-turut. Serangan yang lebih besar dibanding sehari sebelumnya itu memicu kekhawatiran bahwa proses perundingan damai yang masih rapuh antara Washington dan Teheran akan runtuh.
Militer AS menggempur sejumlah wilayah di ibu kota Teheran pada Kamis dini hari, hanya beberapa jam setelah menyerang sejumlah kota di bagian selatan Iran pada Rabu. Sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas dalam dua hari serangan tersebut, termasuk sedikitnya satu anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap aset dan infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk.
Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Iran sebelumnya menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz pada awal pekan. Ketegangan meningkat ketika serangan AS berlangsung bersamaan dengan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang menurut laporan tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump, saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada Rabu, menyatakan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Iran "pada dasarnya sudah berakhir". Namun, ia juga membuka kemungkinan pembicaraan damai tetap dilanjutkan, sehingga masa depan proses negosiasi masih belum jelas.
Trump menegaskan serangan terbaru tidak akan berkembang menjadi operasi militer jangka panjang. Meski demikian, berbagai pihak mengkhawatirkan kedua negara akan terus meningkatkan aksi militer yang berpotensi menyeret kawasan Timur Tengah ke konflik yang lebih luas.
"Iran sangat ingin mencapai kesepakatan," kata Trump seusai serangan. Namun, sejumlah pengamat meragukan pernyataan tersebut.
Guru Besar Politik Universitas Bradford, Alam Saleh, mengatakan pendekatan militer Washington tidak efektif. "AS menghadapi jalan buntu dengan Iran dan harus mengubah pendekatannya. Pengeboman tidak berhasil," ujarnya kepada Aljazirah.
AS Serang Puluhan Target
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah menyerang sekitar 90 sasaran militer di Iran pada Kamis. Menurut CENTCOM, operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Sehari sebelumnya, militer AS juga mengklaim telah menghantam sekitar 80 target militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
View this post on Instagram
Washington juga mencabut pengecualian sanksi terhadap ekspor minyak Iran yang sebelumnya menjadi bagian dari nota kesepahaman kedua negara.
Media AS dan Iran melaporkan tiga kapal yang diserang di Selat Hormuz adalah M/T Al Rekayyat berbendera Kepulauan Marshall milik Qatar, M/T Wedyan berbendera Arab Saudi, serta M/T Cyprus Prosperity berbendera Liberia.
Analis politik yang berbasis di Teheran, Hossein Royvaran, menduga kapal-kapal tersebut memasuki wilayah yang sedang dibersihkan ranjau oleh Iran.
Akibat meningkatnya ketegangan, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz nyaris terhenti. Aktivitas kapal kini sebagian besar dialihkan melalui jalur utara yang disetujui Iran, sementara jalur selatan yang didukung Oman dan AS hampir tidak digunakan.
Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan sekitar 6.000 pelaut masih terjebak di sekitar Selat Hormuz.
"Serangan sembrono ini kembali menempatkan para pelaut sipil dalam bahaya besar. Tidak seharusnya mereka mempertaruhkan nyawa hanya karena menjalankan pekerjaan," ujar Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez, seperti dikutip NBC News.
Sasaran Serangan
Pada Kamis pagi, AS menyerang sejumlah kota pelabuhan di Iran selatan, antara lain Bandar Abbas, Sirik, Kuhestak, Chabahar, Jask, Pulau Abu Musa, dan Konarak.
Ledakan juga dilaporkan terdengar di Provinsi Bushehr, lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Meski CENTCOM menyatakan sasaran serangan adalah instalasi militer, media Iran melaporkan sejumlah fasilitas sipil turut terdampak, termasuk dugaan serangan terhadap sebuah rumah sakit.
Satu orang dilaporkan tewas setelah fasilitas bandara di Iranshahr dekat perbatasan Pakistan terkena serangan. Selain itu, sebuah jembatan rel kereta di Provinsi Golestan juga rusak.
