Para pendiri PSSI dalam kongres di Yogyakarta. | istimewa

Kronik

Belajar dari 'Tempo Doeloe' Ketika PSSI Mengungguli NIVB

Sepak bola dan NIVB sebagai PSSI-nya Belanda sangat terkenal di kalangan masyarakat.

OLEH RAHMAD HIDAYAT

Di awal abad ke-20 telah ada perkumpulan sepak bola di negeri kita. Meskipun perkumpulan itu baru ada di empat kota, yakni Surabaya, Jakarta, Semarang, dan Bandung -- serta baru merupakan permainan kelompok tertentu (orang Belanda) -- sepak bola telah cukup diminati oleh banyak kalangan.

Adanya pergeseran waktu, menjadikan sepak bola semakin populer. Pada waktu-waktu tertentu, bond (perserikatan) di empat kota itu mengadakan pesta sepak bola, menjalin persahabatan serta mensosialisasikan sepak bola sebagai olahraga agar lebih populer.

Melihat meningkatnya popularitas sepak bola di kalangan masyarakat, pemerintah Hindia Belanda kemudian mendirikan organisasi sepak bola: Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Fungsinya sebagai badan yang mewadahi berbagai bond yang ada, dan sekaligus sebagai badan yang mengatur kompetisi.

Setiap tahun kompetisi mereka gelar secara bergantian di empat kota yang notabene sebagai pusat-pusat kekuasaan mereka. Kompetisi perdana di Pasar Malam Koloniale Tentoonstelling Semarang, dan keluar sebagai pemenang dari klub Jakarta.

Begitu banyaknya penonton yang menyaksikan setiap pertandingan itu, menjadikan sepak bola dan NIVB sebagai PSSI-nya Belanda sangat terkenal di kalangan masyarakat. Bahkan, menurut catatan majalah Mimbar Indonesia, 1950, karena begitu terkenalnya sepak bola di kalangan masyarakat, pertandingan yang digelar di NIVB menjadi puncak dari semua peristiwa olahraga yang diselenggarakan di Jawa.

photo
Para pendiri PSSI dalam kongres di Yogyakarta. - (istimewa)

Pada masa-masa itu, pemain yang menjadi idola penggemar sepak bola, antara lain: Tan Cin Hoat, Rehata, Moheng (kiper), Nawir, Malaiholo, Gaistun, Davis, Frans Meeng, dan Gerrit de Raad. Bintang-bintang lapangan itu sangat multi etnik, ada Cina, Arab, Belanda, dan pribumi.

Tetapi tetaplah Belanda sebagai etnik yang mendominasi kegiatan itu, dan pribumi sangat sedikit sekali berperan. Itu pun melalui seleksi yang sangat ketat dengan pertimbangan politis.

Pergeseran waktu pula yang membawa sepak bola semakin berperan sebagai olahraga dalam konteks maraknya body-culture serta sebagai medium untuk mengekspresikan solidaritas kelompok dan kesadaran kolektif. Maka, bermunculanlah perkumpulan sepak bola kaum pribumi di berbagai daerah.

Jika perkumpulan sepak bola NIVB hanya berkutat di empat kota, perkumpulan sepak bola pribumi lebih tersebar di berbagai kota besar dan kecil. Inisiatif kemudian muncul dari kaum terpelajar yang memandang perlunya perkumpulan-perkumpulan sepak bola pribumi yang bikinan sendiri itu dihimpun dalam satu wadah.

Kaum terpelajar yang dimotori Ir Soeratin Sosrosoegondo, Dr Soetomo, Oto Iskandar Dinata, Mr Kusumaatmadja, dan lain-lain mengumpulkan enam perkumpulan sepak bola yang representatif di Yogyakarta -- VIJ (Persija Jakarta), BIVB (Persib Bandung), PSM (Madiun), VVB (Persis Solo), PSIM (Yogyakarta), dan SIVB (Surabaya) -- untuk bermusyawarah membentuk suatu wadah organisasi induk sepak bola.

 
Pada 19 April 1930 terwujudlah cita-cita masyarakat sepak bola pribumi untuk memiliki organisasi, yaitu PSSI.
 
