Foto Habib Umar Alatas | Rep-Achmad Syalaby Ichsan

Kisah

Mengenang Maulid Nabi di Kediaman Habib Umar Alatas

Lebih dari 100 ribu kaum Muslimin dan Muslimat mendatangi acara maulid.

Disadur dari Harian Republika Edisi 8 September 1995 

Pagi hari Ahad (3/9) lalu, jalan raya antara Ciawi (ujung jalan tol Jakarta - Bogor) ke Cipayung yang jaraknya sekitar 15 km, nyaris macet total. Dari puluhan mobil angkot yang beroperasi sepanjang jalan itu terdengar teriakan, "Habib Umar, Habib Umar!"

Para sopir angkot itu menawarkan tumpangan kepada masyarakat yang berdatangan dari Jakarta, Bogor, dan daerah sekitarnya yang ingin menghadiri acara Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman Habib Umar Alatas di Cipayung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Diperkirakan lebih dari 100 ribu kaum muslimin dan muslimat mendatangi acara Maulid tersebut. Padahal, seperti yang dikemukakan sejumlah orang yang dekat dengannya, tidak ada satu pun undangan yang disebar agar menghadiri peringatan maulid ini.

Untuk pengunjung sebanyak itu, menurut Habib Ismed Alhabsji, salah seorang yang sangat dekat dengan Habib Umar, telah dipotong 1.300 ekor kambing, dan puluhan ekor sapi. Di samping itu juga disediakan 12 ribu dus nasi beserta lauk pauknya untuk dibawa pulang para jamaah.

"Maulid Nabi SAW di kediaman Habib Umar tahun ini mungkin yang paling riuh dibandingkan tahun-tahun silam," kata Encik Mahani, yang khusus datang dari Singapura.

 
Bersama Encik Mahami dan suami, masih ada sekitar 1.000 jamaah dari Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, dan Australia Barat yang khusus datang ke Indonesia.
 
 

Menurut Encik Mahani, ia beserta suaminya sejak tahun 1970-an tidak pernah absen hadir di peringatan Maulud Nabi SAW di majelis Habib Umar. Bersama Encik Mahami dan suami, masih ada sekitar 1.000 jamaah dari Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, dan Australia Barat yang khusus datang ke Indonesia untuk menghadiri Maulid yang diselenggarakan Habib Umar. Mereka datang ke Cipayung sendiri-sendiri dan ada pula yang berombongan.

Para tamu dari luar negeri itu, sebagian besar ditampung di kediaman Habib Umar. Mereka secara berseloroh menyebut kediaman Habib Umar sebagai White House. Ini karena kediaman Habib Umar dan masjidnya yang berwarna putih, meski letaknya agak menjorok ke dalam sejauh 200 meter dari jalan raya Puncak-Bogor, tampak jelas menyerupai kediaman Presiden Amerika itu.

Di bangunan bertingkat tiga, yang tiap lantainya dilapisi hamparan permadani aneka warna dan dekorasi indah itu, sebagian tamu luar negeri itu tinggal sambil merasakan hawa segar pegunungan.

Menurut sejumlah jamaah dari Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia yang ditemui Republika, nama Habib Umar memang sangat dikenal di negara mereka. Ini tak lain karena Habib Umar beserta keluarga selama beberapa tahun pernah tinggal di Singapura dan Malaysia. Bahkan di Malaysia, selain di Kuala Lumpur, Habib Umar juga pernah tinggal di hampir semua negara bagian seperti Johor, Perak, dan beberapa kota lainnya.

Habib Umar bermukim di Singapura dan Malaysia pada tahun 1960-an. Pada tahun itu, ia bersama keluarganya dari Jakarta melakukan ibadah umrah ke Makkah. Kembali dari Tanah Suci, ia mampir sejenak di Singapura.

 
Habib Umar bermukim di Singapura dan Malaysia pada tahun 1960-an.
 
 

Saat berada di Singapura, yang saat itu masih merupakan negara bagian Malaysia, terjadilah konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Akibatnya, Habib Umar beserta keluarganya tertahan di negara tersebut dan baru bisa kembali ke Indonesia setelah konfrontasi usai.

Selama di Singapura dan Malaysia, Habib Umar tidak berdiam diri. Ia berdakwah di kalangan masyarakat Muslim yang ada di kedua negara itu. Oleh sebab itulah pengikut Habib Umar semakin hari semakin bertambah. Dan ketika Habib Umar kembali ke Indonesia, mereka tetap sering berkunjung untuk bersilaturahmi, khususnya pada saat peringatan Maulid.

