Petugas menutup sampah menggunakan kain terpal sebelum dibawa menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi di Bank Sampah Depo Menteng Atas, Setiabudi, Jakarta, Senin (4/11/2024). | Republika/Thoudy Badai

Nasional

Proyek Sampah Jadi Listrik Dikebut

Keberhasilan PSEL sangat bergantung pada pemilahan sampah.

 


JAKARTA — Pemerintah mempercepat pembangunan PSEL di berbagai wilayah, mulai dari Semarang Raya, Banten, hingga Jawa Timur, dengan skema kolaborasi lintas daerah dan dukungan pemerintah pusat. Langkah ini dilakukan untuk menjawab lonjakan produksi sampah perkotaan sekaligus mengurangi ketergantungan pada metode pembuangan terbuka.

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, teknologi berbasis energi menjadi solusi untuk pengelolaan sampah dalam skala besar. “Meskipun banyak teknologi dan metode pengelolaan sampah tersedia, skala besar membutuhkan teknologi tinggi. PSEL menjadi solusi strategis karena mampu mengubah sampah menjadi energi listrik,” kata Hanif.

Di Semarang Raya, proyek PSEL ditargetkan mampu mengolah hingga 1.100 ton sampah per hari dari total produksi 1.627 ton. Skema aglomerasi yang mencakup Kota Semarang dan Kabupaten Kendal diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan cakupan layanan. Pemerintah daerah juga diminta memperkuat pengurangan dan pemilahan sampah selama masa pembangunan.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemerintah daerah menargetkan pengelolaan sampah terintegrasi menuju kondisi bebas sampah pada 2029. “Pada 2029 nanti, kita menargetkan zero sampah. Kami berkomitmen melakukan reduksi agar sampah di Jawa Tengah bisa terkelola dengan baik,” kata Luthfi.

Sementara itu di Banten, dua proyek PSEL dengan kapasitas total 4.000 ton per hari segera memasuki tahap lelang. Fasilitas tersebut akan dibangun di Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, dan TPSA Cilowong, Kota Serang, dengan target penyelesaian sekitar tiga tahun.

Hanif mengatakan proses lelang dilakukan secara nasional mengingat besarnya kebutuhan pendanaan proyek. Dokumen kerja sama akan segera diserahkan untuk memulai tahapan lelang, sementara sejumlah kawasan lain seperti Bali, Yogyakarta, Bekasi, dan Bogor Raya juga masuk tahap serupa.

Hanif menekankan keberhasilan PSEL sangat bergantung pada pemilahan sampah sejak sumbernya. “Sekali lagi kami sudah sering ngomong, apapun teknologi yang digunakan maka fondasi dasar adalah sampah itu terpilah. Tanpa sampah terpilah maka biayanya akan cukup besar dan membebani masyarakat,” kata Hanif.

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, proyek ini tidak hanya menyasar persoalan sampah, tetapi juga memperkuat ketahanan energi daerah. “Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan,” kata Andra.

Di Jawa Timur, percepatan PSEL dilakukan melalui kerja sama tujuh pemerintah daerah di kawasan Surabaya Raya dan Malang Raya. Total pasokan sampah mencapai lebih dari 2.200 ton per hari untuk memenuhi kebutuhan minimal operasional fasilitas.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kolaborasi lintas daerah menjadi kunci dalam penyediaan bahan baku sekaligus penguatan energi baru terbarukan. “Kerja sama ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi bagian dari solusi besar kita untuk menghadirkan energi baru terbarukan dari sektor limbah,” kata Khofifah.

Lokasi pembangunan di Jawa Timur direncanakan berada di Sumberejo, Surabaya, dan Bunut Wetan, Kabupaten Malang. Pemerintah provinsi akan melakukan pengawasan melalui koordinasi, monitoring, dan evaluasi untuk memastikan target pengelolaan sampah dan produksi energi tercapai.

Hanif menambahkan capaian pengelolaan sampah di Jawa Timur telah mencapai 52,7 persen, tertinggi secara nasional dan melampaui rata-rata nasional 24,95 persen. Menurutnya, praktik di Jawa Timur dapat menjadi rujukan bagi daerah lain dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis teknologi dan mengurangi pembuangan terbuka.

Percepatan pembangunan PSEL di berbagai daerah ini menunjukkan arah kebijakan pemerintah untuk mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan produksi energi. Namun, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada konsistensi pemilahan sampah di tingkat masyarakat dan koordinasi lintas pemerintah.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat