Simbol Epilepsi | Freepik

Kronik

Kala Ibnu Sina Menjawab Fenomena Penyakit Epilepsi

Para dokter Muslim membangun penelitian medis yang lebih maju untuk mengurai hal ihwal epilepsi.

OLEH YUSUF ASSIDIQ

Penyakit epilepsi telah menyita perhati an sejak berabadabad silam. Para dokter Muslim yang berkiprah di era kejayaan, telah melakukan berbagai studi dan kajian mendalam tentang penyakit ini. Penderita epilepsi pun tak lantas dijauhi.

Riset ilmiah epilepsi berjalan seiring kemajuan bidang medis pada masa Abbasiyah. Sebelum itu, di beberapa wilayah Islam, terdata sejumlah penyandang epilepsi. Mereka belum mendapat pelayanan medis secara memadai, terutama karena kurangnya pengetahuan terhadap epilepsi.

Karena itu pula, di sebagian kalangan masyarakat muncul persepsi negatif pada penderita epilepsi. Penyakit ini, seperti halnya lepra, kerap dianggap sebagai kutukan dan hukuman Tuhan. Di dunia kedokteran, epilepsi kerap disebut ayan. Ini adalah penyakit saraf menahun. Gejalanya bisa terjadi mendadak dan berulang-ulang. Kata epilepsi berasal dari bahasa Yunani, epilepsia yang artinya serangan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Epilepsy Society (@epilepsysociety)

Menurut penjelasan sejarawan, Syed Wasim Akhtar serta Hasan Aziz, persepsi terkait epilepsi di dunia Islam abad pertengahan bisa ditilik dari tiga dimensi. Pertama, pandangan secara keagamaan. Kedua, referensi pada khazanah medis Islam. Dan ketiga, penilaian di kalangan masyarakat.

Lebih jauh mereka mengatakan, di dalam Alquran memang tidak ada referensi khusus tentang epilepsi. “Tapi, kitab suci kaum Muslim ini memberi tuntunan agar umat memanfaatkan karunia Allah untuk mengatasi aneka masalah,” kata Syed Wasim dan Hasan Aziz dalam artikel bertajuk Perception of Epilepsy in Muslim History.

 
Kitab suci kaum Muslim ini memberi tuntunan agar umat memanfaatkan karunia Allah untuk mengatasi aneka masalah
SYED WASIM DAN HASAN AZIZ sejarawan
 

Begitupun hadis Nabi, mengarahkan umat untuk memajukan ilmu pengetahuan. Ilmu, sesuai pesan Rasulullah, berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Salah satunya mencari teknik pengobatan terbaik, termasuk pada penyakit epilepsi.

Satu hadis sahih Bukhari menuturkan tentang wanita bernama ‘Atha bin Abi Rabbah yang mengidap epilepsi. Rasulullah pun mendoakannya. Beliau memintakan kesembuhan dari Allah SWT. Itulah bentuk perhatian Rasulullah pada penyandang epilepsi.

Umat Islam mengerahkan kemampuan untuk meneliti penyebab epilepsi serta diagnosisnya secara tepat. Studi ilmiah tentang epilepsi pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Yunani, Hipocrates. Ia berhasil mengidentifikasi penyakit ayan ini sebagai masalah pada otak.

Risalah medis dari Hipocrates lantas diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab, lalu menjadi rujukan pengembangan kajian kedokteran di dunia Islam. Para dokter Muslim lantas membangun penelitian medis yang lebih maju untuk mengurai hal ihwal epilepsi.

Lebih dari seribu tahun lampau, ilmuwan dan dokter Muslim berhasil menyusun sejumlah teks dan risalah penting terkait epilepsi. Mereka berkiprah di pusat-pusat ilmu, seperti Baghdad, Kairo, dan Kordoba. Ibnu Sina (980-1037) memelopori kajian tentang epilepsi. Ia mengategorikan epilepsi dalam unsur neuropsikiatri.

Menurut Syed Wasim dan Hasan Aziz, Ibnu Sina pula yang pertama kali memakai kata ‘epilepsi’ di bidang kedokteran. Kata itu terdapat dalam mahakarya berjudul al-Qanun fi at-Thibb atau Kanun Kedokteran.

Ibnu Sina mengutip dari kata Latin, epilepsia, yang berarti ‘serangan dari luar'. Ini salah satu kontribusi berharga dari umat Muslim di ranah medis dunia. Istilah itu lantas digunakan secara luas di Eropa hingga berabad-abad kemudian. Para sejarawan sains tak hanya mengagumi, tapi juga membandingkan karya dan pemikiran Ibnu Sina dan Hipocrates.

Kedua ilmuwan legendaris itu diketahui tetap memasukkan persepsi publik terkait aspek supranatural seputar epilepsi. Menurut tokoh bernama lengkap Abu Ali al Husayn ibn Abd Allah ibn Sina itu, epilepsi terjadi karena adanya gangguan pada saraf otak. “Gejala epilepsi bisa berupa kejang-kejang hingga hilang kesadaran,” kata Ibnu Sina yang punya nama Latin, Avicenna.

 
Gejala epilepsi bisa berupa kejang-kejang hingga hilang kesadaran.
IBNU SINA
 

Ibnu Sina membahas secara perinci segala hal tentang epilepsi. Mulai dari jenis, gejala, juga efek yang ditimbulkan. Ia menulis berbagai resep obat, yang terdiri atas bahan herbal dan kimia, bagi penyembuhan epilepsi. Selain itu, Ibnu Sina menyarankan terapi kejiwaan bagi pasien penyakit ini.

Kanun Kedokteran juga membahas penyakit neuropsikiatri lain, seperti halusinasi, mimpi buruk, melankolia, demensia, paralisis, darah tinggi, vertigo, serta tremor. Kontribusi penting turut disumbangkan para ahli kedokteran asal Persia yang berhasil merintis metode penyembuhan epilepsi.

Mereka mengenalkan obat antiepilepsi yang dikombinasikan dengan teknik terapi. Namun, hanya sedikit literatur medis Barat yang mengungkap prestasi ini. Padahal, Muslim Persia memiliki catatan luar biasa dalam penanganan epilepsi, mulai dari diagnosis, pengobatan, hingga prognosis.

Pada abad ke-10, al-Masi memberi formula baru dari serat nanas untuk obat epilepsi. Sedangkan untuk menangani pasien yang kejang-kejang, bisa dengan sedikit cairan obat herbal yang diberikan melalui hidung. Risalah medis milik ibn Rabban at Tabari (838-923) juga memuat penjelasan tentang epilepsi secara akurat.

Ia mengaitkan epilepsi dengan salah satu gejala gangguan otak. Sejarah mencatat, rumah sakit di Baghdad pada abad ke-9 telah menyediakan fasilitas khusus bagi pasien pengidap epilepsi.

Sementara itu, ilmuwan besar lainnya, Abu Bakr Muhammad al Razi (865-925), berjasa dalam mengembangkan teknik operasi bedah otak. Seperti disebutkan dalam artikel History of Brain Surgery, metode ini dapat menyembuhkan luka kepala, epilepsi, penyakit organik, dan lainnya.

Disadur dari Harian Republika 24 Desember 2010

Al Qanun Fit-Tibb, Karya Ibnu Sina yang Jadi Rujukan Dunia

Buku Ibnu Sina ini merupakan salah satu buku teks kedokteran yang paling populer yang pernah ada

SELENGKAPNYA

Gagasan Filsafat Ibnu Sina

Ibnu SIna termasuk kalangan filsuf Muslim peripatetik dan pendukung teori emanasi.

SELENGKAPNYA

Ibnu Sina, Sang Pangeran Para Dokter

Ibnu Sina melalui berbagai dinamika politik, tanpa meninggalkan praksis seorang ilmuwan besar.

SELENGKAPNYA