Kapal Global Sumud Flotilla berlayar meninggalkan perairan Turki menuju perairan Internasional, Kamis (14/5/2026). Sebanyak 59 kapal GSF yang ditumpangi oleh sekitar 500 partisipan dari sekitar 50 negara resmi berlayar menuju perairan Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan, vitamin, kebutuhan bayi dan logistik lainnya. Republika/Thoudy Badai | Thoudy Badai/Republika

Internasional

Layar Terbentang, Armada Global Sumud Teruskan Pelayaran ke Gaza

Sejumlah kapal sempat harus menjalani perbaikan pada Jumat.

Oleh Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Laut Mediterania

MARMARIS – Panitia Global Sumud Flotilla mengumumkan armada kemanusiaan menuju Gaza akan kembali bertolak menuju Gaza pada Sabtu (16/5/2026) siang. Ini setelah kapal-kapal itu melakukan dua persinggahan teknis. Ini guna menangani sejumlah kebutuhan mendesak pada kapal-kapal mereka.

Dalam pernyataan resminya, tim komunikasi Global Sumud Flotilla menyebut penghentian sementara itu dilakukan untuk memperbaiki perangkat Starlink, mesin kapal, serta sistem rigging atau penyangga layar kapal.

Panitia menegaskan persinggahan tersebut hanya bersifat teknis dan tidak berkaitan dengan aktivitas lain di daratan. “Secara hukum ini penting untuk ditegaskan, tidak ada seorang pun yang akan turun ke darat. Ini hanya persinggahan teknis singkat,” demikian pernyataan panitia.

Mereka menjelaskan armada dibagi menjadi dua kelompok selama proses perbaikan berlangsung. Kelompok pertama terdiri atas kapal-kapal yang mengalami gangguan pada perangkat Starlink. Kapal-kapal tersebut bergerak bersama kapal taktis menuju perairan Yunani untuk melakukan perbaikan.

Sementara kelompok kedua, yang terdiri atas kapal-kapal lainnya, menuju perairan Turki untuk membantu perbaikan sistem rigging dan mesin kapal Girolama.

Kapal-kapal Global Sumud Flotilla berlayar di perairan internasional menuju Gaza, Kamis (14/5/2026). - (Thoudy Badai/Republika)  ​

Panitia menyatakan seluruh perbaikan ditargetkan selesai pada akhir hari ini. Armada kemanusiaan itu dijadwalkan kembali melanjutkan pelayaran pada Sabtu siang waktu setempat sebelum bergabung kembali dalam perjalanan menuju Gaza.

Sementara jurnalis Republika Thoudy Badai yang menaiki kapal Ozgurluk melaporkan cuaca cerah mengiringi pelayaran Global Sumud. Kendati demikian, ombak di Laut Mediterania tergolong tinggi, membuat tak sedikit penumpang mabuk laut. Di kapal-kapal tersebut, diterapkan sistem jaga bergiliran untuk mengantisipasi pencegatan oleh Israel.

Global Sumud Flotilla merupakan armada solidaritas internasional yang membawa bantuan kemanusiaan dan dukungan politik bagi warga Palestina di Jalur Gaza di tengah blokade dan agresi Israel yang terus berlangsung.

 

Sembilan WNI

Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mewakilkan partisipasinya kepada sembilan relawan dan wartawan untuk ikut dalam kelanjutan misi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF) 2026. Sembilan partisipan dari Indonesia itu akan bergabung dengan sekitar 500-an relawan dan aktivis kemanusian dari 30-an negara untuk melanjutkan misi pelayaran menembus blokade Gaza, Palestina.

photo
Kapal Global Sumud Flotilla berlayar meninggalkan perairan Turki menuju perairan Internasional, Kamis (14/5/2026). Sebanyak 59 kapal GSF yang ditumpangi oleh sekitar 500 partisipan dari sekitar 50 negara resmi berlayar menuju perairan Gaza untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan, vitamin, kebutuhan bayi dan logistik lainnya. Republika/Thoudy Badai - (Thoudy Badai/Republika)

Dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai turut serta dalam misi kemanusian itu. Angkat jangkar serempak digelar sore ini melalui Dermaga Albatros, di kawasan Pelabuhan Marmaris, Turki. Ada sebanyak 54 kapal kemanusian yang membentangkan layar serampak dari perairan selatan Turki itu.

Steering Committee Global Sumud Flotilla Maimon Herawati mengatakan, jumlah kapal akan bertambah menjadi 60. "Insya Allah masih ada enam kapal dari teman-teman Freedom Flotilla Coalition yang juga ikut bergabung dalam kelanjutan misi ini. Jadi sekitar 60an kapal yang berlayar untuk menembus blokade ilegal di Gaza," kata Maimon saat dijumpai Republika di Marmaris, Turki, Kamis (14/5/2026).

