Puisi Tiada Kekal | Daan Yahya/Republika

Sastra

Tiada Kekal

Puisi-puisi Sholihul Mubarok

Oleh SHOLIHUL MUBAROK

Tiada Kekal

 

tiada kekal

meski terjal menjadi gapai

dalam genggam rapal

meski tak ayal

ganjal dan terjungkal

di tempat asal

 

mungkin semakin kemungkinan

yang tak mungkin

ketika ingin terlalu asin

bercampur liur

di mulut tergiur

 

dirasai kepahitan

menjelma agresi

kuasai kedaulatan persepsi

dan kau tenggelam

ke dasar samudra manipulasi

 

Gresik, 27 April 2026

***

 

Lepas Segalaku

: kepada-Mu

 

jika kelak, lepas segalaku

pada kepak merpati

atau seringai paruh gagak

di langit muram

di ranting-ranting malam

 

adakah rindu luruh

sebagai koyak tubuh

seperti mula kasih-Mu

sebelum cemburu-Mu

 

telah Engkau pinjamkan

jauh nalar mulai mempertanyakan

betapa cinta-Mu

tiada terukur

meski adaku lebur

 

Gresik, 27 April 2026

***

 

Ketika Engkau di Titik Nadir

 

Malam menghadirkan geliat

lengang. Anatomi pertanyaan

pada lekuk nasut sunyi. Kau

tanggalkan jubah sangkaan.

Zat meraba setiap jengkal

linu tanpa ejaan nama. Tiada

jarak antara pencari dan yang

dicari. Hanya sunyi berdenyut

di balik rusuk.

 

Lepas pandang cakram dari

pelupuk basyar rabun. Kau

biarkan diri karam di

sedimentasi air mata. Udara

bukan lagi milik paru-paru.

Napas-Nya berputar diam di

poros ketiadaan. Jejak arah

dan tujuan lebur dalam

pusaran sir.

 

Menjelma karang dalam teguh

murakabah. Kau diam dicumbui

ombak tajali tanpa peduli

rapuh keakuan. Biarlah Ia

tumpah mengikis dinding ego.

Menandai setiap inci rahasia

di bawah reruntuhan identitas.

Karang dan ombak satu gerak

kehendak tunggal.

 

Sesuatu terbuka dari dalam

sumur zauk. Bukan fajar

timur. Bukan cahaya langit

fisik. Pancaran isyrak menyeringai

lembut dari balik tabir batin.

Dentum tanpa bunyi. Jawaban

tanpa abjad. Melesat menembus

nadir makrifat tak

terkatakan.

 

Detik ini kau tiba di muara fana.

Syariat pecah, mengkristal jadi

garam hakikat pedih. Air

mata jatuh, selawat sunyi

tanpa saksi tanpa pinta. Kau

habis. Larut di gravitasi

Ahad. Pungkas segala kau.

Segala aku. Dia sendiri-Nya

agung.

 

Gresik, 27 April 2026

***

 

Setelah Itu

 

Seseorang menyeberang dari anarki; selesai. Di tempurung kepala, kota masih runtuh; beton ingatan menindih saraf sunyi. Langkah kaki sampai di seberang, tetapi bayang api belum padam dari kening.

Ia menjelma tangis pamungkas; air mata menguap sebelum tumpah, hangus dijilat lidah ledakan. Tiada kelembapan sisa, hanya abu mengepul dalam ceruk pipi setelah duka tuntas dipanggang amuk.

Debu-debu itu remahan doa, berserak kusam di sela guguran daun muda. Di tengah lanskap porak-poranda, kehidupan memungut sisa spiritualitas dari puing pecah; upaya lahir kembali dari sisa kematian.

Hentikan anggapan usai. Kebengisan menjalar, merayap dalam urat dada, karat memakan rasa. Kepada siapa puing mengadu? Jutaan pasang mata sekadar hujan musiman; datang sebagai tontonan, menguap sebelum genangan membasuh luka.

Tanggalkan nyawa dari angin, ketika udara sendiri menjelma racun dalam paru-paru waktu. Harapan kosong mustahil menopang hidup, sementara ruang eksistensi terjangkit bau bangkai kebencian.

 

Gresik, 29 April 2026

***

 

Muara Dahaga Rindu

 

Sejenak teduh; penyeka gerahku.

Arak-arak mega tajali parasmu,

disolek musim tak tentu,

luruh peluh dalam sujudku.

 

Jangan tanya ketiak pada bau;

ini aroma sisa raga di tempat fana.

Wangi ketaatan bukan pada bunga,

tapi pada pelik kelana mencari makna.

 

Debu lumuri kening;

tanda sujud tak kenal paling.

Biarkan kusam menjadi saksi,

langkah ini mustahil berhenti.

 

Tiada rindu seumpama candu,

hanya penyerahan tanpa ragu.

Engkau muara dari segala dahaga,

tempat raga meluruhkan kasta.

 

Maka biarkan aku tetap berdebu,

menjadi noktah di hamparan rida-Mu.

Sebab dalam ketiadaan ini,

kutemukan Engkau abadi bersemi.

 

Gresik, 29 April 2026

***

 

Sayap Alastu

 

Telah tertanggal angka padamu, satu demi satu. Fajar kecil lahir saat rahim bumi membahasakan rahasia kun.

Angka-angka adalah guguran daun di pelataran Sidratul Muntaha. Tanpa musim, sekadar guratan kalam di sepanjang hitungan fana. Kau mustahil ingkar, meski jejakmu menjelma wangi misk atau anyir bangkai dalam jubah ego.

Telah terbuka kitab nasut. Rekam jejak menjadi telak saat ruh tak lagi berhak. Ruang kian sempit sebelum sempat kau menoleh pada pintu taubat. Jangan sekali-kali fitrah rahim, bekal suci dari Sang Ibu Asal, kau tumpahkan di tumpukan sampah kemegahan dunia.

 

Gresik, 29 April 2026

***

 

Penangkal Sangka

 

Terucap isyarat-qalbu

merekah kebun rahasia

di sepetak hening batin

sebatang duri penanggal sangka

 

lantas, kulepas liar

biar semesta mencakar

segala "aku" yang menamu

lebur, runtuhkan hijab semu

 

akan segar, seharum napas terakhir

jangan gentar dipahat takdir

biarkan ranggas wajah lahiriah

agar ranum di dalam pasrah

 

Jika isyarat sampai

senja bukan lagi semampai

sisakan padaku Tatap Tunggal itu

sebelum malam purna terpejam

di subuh luruhku

biarlah sekejap sunyi

menghapus lusuh debu

bisikkan padaku kidung rindu

 

Baiknya tiada pesan

sajak-sajak simpan-pinjam

adalah kanak terbahak

tak kenal binal rembulan

sujud di sela dahan

 

Gresik, 30 April 2026

 

Sholihul Mubarok lahir di Gresik, Jawa Timur, pada 24 Februari 1985. Ia merupakan penyair yang aktif berkarya di ruang sastra digital. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif nasional dan internasional, antara lain Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas negara Serenade Musim (2025). Selain menulis buku puisi tunggal, ia juga aktif mengikuti kegiatan sastra berani dan menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat ini, ia tengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat