Cerpen Ayat yang Berpindah | Daan Yahya/Republika

Sastra

Ayat yang Berpindah

Oleh ADELLYA MARCELLINA

Aroma tinta misik yang tajam memenuhi kamar sempitku di pinggiran Jakarta Utara. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas, tergeletak selembar kertas muqahhar, kertas khusus kaligrafi yang teksturnya halus seperti sutra. Aku baru saja menerima pesanan dari seorang kolektor anonim melalui pesan singkat. Tugasnya sederhana namun ganjil, menyalin tujuh asmaul husna dari sebuah manuskrip kuno yang fotonya dikirim lewat lampiran surel.

Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun menggeluti dunia khat, tanganku biasanya sangat tenang saat menggenggam handam, pena bambu. Namun malam ini, ada getaran aneh yang menjalar dari ujung jari hingga ke pundakku.

Aku memulai dengan asma pertama: الرزاق (Ar-Razzaq). Sang Pemberi Rezeki.

Ujung handam aku celupkan ke dalam wadah tinta, memastikan serat likah di dalamnya terserap sempurna. Aku menarik napas dalam, lalu memulai goresan pada huruf ر (Ra). Aku memiringkan mata pena sekitar 70 derajat, menariknya perlahan ke bawah dengan tekanan yang mantap hingga membentuk ekor yang tajam. Dilanjutkan dengan huruf ز (Za), dan puncaknya pada huruf ق (Qaf). Aku memutar pergelangan tangan untuk membuat lengkungan perutnya yang menyerupai mangkuk sempurna, siap menampung keberkahan.

Huruf-huruf dalam gaya Tsuluts itu tampak hitam pekat dan basah. Namun, saat aku hendak meletakkan pena, tinta itu perlahan memudar, seolah-olah kertas itu adalah spons yang menghisap cairan dengan rakus. Dalam hitungan detik, lembar kertas itu kembali putih bersih dan kosong.

"Astagfirullah," gumamku pelan. Namun, saat aku menoleh ke arah cermin rias Ibu, aku terkesiap. Di atas permukaan kaca itu, tulisan الرزاق muncul dengan warna emas yang berpendar, persis dengan gaya tulisan yang baru saja kubuat.

Esok paginya, sebuah ketukan keras membangunkan kami. Bukan penagih utang, melainkan seorang tetangga yang membawa kabar bahwa Ibu mendapatkan pesanan jahitan seragam dalam jumlah besar. Rezeki yang datang seketika, seolah tulisan di cermin itu adalah doa yang langsung diijabah.

Malam berikutnya, aku menulis السلام (As-Salam). Sang Pemberi Keselamatan. 

Aku sangat berhati-hati pada sambungan gigi huruf س (Sin), menariknya miring ke arah kiri bawah dengan jarak tiga titik yang presisi. Kejadian yang sama terulang. Tulisan itu menguap dan muncul kembali di daun pintu depan rumah kami. Tengah malam, terjadi kebakaran hebat di gang sebelah. Api berkobar tinggi, namun tak sedikit pun hawa panas menyentuh dinding kami. Seolah ada dinding transparan yang menjaga pintu bertuliskan ayat tersebut.

Kini, tersisa satu nama terakhir: الحق (Al-Haq). Sang Maha Benar.

Tanganku gemetar saat ujung handam menyentuh kertas. Aku menarik garis tegak lurus untuk huruf ا (Alif), lalu membuat lengkungan huruf ح (Ha) yang besar dan gagah, diakhiri dengan huruf ق (Qaf) yang ekornya meliuk tegas ke bawah.

Seperti sebelumnya, tinta itu menghilang. Aku mencari-cari di mana tulisan itu akan muncul. Langkahku terhenti di depan bingkai foto Ayah. Di sana, di atas kaca yang menutupi wajah tenang Ayah, tulisan الحق terukir indah dengan tinta yang masih tampak basah.

Tiba-tiba, bingkai foto itu terjatuh. Praangg! Kaca pecah berkeping-keping. Saat aku berlutut memungut sisa-sisanya, aku melihat sebuah amplop tua tersembunyi di balik kertas penutup bingkai. Isinya adalah sertifikat kepemilikan lahan atas nama Ibu yang selama ini disembunyikan oleh kerabat jauh kami. Sebuah kebenaran tentang hak milik yang selama ini membuat kami hidup dalam kemiskinan yang sia-sia.

Air mataku menetes mengenai tulisan الحق di atas pecahan kaca. Naskah kuno di mejaku tiba-tiba hancur menjadi debu saat angin laut masuk melalui jendela. Pesanan itu selesai. Rahasia itu terbongkar.

Malam itu, aku menyadari bahwa setiap goresan tinta bukan sekadar seni. Bagiku, khat telah menjadi jembatan antara harapan yang kutulis di atas kertas dan takdir yang digariskan Tuhan di atas kenyataan. Aku membereskan wadah tintaku, lalu memandangi tangan yang kini ternoda hitam itu. Tangan yang baru saja menuliskan jalan baru untuk masa depan kami.

***

 

Adellya Marcellina tengah menekuni kaligrafi, ia tinggal di Cilincing, Jakarta Utara.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat