vp,,rm
Hikmah November Pekan ke-3 | Republika

Hikmah

Guru, Digugu dan Ditiru

Jika seorang guru dapat meneladan akhlak Nabi SAW, ia layak menjadi guru yang digugu dan ditiru.

OLEH IMAM NUR SUHARNO

Setiap 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Pada peringatan HGN kali ini, ada hal prinsip yang mesti dipahami dan diinternalisasikan dalam diri seorang guru.

Guru dalam filosofi bahasa Jawa adalah sebuah kata yang mempunyai makna digugu lan ditiru. Maksud dari digugu dan ditiru adalah seorang guru harus dapat memenuhi dua kata itu. Digugu artinya perkataannya harus bisa dipertanggungjawabkan dan ditiru artinya sikap dan perbuatannya dapat menjadi teladan bagi siswanya.

Agar menjadi sosok yang digugu dan ditiru, guru hendaknya membaca sirah kehidupan Nabi Muhammad SAW, khususnya yang berkaitan dengan akhlak Nabi SAW sebagai seorang guru.

Seperti apa akhlak Nabi SAW sebagai seorang guru? Dengan mengetahuinya, seorang guru yang ingin berhasil dalam mendidik siswa hendaknya mau meneladan akhlak Nabi SAW sebagai bekal dalam menunaikan profesi sebagai guru.

Pertama, akhlak terhadap Rabbnya. Dalam urusan ibadah, Nabi SAW senantiasa melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ia adalah orang yang kuat dalam ibadah, berzikir, tidak membiarkan waktunya berlalu tanpa manfaat dan tidak berhenti beristighfar.

Nabi SAW selalu melewati malam-malamnya dengan shalat malam, berdoa, dan bertasbih dengan khusyuk hingga terdengar dari dadanya suara seperti suara bejana yang mendidih karena menangis. Hal itu menunjukkan keluhuran akhlak Nabi SAW terhadap Rabbnya.

Hal pertama bagi seorang guru dalam menjalankan amanah sebagai pendidik ialah meningkatkan hubungan baik (akhlak) terhadap Rabbnya. Bangun di sepertiga malam untuk bermunajat kepada-Nya; minta ampunan, petunjuk, dan bimbingan-Nya agar dapat mendidik dengan penuh ketulusan; berwudhu sebelum berangkat ke sekolah dan luruskan niat untuk beribadah. Sebab, Dialah yang membolak-balikkan hati manusia (anak didik).

Kedua, akhlak terhadap keluarga. Nabi SAW adalah sebaik-baik manusia, terbaik bagi keluarganya. Ia memanggil istrinya dengan panggilan paling baik (HR Bukhari). Jika di rumah, beliau terbiasa membantu keluarganya (HR Bukhari), terbiasa menjahit baju dan menambal sandalnya sendiri (HR Ahmad dan Ibnu Hibban), dan lebih pengasih kepada keluarganya (HR Muslim).

Hal berikutnya adalah seorang guru hendaknya memperbaiki hubungan baik terhadap keluarganya. Keluarga sebagai laboratorium bagi guru dalam membentuk anak didik. Jika guru tidak dapat mendidik anak-anaknya di rumah yang jumlahnya sedikit, bagaimana akan mendidik anak didik yang jumlahnya lebih banyak?

Ketiga, akhlak terhadap sesama manusia. Nabi SAW sebagai sosok yang agung di antara semua makhluk memiliki sifat-sifat mulia, seperti jujur, amanah, tawadhu, pemalu, sabar, kasih sayang, lemah lembut, pemaaf, adil, memenuhi janji, dermawan, pemberani, dan berwibawa.

Maka, sifat-sifat itu pula yang hendaknya dimiliki oleh seorang guru. Dengan demikian, jika seorang guru dapat meneladan akhlak Nabi SAW, ia layak menjadi guru yang digugu dan ditiru. Buktikan!

Inspirasi dari Ayat Bencana

Akal manusia tak akan mampu menangkap maksud mengapa Allah mendatangkan gempa.

SELENGKAPNYA

Akhlak Muslimah Calon Tetangga Rasulullah SAW di Surga

Ada sepuluh akhlak bagi Muslimah yang ingin menjadi tetangga Rasulullah SAW kelak di surga.

SELENGKAPNYA

Wapres Apresiasi Kontribusi Al Irsyad

Muktamar ke-41 diharapkan menjadi penanda kebangkitan Al Irsyad.

SELENGKAPNYA