Internasional
Iran Kendalikan Penuh Selat Hormuz
Perekonomian dunia mulai terdampak aksi balasan Iran atas serangan AS-Israel.
TEHERAN – Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan pihaknya berhasil mencapai kendali penuh atas Selat Hormuz. Kapal-kapal yang nekat melintas dijanjikan serangan dari militer Iran.
“Saat ini, Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Angkatan Laut Republik Islam,” kata pejabat Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh pada Rabu dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Fars Iran.
Pengumuman IRGC itu beberapa hari setelah pasar minyak dan gas dunia diguncang oleh disrupsi lalu lintas maritim menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran dan aksi balasan IRGC di kawasan Timur Tengah. Brigadir Jenderal Ebrahim Jabari, penasihat komandan IRGC, dilaporkan TASS, mengatakan harga minyak dunia bisa tembus 200 dolar AS per barel setelah Selat Hormuz ditutup.
"Kami (Iran) telah menutup Selat Hormuz. Harga minyak sekarang mendekati 80 dolar AS dan segera mencapai 200 dolar AS (per barel). Amerika Serikat, yang hidup dan matinya bergantung dengan minyak, sedang menderita akibat utan dan masalah internalnya.
Amerika haus akan minyak. Biar mereka tahu bahwa kami telah menutup Selat Hormuz sekarang dan tidak membolehkan kapal-kapal melintas," kata Jabari dilaporkan ISNA.
Jabari menambahkan, Iran akan menyerang "negara manapun yang mencoba mengekspor minyak dari sini. Sekarang, Iran sudah menyerang beberapa kapal."
Selat Hormuz diketahui sebagai jalur perlintasan dari seperlima dari total nilai perdagangan minyak dunia dan juga jalur utama ekspor gas alam cair Qatar dan Uni Emirat Arab. Sekitar 20 persen dari konsumsi harian minyak dunia (sekitar 20 juta barel) melintasi koridor ini.
Aksi IRGC menutup Selat Hormuz sebagai bagian dari serangan balasan Iran atas pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu pekan lalu oleh Israel dan AS. Serangan balasan Iran nyaris tiada henti hingga Senin menyasar wilayah Israel dan negara-negara kawasan yang dijadikan pangkalan udara AS.
Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam. Penurunan tersebut seiring meningkatnya risiko keamanan yang membuat aktivitas pelayaran nyaris terhenti, dengan lebih dari 700 kapal berkumpul di kedua sisi jalur strategis tersebut.
Berdasarkan analisis perusahaan data, Kepler, sebanyak 21 juta barel minyak diangkut oleh 15 kapal tanker pada 27 Februari, meningkat menjadi 21,6 juta barel oleh 18 kapal pada Sabtu. Namun, pada 1 Maret hanya tiga kapal tanker yang membawa 2,8 juta barel melintasi selat tersebut.
Dengan rata-rata aliran harian sepanjang tahun ini mencapai 19,8 juta barel, pengiriman pada 1 Maret mencatat penurunan 86 persen dibandingkan rata-rata tahun 2026. Penurunan tajam itu menunjukkan bahwa kargo sempat dipercepat pengirimannya sebelum risiko meningkat, kemudian diikuti hampir terhentinya penyeberangan ketika situasi memburuk.
Hingga Selasa (3/3/2026), 706 kapal tanker non-Iran tercatat menunggu di kedua sisi selat. Dari jumlah tersebut, 334 kapal tanker minyak mentah, 109 kapal pengangkut produk minyak kotor, dan 263 kapal pengangkut produk minyak bersih berada di berbagai titik di Teluk Persia di sebelah barat selat, Teluk Oman di sebelah timur, serta Laut Arab.
Meski aktivitas pemuatan minyak mentah di dalam Teluk masih berlangsung, berkurangnya keberangkatan ke arah timur melalui selat dan waktu tunggu yang lebih lama untuk melewati titik sempit tersebut diperkirakan akan menunda kedatangan kargo serta mendorong kenaikan biaya angkut.
Perlambatan arus keluar ke arah timur, ditambah antrean panjang kapal yang hendak melintasi jalur tersebut, berpotensi semakin mengganggu rantai pasok dan meningkatkan biaya transportasi.
Namun, laporan kantor berita Reuters melaporkan, sebuah kapal tanker minyak berhasil berlayar melalui Selat Hormuz dalam perjalanan ke pelabuhan Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah. Kapal tanker Pola, mematikan pelacak AIS-nya pada Senin malam, ketika mendekati selat tersebut, dan kapal tersebut muncul kembali pada Selasa di lepas pantai Abu Dhabi, menurut sumber dan data pelacakan kapal, tambah Reuters.
Perang AS-Israel terhadap Iran mengganggu rantai pasokan global, dengan ditutupnya pengiriman di Selat Hormuz yang penting dan pesawat-pesawat yang membawa kargo udara dilarang terbang karena penutupan wilayah udara di Timur Tengah.
