Erna Sulistyawati | Dokpri

Uswah

Tidak Berhenti Gapai Mimpi

Menjabat sebagai bunda PAUD selama delapan tahun bukanlah tugas yang mudah untuk Erna.

OLEH IDEALISA MASYRAFINA

Keterbatasan ekonomi dan status sebagai perempuan sempat menjadi penghalang Erna Sulistyawati untuk mengecap pendidikan di bangku kuliah. Mimpi masa muda bunda PAUD Banyumas ini untuk bersekolah setinggi mungkin berusaha digapainya di usia yang tidak lagi muda. 

Berstatus sebagai istri Bupati Banyumas Achmad Husein dengan segudang kesibukan tidak menyurutkan mimpinya untuk kembali meneruskan pendidikan. Ketika anak ketiganya mulai berkuliah di Universitas Jenderal Soedirman, ia pun bertekad untuk berkuliah saat itu juga. 

"Waktu putri saya masuk kuliah, dia ajak saya juga. 'Ma, ayo kuliah juga.’ Jadi, putri saya kuliah di Unsoed, saya masuk UMP (Universitas Muhammadiyah Purwokerto)," ungkap Erna yang kini sudah menjadi mahasiswa semester V di Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) UMP.

 
Saya harus mengalah ketika kakak-kakak saya yang laki-laki yang diutamakan.
ERNA SULISTYAWATI
 

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara dan seorang perempuan, Erna remaja harus menyerah akan mimpinya berkuliah. "Bapak saya PNS, dan dengan ekonomi pas-pasan saya harus mengalah ketika kakak-kakak saya yang laki-laki yang diutamakan," tutur Erna yang tahun ini telah menginjak usia 50 tahun. 

Sebagai lulusan SMA, hidup Erna tidaklah mudah. Ia bekerja apa pun yang ia bisa dengan ijazah SMA. Kemudian, ketika menikah di usia 22 tahun, ia diboyong oleh suami yang bekerja sebagai insinyur ke Jakarta dan berperan sebagai ibu rumah tangga yang membesarkan ketiga anak-anak mereka.

Pengalamannya sebagai ibu rumah tangga lalu menjadi bunda PAUD sejak menjadi istri bupati membuat Erna ingin memperluas pengetahuannya mengenai pendidikan anak usia dini. Setelah anak-anaknya tumbuh dewasa, ia memutuskan untuk melanjutkan cita-citanya yang tertunda, mengecap bangku kuliah dengan mempelajari mengenai PAUD.

"Sebagai bunda PAUD, saya harus lebih memahami dan mendalami bagaimana PAUD yang holistik integratif, karena didikan saat usia emas anak-anak itu sangat penting untuk tumbuh kembang mereka," kata Erna.

photo
Erna Sulistyawati - (Dokpri)

Perkembangan PAUD di Banyumas 

Menjabat sebagai bunda PAUD selama delapan tahun terakhir ini bukanlah tugas yang mudah untuk Erna. Berbagai PR perlu dituntaskan untuk meningkatkan kualitas PAUD di Banyumas. Meski begitu, Erna menilai bahwa perkembangan PAUD di Kabupaten Banyumas terus meningkat berkat dukungan dari berbagai pihak, seperti dinas pendidikan dan para bunda PAUD dari tingkat desa hingga Kabupaten.

Mereka bertugas untuk memantau perkembangan PAUD di masing-masing wilayah, mulai dari kesehatan anak-anak usia dini hingga kesejahteraan guru-guru PAUD. Terlebih setelah bupati Banyumas mengeluarkan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 46 Tahun 2019 yang mewajibkan anak-anak usia dini harus menempuh pendidikan di PAUD atau taman kanak-kanak (TK) minimal satu tahun. 

Aturan itu dimaksudkan agar anak-anak usia dini sudah bisa berinteraksi dengan kawan-kawan sebayanya sehingga dapat lebih mandiri ketika masuk sekolah dasar. Pembentukan karakter juga penting dididik dalam masa-masa usia emas ini.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erna Sulistyawati (@erna_huseiin)

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, saat ini jumlah PAUD di Kabupaten Banyumas mencapai 1.197. Jumlah itu terdiri atas TK sebanyak 633 unit, kelompok belajar (KB) sebanyak 354, 18 taman pendidikan Alquran (TPA), dan 192 satuan PAUD sejenis (SPS).

"Harapannya, semua PAUD yang ada di Banyumas bisa holistik integratif dari sisi fisiknya, kesehatannya, lingkungannya, semuanya terpenuhi. Jadi, anak-anak terpantau, tidak menjadi anak-anak stunting, tetapi anak-anak yang berkualitas," kata Erna.

 
Harapannya, semua PAUD yang ada di Banyumas bisa holistik integratif.
ERNA SULISTYAWATI
 

Tidak kalah penting, kualifikasi dan kesejahteraan guru PAUD menjadi perhatian khusus bagi Erna. Pembentukan pos PAUD pada masa lalu memang berdasarkan perhatian khusus kader-kader posyandu mengenai aktivitas anak-anak usia dini.

Para tutor PAUD pun awalnya tidak memiliki kualifikasi yang mumpuni. Banyak dari mereka hanya lulusan SD dan SMP yang secara sukarela mengajak anak-anak di lingkungan rumah mereka untuk bermain dan belajar dengan fasilitas seadanya. Akan tetapi, kini para guru PAUD diharuskan telah mengenyam pendidikan D-3 dan S-1 agar dapat memberikan pendidikan yang lebih berkualitas bagi anak-anak usia dini.

Dengan meningkatnya kualifikasi pengajar, kesejahteraan mereka pun diharapkan dapat ditingkatkan. Nyatanya, hingga saat ini, guru-guru PAUD masih mendapatkan honor yang jauh dari kata layak. Erna telah beberapa kali mendatangi Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi RI untuk menyampaikan aspirasi para guru PAUD.

Hasilnya memang tidak langsung, tapi saat ini honor guru PAUD telah perlahan meningkat. Dari yang awalnya sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu per bulan, hingga saat ini ada yang mendapatkan honor Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan, sesuai dana desa masing-masing. Selain itu, sudah ada bantuan anggaran untuk ATK yang dulunya pengadaannya berdasarkan iuran.

"Meski mereka tetap ikhlas mengabdi, tapi bukan berarti kemudian pemerintah membiarkan. Kesejahteraan mereka harus terus diperjuangkan," ungkap Erna.

Profil: 

Jabatan: Bunda PAUD Banyumas

Ibu dari: 3 anak

Suami:  Achmad Husein

Tanggal Lahir: 2 November 1972

 

 

 

 

Istikharah Imam Syadzili

Istikharah menumbuhkan kepercayaan dalam diri.

SELENGKAPNYA

Habib Taufiq: Jangan Kecewakan Nabi Muhammad

Muhammad benar Rasulullah karena belum pernah berbohong selama hidupnya.

SELENGKAPNYA

Posisi Jari Ketika Tasyahud Akhir

Mazhab Maliki berpendapat menggerakkan jari telunjuk secara terus-menerus ke kanan dan kiri.

SELENGKAPNYA