Pengunjung berwisata di Museum Sejarah Jakarta, kompleks Kota Tua, Jakarta, Kamis (30/12/2021). Pemerintah Kota Jakarta Barat akan menutup Kawasan Kota Tua saat malam Tahun Baru 2022 pada 31 Desember 2021 hingga 1 Januari 2022 guna mencegah keramaian pada | ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.

Nostalgia

Staadhuis, Sebuah Ladang Pembantaian

Staadhuis atau Gedung Balai Kota Batavia ini menyimpan sejarah paling buram bagi Kota Jakarta.

OLEH ALWI SHAHAB

Dulu dan juga kini gedung Museum Sejarah Jakarta, di Jalan Faletehan I, seolah tak pernah kehilangan kemegahannya. Namun, mungkin tak banyak orang tahu jika gedung yang dulu dikenal dengan nama Staadhuis atau Gedung Balai Kota Batavia ini menyimpan sejarah paling buram bagi Kota Jakarta.

Saat ini banyak orang yang hanya tahu bahwa gedung megah itu adalah sebuah museum yang suka didatangi turis-turis asing maupun domestik. Atau hanya tahu bahwa gedung bercat putih keabu-abuan, berlantai dua, dan berarsitektur Belanda itu memiliki taman yang luas dan asri dilengkapi belasan bangku-bangku panjang di bawah kerimbunan pepohonan.

Juga barangkali banyak yang hanya tahu bila di depan gedung ini banyak pedagang kaki lima yang mangkal untuk melayani kebutuhan perut orang-orang yang lalu lalang di kawasan itu.

Padahal gedung anggun tempat orang suka duduk-duduk di bawah pepohonan di halamannya itu pernah menjadi "ladang pembantaian". Puluhan ribu nyawa manusia dikabarkan lepas dari raganya di tempat ini. Halamannya pernah begitu merah dibanjiri darah.

Label sebagai "ladang pembantaian" itu tersemat selama gedung yang didirikan pada tahun 1707 itu masih berfungsi sebagai Balai Kota Batavia. "Inilah satu-satunya balai kota yang ada di Indonesia pada masa kolonial," ujar Candrian, kepala Seksi Penelitian Sejarah Dinas Museum dan Sejarah DKI.

 
Gedung anggun tempat orang suka duduk-duduk di bawah pepohonan di halamannya itu pernah menjadi "ladang pembantaian".
 
 

Ketika itu gedung yang pada tahun 1978 dijadikan Museum Sejarah Jakarta ini merupakan tempat untuk mengadili para "pemberontak" pemerintah kolonial Belanda. Ternyata, selain untuk mengadili, gedung ini juga menjadi tempat eksekusi puluhan ribu patriot bangsa, baik langsung maupun mati perlahan-lahan dengan siksaan. "Staadhuis adalah gedung lambang kekejaman pemerintahan kolonial," kata Candrian.

Menurutnya, bukti-bukti kekejaman itu masih tersimpan di dalam gedung itu hingga kini. Kamar-kamar tahanan atau penjara, misalnya. Sampai saat ini kamar di lantai dasar gedung yang digunakan untuk memenjarakan pesakitan yang hendak dihukum gantung atau hukuman lain, masih dijaga kondisinya.

Di kamar setinggi tak lebih dari satu meter tanpa cahaya ini masih bisa dilihat untaian rantai lengkap dengan bandul besi bulat sebesar genggaman dua tangan laki-laki yang berfungsi sebagai borgol. Bandul-bandul besi ini jumlahnya ratusan dan terserak di kamar-kamar sempit dan pengap yang jumlahnya puluhan itu.

"Mereka yang dipenjarakana di sini tidak mampu bertahan lama. Delapan puluh persen dari tahanan itu umumnya mati sebelum empat bulan karena tidak tahan menghadapi penyiksaan," cerita Candrian.

Menurut pihak Dinas Museum dan Sejarah DKI, mereka yang dipenjarakan di sini, sebelum menjalani hukuman mati, dirantai berpasangan. Selama menunggu eksekusi, mereka wajib menjalani kerja berat di bawah pengawasan ketat, seperti membersihkan gorong-gorong atau parit di kawasan Kota Batavia.

Konon, Pangeran Diponegoro sebelum dibuang ke Manado, sempat menghuni salah satu kamar tahanan di gedung Staadhuis ini. Pahlawan nasional lain yang juga pernah menghuni kamar itu di antaranya Untung Surapati dan pahlawan wanita asal Aceh, Cut Nyak Dien. Hanya saja, menurut pihak Dinas Museum, para pejuang kemerdekaan ini tidak ditempatkan bersama tahanan lain.

photo
Pengunjung mengamati Kamar Diponegoro saat soft launching di Museum Sejarah Jakarta. - (Republika/Mahmud Muhyidin)

Namun, tak semua tokoh bernasib sebaik mereka di Staadhuis. Ada juga yang benar-benar harus menemui ajal di tempat ini. Di antaranya Kapten Yonker, serdadu VOC asal Ambon yang membelot dan melawan pemerintah kolonial bersama 100 orang pengikutnya untuk bergabung dengan Amungkurat II dari Mataram.

Nahas, Kapten Yongker tertangkap dan akhirnya menemui ajal di "ladang pembantaian Staadhuis". Dia dieksekusi di halaman gedung dengan cara ditebas lehernya menggunakan golok.

Kabarnya, sebelum dieksekusi Kapten Yongker dan pengikutnya harus mengalami siksaan lebih dulu selama beberapa bulan. Setelah eksekusi, kepala Kapten Yonker yang sebelum melakukan desersi merupakan serdadu kesayangan kompeni, dipajang untuk dipertontonkan pada masyarakat ramai di Batavia.

Seberapa jauh kekejaman pengadilan kolonial itu telah direkam Adolf Heuken, sejarawan Belanda yang kini mukim di Jakarta, dalam bukunya berjudul Historical Sight of Jakarta. Di buku ini disebutkan bahwa pelaksanaan eksekusi pada zaman itu dilakukan dengan cara-cara primitif, termasuk penggunaan guilotine yang dilakukan di halaman gedung disaksikan masyarakat luas.

Cerita hampir senada juga disajikan Willard A Hanna, warga Amerika anggota staf Kantor Penerangan AS (USIS) yang pernah bertahun-tahun mukim di Jakarta, dalam buku Hikayat Jakarta. Di situ diceritakan bagaimana pemerintah kolonial melakukan eksekusi terhadap para tahanannya.

Selalu, menurut buku itu, eksekusi yang dilakukan di halaman Staadhuis dihadiri ribuan masyarakat. Di halaman ini, terdapat sebuah tiang gantungan permanen yang siap setiap saat digunakan.

photo
Sepi PKLWarga melintas di depan halaman bangunan Museum Sejarah Jakarta di kawasan taman Fatahillah. - (Republika/Agung Fatma Putra)

Namun, tiang gantungan itu tak selalu digunakan dalam setiap eksekusi, karena seringkali jenis hukumannya adalah pancung. Tragisnya hukuman pancung ini sering menggunakan algojo yang tak cukup berpengalaman. "Pernah seorang korban sampai harus dibabat tiga kali sebelum tengkuknya akhirnya putus," tulis Willard A Hanna dalam buku itu.

Peristiwa yang dinilai paling mengerikan terjadi saat pecahnya pemberontakan Cina pada tahun 1740. Dikabarkan 500 orang Cina perantauan dibantai di halaman gedung Staadhuis. Selain pembantaian di Staadhuis, konon aksi penumpasan pemberontak itu merenggut 10 ribu nyawa orang Cina.

Tentara pemerintah kolonial ketika itu benar-benar hendak menumpas pemberontak Cina hingga ke akar-akarnya, termasuk membantai wanita dan anak-anak. Rumah-rumah orang Cina yang kebanyakan berada tak jauh dari Staadhuis juga turut dibumihanguskan.

Kini bau darah dan jerit kematian itu kembali terasa ketika memasuki kamar-kamar tahanan di lantai bawah tanah gedung yang tetap dibiarkan seperti kondisi aslinya. Namun, dari luar kini yang bisa disaksikan hanyalah kemegahan sebuah gedung museum dengan arsitektur abad 18 yang anggun.

Gedung yang oleh orang Betawi masa lalu dinamakan "gedung bicara" --tempat Dewan Hakim pemerintah kolonial berembuk menetapkan putusan-- itu kini telah menjadi salah satu cagar budaya dalam revitalisasi "Kota Tua Batavia".

Dialah saksi bisu catatan sejarah paling buruk Kota Jakarta yang kini memasuki ulang tahun ke-469. Gedung dengan halaman sarat pepohonan hijau dan rimbun disiram darah patriot bangsa.

Tulisan ini disadur dari Harian Republika edisi 23 mei 1996, Alwi Shahab adalah wartawan sepanjang zaman Republika yang wafat pada 2020.

Langkah Kecil De-dolarisasi

The Fed secara agresif terus menaikkan suku bunga guna mengendalikan laju inflasi.

SELENGKAPNYA

Sepatu Pak Dahlan

Pak Dahlan, lebih pantas mendapat penghargaan lebih dari siapa pun di sekolah itu.

SELENGKAPNYA

Pajak Rambut dan Judi Tempo Dulu

Berbagai pajak dan pungutan itu 'ditarik' oleh para kapiten Cina yang mengurus mereka laksana raja-raja Mandarin.

SELENGKAPNYA