Dua wartawan Republika turut berlayar di Kapal BoraLize dan Kapal Ozgurluk. Sedangkan partisipan Indonesia lainnya berada terpisah di kapal-kapal yang membawa bantuan kemanusian untuk masyarakat di Gaza, Palestina itu. Selain dua dari Republika, para partisipan lainnya di antaranya Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho dan Rahendro Herubowo.

Mengacu informasi waktu, pelayaran dari Marmaris untuk menembus perairan Gaza, diperkirakan memakan waktu normal sekitar tiga hari dengan kecepatan kapal knot rendah dan sedang. Konvoi laut akbar Global Sumud Flotilla kali ini tetap sama misinya, yaitu membawa bantuan kemanusian berupa bahan makanan berat, air bersih, susu formula bayi, dan kebutuhan anak-anak lain, serta obat-obatan juga buah-buahan.

Relawan di atas kapal Global Sumud Flotilla bertolak menuju Gaza pada Jumat (15/5/2026). - (Thoudy Badai/Republika)  ​

Dari sekitar 500 lebih para relawan dan aktivis yang turut serta dalam pelayaran, didominasi kalangan dokter dan medis, serta ahli kesehatan. Karena kalangan itu yang saat ini paling dibutuhkan oleh warga di Gaza. Sejauh ini, pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla selalu mendapatkan penyerangan dan penculikan oleh tentara laut Zionis Israel yang dilakukan di perairan internasional.

Sebelumnya, setelah hampir setengah bulan menunda-nunda kelanjutan pelayaran setelah penyerangan tentara laut Zionis Israel, Global Sumud Flotilla (GSF) memutuskan untuk melanjutkan misi pelayaran kemanusian menembus blokade Gaza, Palestina. Angkat jangkar serempak kapal-kapal kemanusian itu bakal dilakukan pada Kamis (14/5/2026) dari Dermaga Albatros, Marmaris, Turki. 500 lebih para relawan, dan dokter, bersama para aktivis akan ikut dalam pelayaran sipil akbar tersebut. 

Diperkirakan ada sebanyak 54 kapal yang bakal kembali berlayar. Termasuk di antara 34 kapal yang lolos dari penyerangan tentara laut zionis di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani pada Rabu (29/4/2026) lalu. Armada sisa itu, sudah bergabung memasuki perairan Marmaris pada Sabtu (9/5/2026) tengah malam lalu. 

Di Marmaris, sejak awal sudah bersiap sedikitnya 13 kapal dari Sumud Turki dalam misi pelayaran akbar menembus blokade Gaza itu. "Kami secara kolektif sudah memutuskan untuk kembali berlayar," begitu keputusan bersama para pemimpin Global Sumud Flotilla di Marmaris, Turki, Rabu (13/5/2026). "Keberangkatan dijadwalkan pada tanggal 14 (Kamis)," sambung pernyataan itu.

Sebelum memutuskan kembali melanjutkan pelayaran, pada Selasa (12/5/2026) Steering Committee Global Sumud Flotilla mengumpulkan seluruh partisipan pelayaran di Beluga Resort di Marmaris. General Assembly digelar untuk membahas tentang kelanjutan misi pelayaran sipil untuk kemanusian tersebut. Masih terdapat sekitar 400-an para aktivis dan relawan Global Sumud Flotilla yang datang ke gelaran penentuan nasib misi tersebut.

photo
Peserta misi kemanusiaan yang tergabung dalam Global Sumud Flotillah (GSF) 2.0 menyiapkan bantuan untuk warga Gaza di kawasan Pelabuhan Marmaris, Turki, Senin (11/5/2026). - (Republika/Thoudy Badai)

Mereka yang datang ke pertemuan itu, termasuk seluruhnya para aktivis pelayaran yang sempat tertahan selama sepekan di perairan Yunani. Ratusan relawan dan aktivis yang selama sepekan ini sudah menunggu pelayaran di Pelabuhan Marmaris juga ambil bagian dalam pembahasan rencana kelanjutan misi Global Sumud Flotilla itu. Termasuk diantaranya peserta pelayaran dari Indonesia yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).

Dalam general assembly itu dibahas tentang semua aspek menyangkut apakah pelayaran Global Sumud Flotilla 2026 akan dilanjutkan, atau ditunda. Seluruh partisipan pelayaran dari sedikitnya 40-an negara itu, juga membahas sisi baik, maupun buruk atas kelanjutan ataupun penundaan pelayaran kemanusian tersebut. 

General assembly juga turut membahas ragam aspek politik dan geopolitik apabila pelayaran dilanjutkan ataupun ditunda. Bahkan, dalam pertemuan itu juga membahas soal prediksi keamanan, dan prakiraan cuaca jika pelayaran dilanjutkan.

General assembly seluruh partisipan pelayaran itu, turut dihadiri oleh Saif Abukeshek yang merupakan salah satu pemimpin Global Sumud Flotilla tahun ini. Saif, baru saja dibebaskan, dan dideportasi oleh otoritas zionis ke Barcelona, Spanyol pada Ahad (10/5/2026) lalu. Saif, bersama mitranya sesama pemimpin pelayaran Global Sumud Flotilla, Thiago Avila merupakan korban dari penyerangan, pembajakan, dan penculikan kapal-kapal serta aktivis pelayaran oleh tentara laut zionis di perairan internasional dekat Yunani, pada Rabu (29/4/2026) lalu.

Meskipun tentara laut zionis menyerang 22 kapal, dan menculik sedikitnya 178 para aktivis dan relawan Global Sumud Flotilla. Namun hanya Saif dan Thiago yang dibawa ke sel penjara zionis yang berada di situs keamanan Shikma di tanah pendudukan. Saif dan Thiago selama dalam penawanan zionis, sempat diancam akan dibunuh atau dipenjara 100 tahun atas aktivisme keduanya terhadap Palestina.

photo
Thiago Avila (tengah), anggota Global Sumud Flotilla, tiba untuk menghadiri persidangan perpanjangan penahanan di Pengadilan Magistrat Ashkelon di Ashkelon, Israel, 03 Mei 2026. - (EPA/ABIR SULTAN)

Zionis Israel menuduh aktivisme Saif dan Thiago dalam misi pelayaran Global Sumud Flotilla merupakan bentuk perbantuan terhadap kelompok terorisme di Gaza. Zionis juga menuduh Saif dan Thiago melakukan terorisme karena membantu masyarakat di Gaza, yang selama ini diperangi oleh tentara zionis. Saif dan Thiago sempat melakukan mogok makan dan minum selama dalam penawanan. Dan keduanya mengalami penyiksaan fisik dan psikologis sebelum akhirnya dibebaskan lalu dideportasi, pada Ahad (10/5/2026).

Saif, saat berpidato di hadapan partisipan dalam general assembly di Beluga Resort, di Marmaris, Turki, Selasa (12/5/2026) menyampaikan, bahwa misi Global Sumud Flotilla bukanlah kisah tentang penculikan zionis terhadap dirinya maupun Thiago, ataupun ratusan aktivis lainnya. Kata dia, misi pelayaran akbar Global Sumud Flotilla harus tetap menjadikan keadilan dan kemanusian untuk masyarakat di Gaza sebagai tujuan utamanya.

"Misi flotilla ini harus tetap menjadikan Gaza, Palestina sebagai tujuan," kata dia. Apapun yang ia hadapi dan alami selama dalam penawanan tentara zionis, tak sebanding dengan penderitaan masyarakat di Gaza yang bertahun-tahun dalam blokade total Zionis Israel. "Apa yang saya, dan kawan-kawan saya alami selama ini, tidak ada apa-apanya dengan yang dialami oleh orang-orang di Gaza, Palestina. Mereka mengalami hal-hal paling buruk di dunia yang dilakukan oleh Israel. Pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan di Gaza yang hampir setiap hari kita mendengarnya dari sana," kata Saif.

Karena itu, kata dia, misi Global Sumud Flotilla harus menjadi jalur aktivisme kemanusian yang dapat memaksa otoritas-otoritas di seluruh dunia untuk segera melihat, dan menghentikan kengerian penjajahan, maupun genosida yang dilakukan Zionis Israel di Gaza. "Berlayar hanyalah salah satu cara agar kita dan seluruh dunia tidak tinggal diam membiarkan situasi di Gaza. Berlayar hanyalah salah satu cara untuk kita membuka blokade yang dilakukan fasisme Israel terhadap Gaza selama ini," ujar Saif. 

Kapal-kapal armada Global Sumud Flotilla yang sudah bersiap berlayar dari Dermaga Albatros, Marmaris, sejak pekan lalu sudah mulai mengemas barang-barang bantuan kemanusian untuk masyarakat di Gaza, Palestina. Para relawan mengumpulkan donasi untuk dibelikan berton-ton makanan berat dan protein tinggi, vitamin, air bersih, hingga susu formula untuk bayi juga anak-anak di Gaza yang selama ini dibiarkan kelaparan, dan kehilangan rumah tinggalnya akibat penjajahan dan genosida yang dilakukan Zionis Israel.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat