Cerpen Songkok Istimewa | Daan Yahya/Republika

Sastra

Songkok Istimewa

Oleh ABRAH NS

Di sebuah desa yang tampak sejuk dengan pepohonan yang rindang meneduh tanaman Sahang yang berjejeran, berdiri sebuah rumah panggung berdinding rumbia pun dengan atapnya. Di kolong rumah panggung yang beralaskan bambu dengan luas 35 meter persegi itu, Pak Munaja memarkirkan motornya setelah kembali melaut semalaman. Keriput tangan bekas air laut, bercampur dengan aroma asin khas nelayan, ia memilah-milah hasil tangkapannya.

Di atas, Bu Minah tengah bersiap memasak nasi untuk makan siang. Bujang duduk di lantai beralaskan tikar purun, mengerjakan tugas sekolah. Sinar matahari yang mulai panas, namun terasa sejuk di dalam rumah yang beratap dan berdinding rumbia.

“Mak, Bapak sudah pulang. Itu sudah di bawah.” Bujang bergegas menuju tangga untuk turun membantu bapaknya yang baru tiba dari melaut. Bu Minah menyusul dengan membawa baskom untuk mewadahi ikan.

“Sebagian sudah Bapak jual. Ini untuk kita makan.” Wajah Pak Munaja tampak bahagia, meskipun rasa lelah setelah semalaman berjuang melawan gelombang laut yang tak menentu.

Bu Minah dengan cekatan mengambil hasil tangkapan Pak Munaja dari dalam ragak cerampang plastik yang sudah tampak pacah sebagian. Satu persatu ikan dan juga beberapa cumi-cumi ukuran sedang dimasukkan dalam baskom.

“Cuminya, kenapa nggak dijual Pak?” Bu Minah bertanya penasaran, biasanya Pak Munaja lebih memilih menjual cumi-cumi karena nilai jual yang tinggi dan lebih mudah dijual.

“Untuk kita makan aja, Ey! Sesekali kan kita juga mau.” Pak Munaja berjalan ke tangga rumah menuju ke atas. Angin menjelang siang bertiup cukup kencang. Tanaman Sahang yang tumbuh di belakang rumah tampak bergoyang-goyang tertiup angin. Ia berhenti di teras, duduk di atas kursi kayu yang tampak sudah mulai rapuh, bikinannya sendiri. Matanya mengamati satu persatu rumpun Sahang, memperhatikan jika ada yang akan tumbang karena junjungnya sudah rapuh.

“Pak, nggak langsung mandi? bersih-bersih?” Bu Minah mencoba mengingatkan suaminya yang tidak langsung mandi sepulang dari melaut.

Bentar lagi! Sahang ada yang tumbang, Ey?" Bapak Munaja memanggil istrinya dengan panggilan Ey. Kencangnya angin musim barat di bulan Oktober ini menjadi masalah utama bagi petani Sahang. Dipastikan banyak rumpun-rumpun Sahang yang bertumbangan. Apalagi jika menggunakan junjung dari kayu yang mudah rapuh.

Pandangan Pak Munaja terus tertuju pada rumpun-rumpun Sahang yang berjejer di sekitar rumah panggungnya. Dedaunan yang mulai menguning akibat dilanda musim kemarau yang tak kunjung hujan. Dalam pikiran ia berdilaog dengan Tuhan, "Ya Allah turunkan hujan agar Sahang-Sahangku tidak mati, suburkan agar dapat berbuah lebat."  Tidak banyak keinginan yang diharapkan dari Pak Munaja, menginginkan anaknya dapat bersekolah agar dapat meraih cita-citanya, dan menyimpan uang sedikit demi sedikit untuk mendaftar berangkat haji. Meskipun hanya dari hasil melaut dan kebun Sahang. 

Musim berhaji tiba, Pak Munaja mendapat kabar jika keponakannya, anak kakak perempuannya akan berangkat pada musim haji tahun ini. Selain membuka toko klontong, suami keponakannya ini juga seorang penghulu kampung. Kebun Sahangnya juga terhampar luas, lima hektare, semuanya berbuah dengan hasil ribuan kilo setiap musim panen. Dalam hatinya Pak Munaja berpikir, memang sudah sewajarnya jika keponakannya itu berangkat haji, kehidupannya sudah cukup mapan. Berbeda dengan ia yang kehidupan sehari-hari saja masih sering kesulitan membeli beras. Terkadang hanya mengkonsumsi singkong rebus. Singkong ditanam pada sela-sela rumpun Sahang yang sewaktu-waktu ubinya dapat diambil pengganti beras dan daun pucuknya sebagai sayuran. "Ah, jika Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, aku bisa berangkat haji bersama istri, entah kapan!"

 

***

Empat puluh satu hari menjalankan prosesi berhaji, keponakan Pak Munaja tiba kembali ke kampung halaman. Pak Munaja ikut menjemput kedatangannya di bandara, menempuh perjalanan hampir enam jam, menggunakan mikrobus PO Sabang yang disewa keluarga keponakannya. Penjemput penuh berdesakan dalam satu mobil. Jalanan yang dilalui sebagian masih tanah merah belum beraspal, menambah lamanya menempuh perjalanan. Jika sudah beraspal dipastikan dapat ditempuh hanya dalam dua setengah jam saja.