IRGC menyatakan dua jembatan menuju Kota Mashhad—tempat Khamenei dimakamkan pada Kamis—ikut menjadi sasaran. Otoritas perkeretaapian Iran menghentikan sementara layanan kereta Teheran-Mashhad untuk proses perbaikan.
Kementerian Luar Negeri Iran mengecam puluhan serangan AS dan menyebut alasan Washington yang mengaitkannya dengan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz sebagai dalih yang tidak benar.
Iran Balas Serangan
Sebagai respons, IRGC meluncurkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Sirene peringatan berbunyi di ketiga negara tersebut pada Kamis.
Menurut laporan Al Jazeera dari Teheran, sasaran Iran meliputi fasilitas militer Arifjan dan Ali Al Salem di Kuwait, serta Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain.
IRGC juga diklaim menyerang sistem rudal Patriot di Kuwait, antena satelit di Qatar, dan depot bahan bakar militer AS di Bahrain.
Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi satu orang terluka akibat serpihan benda yang jatuh. Sistem pertahanan udara negara itu disebut berhasil mencegat tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, dan sepuluh pesawat nirawak.
Iran juga mengajukan pengaduan resmi terhadap AS kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Sekretaris Jenderal PBB.
Masa Depan Perundingan
Dalam pernyataannya di sela KTT NATO, Trump mengatakan MoU yang ditandatangani Washington dan Teheran pada 17 Juni "sudah berakhir" menurut pandangannya, meskipun tim negosiasi AS masih diizinkan melanjutkan pembicaraan dengan Iran.
Namun, saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One pada Kamis, Trump melunakkan sikapnya. Ia mengatakan opsi perang skala penuh masih terbuka, tetapi mengklaim Iran tetap ingin mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi pernyataan Trump melalui media sosial X dengan mengatakan Teheran tidak akan membalas "kata-kata kasar dengan kata-kata kasar".
Trump juga mengklaim militer AS telah melemahkan kemampuan pertahanan Iran dan mengancam akan menyerang infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik, fasilitas desalinasi, hingga pusat produksi minyak di Pulau Kharg.
Meski demikian, ia kembali menegaskan eskalasi terbaru tidak akan berubah menjadi perang berkepanjangan.
Saling Tuding Melanggar Kesepakatan
Pimpinan parlemen Iran Mohammad Ghalibaf menuduh Washington menggunakan politik intimidasi dan melanggar kesepakatan.
"Amerika belum belajar bahwa intimidasi dan pengingkaran janji tidak lagi tanpa konsekuensi. Jika menyerang kami, maka kalian juga akan diserang," tulis Ghalibaf di platform X.
Iran dan AS sebelumnya menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada 16 Juni untuk menghentikan konflik dan membuka perundingan damai selama 60 hari hingga 21 Agustus.
Isi kesepakatan mencakup penghentian operasi militer, pembukaan kembali pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi minyak Iran, serta rencana pencairan aset Iran yang dibekukan.
Namun, sejumlah analis menilai isi MoU masih mengandung banyak tafsir, terutama terkait Pasal 5 mengenai pengelolaan Selat Hormuz.
Iran menilai AS telah melanggar kesepakatan dengan kembali menyerang wilayahnya serta gagal menghentikan operasi militer Israel di Lebanon selatan. Sebaliknya, Washington menuding Teheran tidak memenuhi komitmennya menjamin keamanan pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Analis Universitas Bradford, Alam Saleh, menilai Iran kini memanfaatkan Selat Hormuz sebagai alat tawar dalam negosiasi.
"Iran tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan Selat Hormuz sebagai pengungkit karena mereka menganggap ini sebagai pertarungan untuk bertahan hidup," ujarnya. Menurut Saleh, Washington seharusnya mengubah pendekatannya dan mendorong penyelesaian yang saling menguntungkan, bukan sekadar mengejar kemenangan sepihak.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
