ILUSTRASI Kubah Hijau pada kompleks Masjid Nabawi yang menandakan letak makam Rasulullah SAW. Pada zaman beliau, ada seorang yang sesungguhnya hendak membunuh Nabi SAW, tetapi kemudian justru beriman kepada beliau | DOK REP A SYALABY ICHSAN

Kisah

Kala Jagoan Quraisy Memeluk Islam

Jawara Quraisy ini terus saja memikirkan nasib anaknya yang tersandera.

OLEH HASANUL RIZQA

Umair bin Wahab merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia masuk Islam beberapa tahun sesudah hijrahnya Rasulullah SAW. Saat masih kafir, dia sempat bergabung dengan kubu musyrikin di Perang Badar.

Inilah kisahnya dalam menemukan hidayah. Beberapa hari sesudah Pertempuran Badar, Umair seperti umumnya orang-orang Quraisy. Ia menyimpan amarah dan dendam terhadap Nabi SAW. Lebih lagi, tokoh dari kabilah al-Jumahi tersebut harus terpisah dari putranya, yang ditangkap pasukan Muslimin seusai perang.

Umair sangat cemas jika anaknya akan disiksa di Madinah. Untuk meredakan keresahannya, ia pun menuju Ka’bah pada pagi-pagi buta. Setelah bertawaf, lelaki musyrik itu memohon keberkahan kepada berhala-berhala di sana.

 
Umair sangat cemas jika anaknya akan disiksa di Madinah. Untuk meredakan keresahannya, ia pun menuju Ka’bah pada pagi-pagi buta.
 
 

Cahaya matahari masih samar-samar di balik awan. Di tengah keremangan, Umair duduk melamun. Jawara Quraisy ini terus saja memikirkan nasib anaknya yang tersandera.

Tiba-tiba, pundaknya ditepuk Shafwan bin Umayyah dari belakang, “’Im shabahan, ya Umair! Mengapa engkau duduk tepekur begitu?”

’Im shabahan! Wahai Shafwan, engkau mengejutkanku saja!” jawab Umair, sementara putra seorang pembesar Quraisy itu mengambil posisi duduk.

“Engkau seperti sedang memikirkan sesuatu,” ujar Shafwan lagi.

“Ya, aku mengkhawatirkan anakku yang sekarang ditawan musuh kita,” katanya membenarkan.

Umair kemudian berbicara mengenai kawan-kawannya yang mati di Perang Badar. Bagi Shafwan, peristiwa itu tidak mungkin dilupakannya. Bapaknya sendiri, Umayyah bin Khalaf, tewas di tangan Muslimin dalam pertempuran tersebut.

Pada pagi itu, kebencian di dalam dada keduanya kian menguat. Rasanya ingin sekali melampiaskan kesumat seketika kepada umat Islam. “Seandainya aku tidak terlilit utang dan keluargaku tidak miskin, pastilah aku pergi ke Yastrib untuk membunuh Muhammad dengan pedangku sendiri!” ucap Umair.

“Jadi, engkau berani menghabisi Muhammad seandainya kutanggung semua utangmu itu?” timpal Shafwan.

“Tentu saja! Selama ini, persoalanku dengan para penagih selalu menghalangiku keluar dari Makkah. Mereka pasti menyangkaku akan menghindari tagihan sekiranya aku pergi ke luar kota,” jelasnya.

“Kalau begitu, aku berjanji akan menjamin semua utangmu dan memberikan bayaran yang sangat tinggi kepadamu, asalkan engkau berhasil membunuh Muhammad!”

Mendengar itu, Umair tersenyum lebar. Kedua orang musyrik yang berbeda status sosial itu kemudian bersalaman sebagai tanda telah bersepakat. Keesokan harinya, berangkatlah si jagoan Quraisy menuju Yastrib—nama Madinah bagi kaum non-Muslim.

 
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, tibalah Umair di Madinah. Tanpa menunggu lama, dirinya langsung mencapai sekitaran Masjid Nabawi.
 
