Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

Menguatkan Kepedulian Sosial

Menghormati, memuliakan, dan saling menolong dengan tetangga adalah bagian dari kekuatan keimanan.

OLEH PROF KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Baru-baru ini masyarakat dikejutkan oleh sebuah berita meninggal dunianya satu keluarga yang terdiri atas empat orang. Rudianto (71 tahun) dan istrinya Margaret (58 tahun) serta anak atas nama Dian (40 tahun) dan iparnya yang bernama Budianto (68 tahun).

Rumah mereka bernomor AC 5/7 terletak di Jalan Taman Asri Citra Garden, Kalideres, Jakarta Barat (Harian Republika, Sabtu, 12 November 2022).

Kematian mereka cukup mengejutkan karena tidak diketahui tetangga sekitar, kecuali setelah ditangani polisi. Hampir semua tetangga yang ditanya sudah lama tidak bertemu dengan penghuni rumah tersebut. Walaupun jarak rumah mereka berdekatan.

Mudah-mudahan kasus semacam ini, hanya terjadi pada saat itu dan tidak berulang pada yang lainnya. Karena sejatinya, manusia itu adalah makhluk sosial (an-Naas) yang membutuhkan interaksi dan berhubungan dengan yang lainnya. Saling mengenal, saling membantu, dan saling bersinergi dalam memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan.  

Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Hujurat [49] ayat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

 

 
Bahkan, dalam perspektif ajaran Islam, menghormati, memuliakan, dan saling menolong dengan tetangga adalah bagian dari kekuatan keimanan.
 
 

 

Bahkan, dalam perspektif ajaran Islam, menghormati, memuliakan, dan saling menolong dengan tetangga adalah bagian dari kekuatan keimanan. Perhatikan firman-Nya dalam QS an-Nisaa [4] ayat 36: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.”

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya, barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam."

Dalam hadis lain, riwayat Imam Hakiem dari Siti Aisyah RA, Rasulullah SAW menyatakan bahwa di antara sepuluh akhlak mulia yang harus menjadi perilaku Muslim, salah satunya adalah menjaga kehormatan tetangga. Rasulullah SAW sangat murka apabila ada seorang mukmin hidup dalam kekenyangan, sementara tetangganya menderita kelaparan.

Perhatikan sabdanya dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman orang yang selalu dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya mengalami kelaparan sampai ke lambungnya (sementara dia tidak peduli padanya).”

Kepedulian sosial ini erat pula kaitannya dengan ketakwaan seseorang. Semakin peduli seseorang pada orang yang mempunyai kebutuhan dan keperluan dalam memenuhi hajat hidupnya, maka akan semakin tinggi dan kuat ketakwaannya kepada Allah SWT.

 

 
Kepedulian sosial ini erat pula kaitannya dengan ketakwaan seseorang.
 
 

Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah [2] ayat 177: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”

Sesungguhnya takwa itu berdimensi vertikal dengan Allah SWT dan berdimensi horizontal dengan sesama manusia. Termasuk ke dalamnya, hubungan dan kepedulian pada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan fakir miskin.

Firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2] ayat 215: “Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

Bahkan, dalam QS al-Mâ’un [107] dinyatakan bahwa orang yang tidak punya kepedulian kepada orang miskin dan anak yatim dianggap mendustakan agama. Perhatikan firman-Nya dalam QS al-Mâ’un [10] ayat 1-3: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1) Itulah orang yang menghardik anak yatim (2) Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (3).”

 
Zakat diberikan kepada golongan tertentu yang berjumlah delapan golongan (mustahik) agar kehidupan mereka tetap terjamin.
 
 

Di tengah-tengah kehidupan sekarang yang sarat dengan semangat materialistis dan individualistis, kepedulian dan kepekaan sosial di antara sesama umat manusia harus semakin digalakkan dan ditingkatkan.

Apalagi, bangsa Indonesia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, maka peningkatan kepedulian sosial menjadi kebutuhan sekaligus keharusan. Ada berbagai tool (alat dan sarana) yang bersumber dari ajaran Islam yang menggambarkan semangat ini, seperti zakat, infak, sedekah, dan juga wakaf.

Zakat diberikan kepada golongan tertentu yang berjumlah delapan golongan (mustahik) agar kehidupan mereka tetap terjamin. Perhatikan firman-Nya dalam QS at-Taubah [9] ayat 60: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Zakat juga mencerminkan dimensi spiritual dan kebersihan jiwa dan hati sehingga meminimalisasi sifat materialistis dan individualistis, tetapi mengokohkan semangat berbagi kepada sesama.

Perhatikan firman-Nya dalam QS at-Taubah [9] ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

 
Zakat dan infak atau sesungguhnya akan menambah harta bukan menguranginya.
 
 

Zakat dan infak atau sesungguhnya akan menambah harta bukan menguranginya. Perhatikan firman-Nya dalam QS ar-Ruum [30] ayat 39: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).”

Juga hadis nabi bahwa harta itu tidak akan pernah berkurang dengan dikeluarkan zakat atau infaknya. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta, tidak ada seorang hamba yang pemaaf kecuali dinaikkan oleh Allah kemuliaannya, dan tidak ada orang yang tawadhu (rendah hati) karena Allah, kecuali Allah niscaya mengangkat (derajat)-nya.” (HR Muslim, Malik, Ahmad, at-Tirmidzi, dan ad-Darimi).

Mudah-mudahan masyarakat dan bangsa kita dengan keteladanan para pemimpin dan para tokohnya akan semakin kuat memiliki kepedulian sosial kepada sesama. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Menyusuri Akar Peradaban Budaya Flexing

Teknologi adalah pendorong perubahan yang paling cepat.

SELENGKAPNYA

Abdullah bin Rawahah Menolak Suap dari Wajib Pajak

Suap termasuk dalam kategori memakan harta orang lain dengan cara batil.

SELENGKAPNYA

Kala Ibnu Sina Menjawab Fenomena Penyakit Epilepsi

Para dokter Muslim membangun penelitian medis yang lebih maju untuk mengurai hal ihwal epilepsi.

SELENGKAPNYA