Koresponden Aljazirah, melaporkan dari Teheran, mengatakan IRGC menyatakan “tidak mungkin ada kapal yang bisa melewatinya” dan lebih dari 10 kapal tanker minyak menjadi sasaran.
Clarksons Research, yang melacak data pelayaran, memperkirakan sekitar 3.200 kapal, atau sekitar 4 persen tonase kapal global, menganggur di Teluk, meskipun jumlah tersebut mencakup sekitar 1.230 kapal yang kemungkinan hanya beroperasi di wilayah Teluk, menurut laporan kantor berita The Associated Press.
Sementara itu, sekitar 500 kapal, atau 1 persen dari tonase global, saat ini “menunggu” di luar Teluk di pelabuhan-pelabuhan di lepas pantai UEA dan Oman, menurut perusahaan tersebut.
Di tengah cengkeraman Iran terhadap pergerakan kapal tanker melalui selat tersebut, harga minyak mentah Brent naik menjadi lebih dari 82 dolar AS per barel, naik lebih dari 13 persen sejak dimulainya konflik dan tertinggi sejak Juli 2024.
Trump mengatakan dalam sebuah postingan di Truth Social pada hari Selasa bahwa Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz “sesegera mungkin”.
“Apapun yang terjadi, Amerika Serikat akan memastikan ALIRAN BEBAS ENERGI ke DUNIA,” tambahnya. “KEKUATAN EKONOMI dan MILITER Amerika Serikat adalah yang TERBESAR DI BUMI – Masih banyak tindakan yang akan dilakukan,” katanya.
Kesiapan Indonesia
Pemerintah memastikan kondisi anggaran negara masih cukup kuat menghadapi eskalasi global, termasuk potensi kenaikan harga minyak dunia. Selama gejolak tidak berlangsung ekstrem, dampaknya dinilai masih bisa diserap dalam APBN tahun berjalan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai skenario harga minyak untuk satu tahun ke depan. Perhitungan itu menjadi dasar dalam menjaga ketahanan fiskal di tengah ketidakpastian global.
“Kalau krisis seperti ini berkepanjangan, tahan tidak anggarannya, anggarannya seperti apa. Kalau analisis kami yang ada sekarang sih masih cukup baik, jadi tidak ada masalah,” ujar Purbaya di Istana, Selasa (3/3/2026) malam.
Menurut dia, kinerja penerimaan negara menunjukkan perbaikan signifikan pada awal tahun. Penerimaan pajak dan bea cukai pada Januari–Februari 2026 disebut tumbuh sekitar 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Itu angka yang signifikan sekali. Artinya ada perbaikan yang signifikan di ekonomi dan perilaku orang-orang, pajak dan bea cukai,” katanya.
Ia menegaskan pemerintah telah menghitung skenario kenaikan harga minyak pada level tertentu selama satu tahun anggaran. Selama kenaikan masih dalam batas simulasi, APBN dinilai mampu menyerap tekanan tersebut. “Jadi masih bisa diserap kalau harga minyak naik. Kalau terlalu tinggi, tapi kalau ekstrem sekali akan kita hitung ulang,” ujarnya.
Stok BBM
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, cadangan BBM di Indonesia masih kuat hingga 20 hari. Hal itu diungkapkan Bahlil ketika mengikuti rapat dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Senin (2/3/2026).
Bahlil kemudian menyampaikan akan menambah kapasitas penyimpanan (storage) stok bahan bakar minyak (BBM), dari yang semula hanya 25–26 hari menjadi 90 hari atau tiga bulan.
“Faktanya, ketahanan energi kita, storage kita itu maksimal di angka 25–26 hari, tidak lebih dari itu,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi terhadap Sektor ESDM yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Lihat postingan ini di Instagram
Pernyataan tersebut merespons perbandingan antara ketahanan energi Indonesia dengan Jepang. Stok BBM Indonesia dapat bertahan kurang dari 30 hari, sementara Jepang memiliki stok BBM untuk 254 hari ke depan.
Ketimpangan tersebut disebabkan terbatasnya storage atau penyimpanan BBM yang dimiliki Indonesia. “Sekarang, kalau kita impor sebanyak itu (Jepang), kita mau taruh BBM di mana? Itu permasalahan kita,” ucapnya.
Oleh karena itu, lanjut Bahlil, pemerintah sedang berupaya membangun storage dengan kapasitas mencapai 90 hari atau tiga bulan agar selaras dengan standar internasional. Saat ini studi kelayakan (feasibility study) pembangunan storage sedang berlangsung. Bahlil menargetkan storage mulai dibangun pada 2026 dan direncanakan berlokasi di Sumatera.
Untuk ketahanan minyak saat ini, Bahlil menyampaikan stok minyak mentah (crude), BBM, serta LPG rata-rata berada di atas standar minimum ketahanan nasional. Adapun standar minimum yang ditetapkan pemerintah adalah 23 hari.
“Jadi, menyangkut dengan persiapan hari raya Idul Fitri, bulan puasa, alhamdulillah saya menyampaikan bahwa stok BBM, crude, LPG itu semua rata-rata di atas standar minimum nasional,” ucap Bahlil.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