 

Pada 19 April 1930 terwujudlah cita-cita masyarakat sepak bola pribumi untuk memiliki organisasi, yaitu PSSI. Secara aklamasi pula ditunjuk Ir Soeratin sebagai ketua, dengan anggota pengurus yang tersebut di atas ditambah tokoh politik M Husni Thamrin dan Ki Hajar Dewantara.

Meskipun para pengurus PSSI itu adalah kaum terpelajar yang banyak berkiprah dalam politik praktis, tetapi garis kebijakan yang ditempuh kepengurusan pertama ini cukup progresif dan sangat mendasar bagi pembentukan sepak bola Indonesia yang kokoh.

Beberapa kebijakan yang dapat disebutkan di sini, antara lain, melahirkan ide sepak bola kebangsaan nasional, membentuk bonden di berbagai daerah, menggelar kejuaraan antarbond PSSI pertama 1931, menyelenggarakan Kongres PSSI I tahun 1931, dan menyelenggarakan pertandingan internasional melawan NIVB Belanda 1933 serta melawan Nan Hwa, Tiongkok 1937.

Dari berbagai kebijakan di atas dapat disimpulkan bahwa PSSI dibentuk sebagai organisasi persatuan, kesatuan, dan perjuangan mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.

photo
Pertandiangan sepak bola di masa kolonial. - (istimewa)

Hadirnya PSSI disambut sangat antusias kalangan pribumi. Hanya dalam satu tahun, dari 6 perkumpulan tumbuh menjadi 12 perkumpulan dan 20 perkumpulan dari kota kecil lainnya menyatakan bergabung. Meskipun demikian bukan berarti PSSI tidak mengalami hambatan dalam pertumbuhannya.

Ada dua alasan mengapa hal itu terjadi. Pertama, karena faktor usia PSSI yang masih muda, sehingga belum sesempurna NIVB yang ditopang oleh pemerintah dan sponsor, dalam menjadikan sepak bola berfungsi sebagai tontonan yang dikembangkan sebagai bagian dari institusi bisnis.

Akibatnya, pertandingan yang digelar PSSI hanya ditonton oleh sedikit orang Arab, Cina, dan kaum pribumi. Dan tentu saja panitia penyelenggara kerap rugi, dan PSSI kalah populer dengan NIVB.

Kedua, tekanan-tekanan yang sangat destruktif dalam bentuk fitnah-fitnah yang dilontarkan pemerintah Belanda terhadap PSSI karena para pengurusnya kebanyakan kaum terpelajar yang terlibat dalam organisasi politik perlawanan.

 
Tekanan-tekanan yang sangat destruktif dalam bentuk fitnah yang dilontarkan pemerintah Belanda terhadap PSSI karena para pengurusnya kebanyakan kaum terpelajar.
 
 

Meskipun demikian, PSSI jalan terus sambil menggelar pertandingan demi pertandingan. Secara teratur, terencana dan berkesinambungan serta membuka diri terhadap kemajuan zaman, PSSI menggelar kompetisinya dari tahun ke tahun dan mengevaluasi dalam setiap kongres yang dijadikan institusi tertinggi dalam penegakan law enforcement sepak bola.

Hasilnya, hanya dalam waktu lima tahun sejak didirikan, PSSI telah mampu mengimbangi popularitas NIVB, baik sebagai organisasi maupun kualitas bond-nya. Jika NIVB secara organisasi masih saja berkutat di empat kota, PSSI sudah lebih jauh melebarkan sayapnya di berbagai kota kecil, semisal; Cirebon, Madiun dll.

Secara tim pun, jika dahulunya pemain-pemain NIVB banyak menjadi idola seperti; Davis, Frans Meeng, Gerrit de Raad, maka terjadi pergeseran tokoh idola ke PSSI, antara lain Maladi, Ernest Mangindaan, Sunarto, Rakhim, Sumadi, dan Dr Saroso.