 

Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, tibalah Umair di Madinah. Tanpa menunggu lama, dirinya langsung mencapai sekitaran Masjid Nabawi. Pada subuh itu, ia hendak mencegat Rasulullah SAW begitu waktu shalat usai.

Tiba-tiba, Umar bin Khattab melihatnya yang sedang bersembunyi di balik rimbunnya pohon kurma. “Tangkap anjing ini!” teriak sahabat yang bergelar al-Faruq itu. Seketika, kaum Muslimin mengepung Umair. Kafir Quraisy itu tidak berkutik.

Dalam keadaan terikat, Umair diseret ke hadapan Nabi SAW, tidak jauh dari halaman Masjid Nabawi. Begitu melihat keadaannya, Rasulullah SAW menyuruh Umar untuk melepaskan seluruh ikatan tali dari tangan, kaki, dan mulut lelaki musyrik tersebut.

Kemudian, dengan lemah lembut beliau mengajak Umair untuk berbicara. “Apa maksud kedatanganmu kemari?” tanya Nabi SAW.

’Im shabahan, ya Muhammad! Saya datang untuk membebaskan putra saya,” kata Umair.

“Allah telah memuliakan kami dengan ucapan salam yang lebih mulia dari itu (’im shabahan), yaitu ucapan salam para ahli surga,” ujar Rasul SAW, “katakanlah, wahai Umair, apa maksud kedatanganmu kemari?”

“Aku datang untuk putraku yang ditawan, perlakukanlah dia dengan baik,” jawabnya lagi.

Untuk ketiga kalinya, Nabi SAW mengulangi pertanyaannya. Jawaban yang beliau terima pun tetap sama. Maka beliau menunjuk pedang yang dibawa Umair. “Untuk apa benda ini engkau bawa?”

“Semoga Allah hinakan pedang ini. Apa ada hal lain yang Anda inginkan dari kami?” kata Umair dengan ketus.

“Wahai, Umair. Sungguh engkau telah mengikat janji dengan Shafwan bin Umayyah di dekat Ka’bah untuk datang ke Madinah dengan membawa pedang hendak membunuhku. Ia bersedia melunasi utang-utangmu dan memberikan bayaran yang tinggi kepadamu. Akan tetapi, Allah menjagaku dari kejahatan manusia dan engkau tidak akan mampu membunuhku,” tutur Rasulullah SAW, membongkar kedok lelaki Quraisy tersebut.

Betapa terkejutnya Umair. Ia yakin sekali, tidak ada yang mengetahui kesepakatannya dengan Shafwan selain dirinya dan bangsawan Quraisy tersebut. Tidak ada siapapun selain mereka berdua di dekat Ka’bah pada pagi yang agak gelap itu.

 
Ia pun menunduk di hadapan Rasulullah SAW. Sesaat kemudian, Umair berkata.
 
 

Ia pun menunduk di hadapan Rasulullah SAW. Sesaat kemudian, Umair berkata, “Ya Rasulullah, dahulu kami mencacimu dan tidak mempercayai wahyu Illahi yang turun kepadamu. Namun, engkau mengetahui ceritaku dengan Shafwan bin Umayyah, padahal kesepakatan itu hanya diketahui oleh kami berdua. Demi Allah, sungguh aku yakin bahwa Allah-lah yang telah menyampaikannya kepadamu. Maka dengarkanlah persaksianku ini,” ujarnya.

Umair lantas mengucapkan dua kalimat syahadat. Sejak itu, dirinya menjadi seorang Muslim. “Segala puji bagi Allah yang telah membawaku kepadamu sehingga Dia membimbingku kepada Islam,” katanya.

Sejarah Narkoba di Batavia

Sebelum masa VOC (1619), madat atau candu merupakan komoditas yang diperdagangkan di pelabuhan Sunda Kelapa.

SELENGKAPNYA

Keluarga Sakinah Lahirkan Generasi Unggul

Situasi keluarga yang diliputi kebahagiaan akan mudah menanamkan nilai kebaikan

SELENGKAPNYA

Tips Rasulullah Menebar Cinta dalam Keluarga

Rasulullah berpesan agar dalam berkeluarga harus saling menghormati.

SELENGKAPNYA