Peringatan Maulid yang diselenggarakan Habib Umar di Cipayung, Bogor itu sudah berlangsung sekitar 10 tahun silam. Sebelumnya, peringatan itu berlangsung di kediamannya di kawasan Kalibata, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Salah satu keunikan pada peringatan Maulid yang digelar Habib Umar sejak puluhan tahun silam itu adalah tiadanya ceramah atau pidato dari para dai yang hadir, kecuali pembacaan maulid dan doa-doa. Menurut Habib Ismed, acara Maulid yang tanpa ceramah itu dimaksudkan untuk menghilangkan kekhawatiran terjadinya saling "menyerang" di antara para dai.

Habib Ismed juga membantah desas-desus yang menyatakan bahwa peringatan Maulid Nabi kali ini merupakan yang terakhir digelar di Cipayung, mengingat usia Habib Umar yang telah mencapai 107 tahun. Menurutnya, sesuai dengan pernyataan Habib Umar sendiri, Maulid Nabi di Cipayung akan terus berjalan, kendati Habib Umar sudah tidak ada lagi. Untuk itu Habib Umar telah mewakafkan kompleks masjid dan kediamannya seluas sekitar dua hektare di Cipayung untuk pengajian dan peringatan Maulid.

photo
Lukisan Habib Umar Alatas - (Rep-Achmad Syalaby Ichsan)

Habib Umar sendiri kini bertempat tinggal di Jalan Raya Condet 1, Jakarta Timur. Dahulu ketika ia masih sehat dan masih tinggal di Pasar Minggu, setiap malam Jumat ia mengadakan pengajian di Cipayung. Tapi kini ia datang ke Cipayung hanya pada acara Maulid untuk kemudian segera kembali ke Jakarta.

Kegiatan majelis taklim di Cipayung itu kini lebih banyak dilakukan oleh Mayjen (Purn) Eddy Nalapraja, mantan wakil gubernur DKI, yang terbilang orang yang dekat dengan Habib Umar. Bahkan, Eddy Nalapraja juga ikut menampung tamu Habib Umar dari luar negeri itu di kediamannya.

Hingga kini, di kediaman Habib Umar tiap malam Jumat diadakan pengajian dan pembacaan Maulid Diba'i yang diikuti oleh para kiai serta alim ulama Jakarta dan sekitarnya. Di rumahnya yang cukup besar itu, setiap pukul 04.00 pagi WIB sudah banyak didatangi para jamaah untuk salat Subuh, yang berjumlah sekitar 400 orang.

Setelah shalat mereka menemui Habib Umar di kamarnya. Karena kondisi yang sudah uzur, Habib Umar sekarang ini memang lebih banyak berada di kamarnya. Seperti ketika dia ke Cipayung, harus dipapah.

Umumnya mereka meminta doa. Para pengikutnya ini yakin bahwa sebagai seorang ulama yang sangat tawadhu, Habib Umar dekat dengan Allah. Habib Umar sendiri dalam nasihatnya selalu meminta agar mereka lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Setelah Shalat Subuh dan ngopi, para tamu tanpa memandang statusnya disediakan sarapan pagi bersama. Makanan yang dihidangkan adalah makanan Betawi seperti ketan atau nasi uduk dengan semur tahu dan telor.

Untuk hidangan setiap hari itu biayanya dari kocek Habib Umar sendiri. Karena sebagaimana dikatakan Habib Ismed, ulama sepuh ini mempunyai prinsip yang selalu dipegang teguh hingga kini, yakni "Beliau tidak pernah mau meminta-minta sumbangan, kecuali kalau diberi. Dan yang memberi pun orangnya harus ikhlas," ujar Ismed.

Karena itulah selama ini Habib Umar tidak pernah mau menerima sumbangan apalagi kalau sumbangan itu bertujuan dan mempunyai maksud tertentu.

 

 

 

Beliau (Habib Umar) tidak pernah mau meminta-minta sumbangan, kecuali kalau diberi. Dan yang memberi pun orangnya harus ikhlas. 

 

HABIB ISMED
 

 

 

Gagak di Langit Yogya dan Kisah Perlawanan TNI

Agresi militer kedua Belanda difokuskan di Yogyakarta sebagai ibu kota negara.

SELENGKAPNYA

Adisucipto dan Serangan Biadab Saat Ramadhan

Setelah gugur, Adisucipto dinobatkan sebagai bapak penerbangan Indonesia.

SELENGKAPNYA

Mengapa Soedirman Jadi Panglima?

Panglima Besar Jenderal Soedirman juga dikenal sebagai sosok yang rajin beribadah.

SELENGKAPNYA