Tatkala PSSI mewujudkan agenda kebijakannya untuk bertanding di tingkat internasional pada 1937 melawan Nan Hwa dari Tiongkok, kualitas permainan tim dan teknik individu benar-benar teruji. Pasukan dari Tiongkok pimpinan Lee Wai Tong yang dijuluki Liong dari Cina ditahan oleh PSSI dengan skor imbang 2-2. Sungguh luar biasa karena dalam pertandingan sebelumnya dengan NIVB, Nan Hwa mampu menundukkan PSSI-nya Belanda itu dengan skor telak 4-0.

 
Pasukan dari Tiongkok pimpinan Lee Wai Tong yang dijuluki Liong dari Cina ditahan oleh PSSI dengan skor imbang 2-2.
 
 

Kekecewaan mendalam melanda pasukan Tiongkok, sebaliknya kegembiraan dan popularitas PSSI semakin mengkristal. Kenyataan ini mau tidak mau membuat NIVB menaruh hormat terhadap keperkasaan PSSI.

Jika sebelumnya PSSI diremehkan maka setelah pertandingan internasional itu, NIVB berupaya mendekati PSSI untuk bekerja sama dalam pengembangan sepak bola di wilayah Hindia Belanda. Meskipun usia kerja sama itu tidak berumur panjang -- karena Jepang masuk -- kerja sama ini merupakan momentum kemenangan bagi PSSI atas NIVB yang arogan. Dan, dalam keterbatasan segalanya, pribumi Indonesia dapat menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bukanlah warga kelas dua.

Pertanyaan yang dapat kita kemukakan adalah, mengapa dalam waktu relatif singkat PSSI mampu menandingi NIVB dan Nan Hwa dari Cina itu? Bukankah dalam kondisi yang sangat terbatas dan dalam tekanan pemerintah Belanda terhadap pengurus PSSI, seharusnya PSSI lebih dahulu mati atau tidak dapat berbuat banyak, apalagi mengungguli NIVB dan pasukan Lee Wai Tong?

Pertanyaan ini bisa kita dapatkan jawabannya dari pidato resepsi Ir Soeratin dalam Kongres ketujuh PSSI (Kongres Windon) pada 3 Juni 1938 di Solo. Soeratin mengatakan, kemenangan PSSI dalam skala internasional dalam waktu singkat karena "tujuan PSSI adalah luhur yaitu mendidik rakyat, mendidik kebersamaan untuk membangkitkan rasa kebangsaan, serta PSSI bekerja jujur, terencana, dan berani berkorban".

Dari pidato itu jelaslah bahwa titik penting untuk membangun sepak bola yang kokoh terletak pada faktor manusianya. Dan yang terpenting lagi dari semua itu adalah sikap jujur dan berani berkorban demi harkat dan martabat bangsa.

Tidak berlebihan apa yang dikatakan Ir Soeratin itu, dalam pengorbanan demi martabat bangsa itu, sering ditunjukkan oleh para pengurusnya baik setelah dan sebelum PSSI terbentuk.

Contoh kecil misalnya, tatkala pada tahun 1929 sejumlah perkumpulan sepak bola pribumi, antara lain seperti Sentiaki, De Broener, dan Sinar Sentiong kesulitan mendapatkan lapangan akibat larangan Belanda, untuk menggelar kompetisi dalam rangka mencari dana bagi korban kebakaran di Kramat Sentiong Jakarta, dengan serta merta politisi M Husni Thamrin merogoh kocek untuk membebaskan tanah di Petojo sebagai ajang kompetisi.

Sungguh hal yang sangat paradok dengan keadaan sekarang: begitu banyak orang berduit, namun PSSI belum mampu juga membangun prestasi demi harkat dan martabat bangsa.

Disadur dari Harian Republika edisi 30 Desember 1995 

Kita Itu Bangsa Pembuat Tempe

Buku Joy of Cooking yang terbit perdana pada 1931 juga mencatat tempe sebagai makanan asli Indonesia.

SELENGKAPNYA

Pembuktian Cristiano Ronaldo

Ten Hag senang United dapat mencatatkan clean sheet meski sempat kesulitan mencetak gol pada babak pertama.

SELENGKAPNYA

Tekad Barcelona Bangkit Kontra Valencia

Valencia tercatat hanya menang sekali dalam lima pertandingan terakhir.

SELENGKAPNYA