vp,,rm
Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Nabi Muhammad sebagai Rahmat

Mari berkomitmen mengenal ajaran Nabi Muhammad SAW lalu meneladan akhlaknya.

OLEH DR MUHAMMAD QOSIM 

“Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Kata rahmat terdiri dari huruf ra, ha, dan mim, pada dasarnya mengandung arti kelembutan (al-raqqah), simpati (al-‘athf), dan belas kasih (al-ra'fah). Demikian ditulis Ibn Faris dalam kitab Mu’jam Maqayis al-Lughah.

Pakar tafsir M Quraish Shihab membedakan makna rahmat pada makhluk dan rahmat pada Allah. Rahmat pada makhluk berarti rasa pedih melihat ketidakberdayaan pihak lain sehingga mendorongnya untuk membantu mengatasi ketidakberdayaan itu. Sementara rahmat Allah adalah limpahan karunia atau anugerah positif.

Salah satu bentuk rahmat Allah SWT adalah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi semesta alam. Satu-satunya nabi yang disebut rahmat (Rahim) adalah Nabi Muhammad SAW (QS at-Taubah [9]: 128). Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir menulis, Rasulullah sebagai rahmat karena ia membawa syariat Alquran, petunjuk, dan hukum-hukumnya.

Seluruh totalitas Nabi SAW adalah rahmat, baik sikap, ucapan, dan perbuatannya. Ajaran beliau juga rahmat. Hal ini relevan dengan pernyataan ‘Aisyah RA, “Wa kana khuluquhul quran” (akhlak nabi SAW adalah Alquran). Sementara Alquran merupakan rahmat bagi setiap mukmin (QS Yunus [10]: 57).

Ibn Katsir menulis, “Siapa saja yang menerima rahmat ini, dan mensyukuri nikmat ini, maka ia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, siapa saja menolaknya dan mengingkarinya, maka ia akan merugi di dunia dan di akhirat.” Maka bersyukurlah sebagai umat Nabi Muhammad SAW dengan meneladannya menyebar rahmat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti yang diajarkan dan dicontohkannya.

Dalam berkeluarga, misalnya, rahmat atau kasih sayang menjadi modal penting untuk mewujudkan keluarga Sakinah (QS ar-Rum [30]: 21). Rahmat dalam keluarga menjadi perisai dari kasus KDRT yang merusak keharmonisan suami istri dan berdampak buruk pada mentalitas anak-anaknya. Mendidik anak saleh mesti berbasis rahmat. Mendidik anak dengan kekerasan, hanya akan mengeraskan hati mereka.

 
Dalam berkeluarga, misalnya, rahmat atau kasih sayang menjadi modal penting untuk mewujudkan keluarga Sakinah.
 
 

Dalam menjalin hubungan sosial, harus mempererat silatuahim. Sabdanya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahim).” (HR. Bukhari). Jangan merusak persaudaraan dengan ghibah, namimah, dan menyebar fitnah. Jika ada saudaranya bersalah, beri nasihat atau kritik berbasis kasih sayang, bukan dengan rasa kebencian dan penghinaan.

Mari berkomitmen mengenal ajaran Nabi Muhammad SAW lalu meneladan akhlaknya dalam berbagai aspek kehidupan. Allahu al-Musta’an.

Saat Che Guevara Dieksekusi

Catatan Che berisi ideologi yang diperjuangkannya

SELENGKAPNYA

Kain yang Mengubah Fashion Dunia

Setidaknya ada 11 jenis kain impor yang diminati masyarakat Jawa kuno, khususnya oleh kelompok bangsawan.

SELENGKAPNYA

Anies Sudah Tempatkan Satu Kaki di Pilpres

Anies dan Nasdem masih harus bekerja sama dengan partai lain agar pencalonannya mulus.

SELENGKAPNYA