Petugas amil zakat melayani warga yang membayar zakat fitrah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (29/4/2022). Baznas Masjid Istiqlal membuka layanan zakat fitrah hingga malam takbiran dengan besaran 3,5 liter atau 2,7 kilogram beras atau uang Rp 50 ribu pe | Republika/Putra M. Akbar

Khazanah

Kampus Didorong Buka Prodi Zakat dan Wakaf

Prodi zakat dan wakaf disarankan menyesuaikan dengan kebutuhan filantropi Islam.

JAKARTA – Saat ini sudah ada 18 perguruan tinggi yang membuka program studi (prodi) manajemen zakat dan wakaf di Indonesia. Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bidang Koordinasi Zakat Nasional, KH Achmad Sudrajat, yakin, prodi ini akan melahirkan para penggerak zakat.

“Mereka bisa menjadi vokalis zakat dalam hal penguatan peran, manfaat gerakan zakat ke depan, sehingga tujuan besar zakat dalam memberikan kesejahteraan umat akan cepat terlaksana,” ujar Sudrajat saat dihubungi Republika, Senin (22/8).

Dia pun mendorong perguruan tinggi untuk membuka lebih banyak lagi program studi manajemen zakat dan wakaf. Menurut dia, pembukaan prodi zakat ini penting untuk mempercepat literasi dan dakwah.

“Kita sangat menyambut baik dan mendorong agar ada percepatan ini sebagai bagian dakwah dan literasi tentang kekuatan filantropi melalui pendidikan. Ini saham yang terbaik dalam membangun implementasi nilai-nilai keagamaan,” kata dia.

Sebelumnya, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag), Tarmizi Tohor, juga mendorong lebih banyak perguruan tinggi membuka prodi manajemen zakat dan wakaf.  “Saat ini, sudah ada 18 perguruan tinggi yang membuka jurusan manajemen zakat dan wakaf. Semoga ke depan semakin bertambah lagi untuk mewujudkan amil dan nazir profesional,” ujar Tarmizi, Kamis (18/8).

Ia menerangkan, penerapan prodi manajemen zakat dan wakaf merupakan salah satu amanat undang-undang untuk mewujudkan tata kelola zakat dan wakaf secara profesional. "Melalui UU tersebut, negara hadir dalam meningkatkan kompetensi amil dan nazir untuk mengelola zakat dan wakaf sesuai ketentuan syariah," katanya.

Tarmizi juga menyampaikan, Kemenag telah bekerja sama dengan sejumlah lembaga amil zakat (LAZ) dan nazir kelembagaan untuk memberi ruang kepada mahasiswa prodi manajemen zakat dan wakaf dalam menerapkan ilmu yang dimiliki. "Kami pastikan para mahasiswa tidak akan kesulitan mencari tempat untuk magang, karena sudah ada LAZ dan nazir yang siap menerima," ujar dia.

photo
Para penerima bantuan membawa paket pangan usai serah terima 100 Paket Pangan dari Raja Salman untuk warga Kota Bandung, melalui Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) kepada Pemkot Bandung, di Balai Kota Bandung, Rabu (13/4). Bantuan kemanusiaan dari Kerajaan Arab Saudi tersebut sebagai bentuk kepedulian sosial kepada kaum Muslimin Indonesia saat Ramadhan khususnya yang terkena dampak pendemi. - (Edi Yusuf/Republika)

Sementara itu, pengamat ekonomi syariah, Yusuf Wibisono, menyarankan agar prodi manajemen zakat dan wakaf menyesuaikan dengan kebutuhan industri yakni kebutuhan lembaga filantropi Islam, baik amil zakat maupun nazir wakaf. Harapannya, lulusan prodi ini bisa diserap oleh lembaga amil zakat dan nazir wakaf.

Yusuf mengatakan, sudah saatnya perguruan tinggi mengembangkan kompetensi baru dalam hal ini adalah filantropi Islam. Sebab, saat ini pertumbuhan lembaga filantropi Islam, baik lembaga zakat maupun nazir wakaf sangat banyak sekali.

"Jadi, sudah selayaknya dan seharusnya bidang ini dikaji, dipelajari secara khusus dan mendalam," kata Yusuf.

Menurut Direktur Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) ini, masih ada gap yang sangat besar antara kompetensi yang dibutuhkan oleh market atau industri dengan kompetensi yang dikembangkan di kampus. Karena itu, Yusuf menyarankan bagi prodi yang mengembangkan zakat dan wakaf, sebaiknya coba didekatkan kompetensi yang mereka kembangkan di kampus dengan kebutuhan industri.

Yusuf menyampaikan, pernah bicara dengan salah satu pengelola prodi zakat dan wakaf di sebuah perguruan tinggi agama. Ternyata, pendekatan prodi zakat dan wakaf sangat fikih. "Padahal, di industri yang saya lihat dan pahami, lembaga amil zakat dan nazir wakaf kita itu kebutuhannya tidak semua fikih, justru lebih banyak nonfikih, meski pasti ada kebutuhan fikih," katanya.

Yusuf menambahkan, lembaga amil zakat dan nazir wakaf lebih banyak membutuhkan SDM yang menguasai bidang nonfikih. Misalnya, di lembaga amil zakat, mereka membutuhkan orang-orang yang mendalami bidang fundraising dan marketing karena bidang itu ujung tombak amil zakat. Mereka membutuhkan orang yang paham dengan media, teknologi, dan lain sebagainya.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Staadhuis, Sebuah Ladang Pembantaian

Staadhuis atau Gedung Balai Kota Batavia ini menyimpan sejarah paling buram bagi Kota Jakarta.

SELENGKAPNYA

Bolehkah Ambil Untung dari Jual Beli Pulsa dan Token?

Jika kesimpulannya token dan pulsa itu bukan alat bayar, kaidah-kaidah sharf tidak berlaku.

SELENGKAPNYA

Menjadikan PTKI Pusat Keunggulan

PTKI harus segera melakukan konsolidasi internal untuk menyiapkan langkah-langkah perbaikan.

SELENGKAPNYA