Satu persatu isi koper ole-ole Haramain dikeluarkan, pun juga satu persatu tetangga dan keuarga datang silih berganti. Air zam-zam menjadi ole-ole yang paling diharapkan. Seteguk air zam-zam dan sebutir kurma yang masuk ke tenggorokan setiap yang minum menjadi pancaran kebahagian di wajah mereka. Sebagian anak-anak keluarga dekat, seperti Bujang, anaknya Pak Munaja mendapatkan kodak dengan film miniatur masjidil Haram, masjid Nabawi, ilustrasi jamaah yang mencium Hajar Aswad, dan suasana di Jabal Rahmah saat jamaah melaksanakan wukuf. Pak Munaja mendapatkan ole-ole istimewa, songkok haji, songkok putih khas Madinah. 

Pak Munaja terdiam sejenak. Ia terharu mendapatkan songkok haji. Diciumnya songkok dengan aroma wewangian khas Madinah, Attar. Pandangannya menerawang jauh ke depan, entah apa yang ada dalam pikirannya. 

 

***

Duapuluh satu tahun kemudian, Pak Munaja dan Bu Minah mendaftar haji setelah dengan sabar mengumpulkan hasil jerih payah melaut dan bersahang. Kebahagian terpancar dari wajah suami istri ini, secerah sinar matahari di tengah siang bolong. Pendaftaran dilakukan dan didampingi oleh anaknya, Bujang. Maklum, Pak Munaja dan Bu Minah hanya berpendidikan sekolah rakyat yang tak tamat. Untung-untung bisa baca tulis dan tandatangan. 

Sesampai di rumah setelah mendapatkan nomor porsi haji. Pak Munaja bergegas menuju lemari berbahan triplek tebal. Ia mencari kunci lemari berwarna biru muda yang sudah tampah dimakan usia itu. 

"Bu, kunci lemari ini disimpan di mana?"

Bu Minah segera menghampiri Pak Munaja dan menunjukkan kunci berwarna keemasan.

Pak Munaja membuka lemari, tangannya mencoba meraih sesuatu dari laci lemari itu. Satu persatu laci lemari dibuka. Dan terakhir ia membuka koper berwarna hitam yang tergeletak di rak lemari paling bawah. Ia pelan-pelan memutar-mutar nomor kode pada koper itu dan kemudian meraih sebuah benda berwarna putih terbungkus kantong plastik bening dari dalam koper. Dengan sumringah, ditunjukkannya pada Bu Minah, "Bu, songkoknya masih wangi."

Bu Minah hanya tersenyum. Ia paham apa yang dimaksud suaminya. Diambilnya songkok putih dari tangan suaminya, disimpan kembali ke dalam koper hitam yang dipenuhi tumpukan buku-buku beraksara arab gundul.

Sewaktu masih lajang sampai memiliki anak berumur lima tahun, Pak Munajah aktif mengikuti pengajian kitab kuning yang digelar mingguan di kampung. Ia berhenti mengikuti pengajian setelah guru mengajinya meninggal dunia. Tidak ada muridnya yang dapat meneruskan pengajian itu. Konon, gurunya belajar langsung dari negeri Jiran Malaysia, seorang kyai yang pernah menimba ilmu di Makkah. Buku yang ada dalam koper hitam itupun sebagian berbahasa Melayu Malaysia beraksara arab gundul.

Tak jarang Pak Munaja memberikan nasehat pada anaknya berdasarkan ilmu yang dipelajarinya saat mengaji kitab gundul. Seringkali yang disampaikan Pak Munaja tidak dipelajari di bangku sekolah, namun penting menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

"Nak, kalo masuk masjid sebelum shalat carilah posisi yang tidak mengganggu orang lewat seandainya tidak ada sutrah yang dapat digunakan untuk menjadi pembatas. Karena lewatnya orang depan orang sholat akan menjadi dosa bagi yang lewat yang disebabkan oleh yang shalat tanpa sutrah."

Nasehat ini disampaikan Pak Munaja pada Bujang suatu ketika. Bujang hanya mengiyakan saja. Ia tidak pernah berpanjang lebar apa yang dinasehatkan padanya. Termasuk ketika ia dilarang Pak Munaja memakai songkok putih, songkok haji pemberian ayah temannya.

"Nak, lepaskan songkok yang kamu pakai itu. Songkok hitammu masih ada, kan?"

Bujang segera melepaskan songkok putih yang ia kenakan. Ia meminta maaf dan menggantinya dengan songkok hitam, songkok nasional yang ia simpan di lemari triplek tebal berwarna biru lusuh itu.

Sepuluh tahun sejak Pak Munaja mendaftar haji, namun belum ada panggilan dari Kantor Kementerian Agama yang mengurusi jamaah haji Indonesia. Terlebih wabah penyakit Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Keberangkatan haji tahun ini terpaksa ditunda. Akan semakin menambah rentanya Pak Munaja. Dalam pikiran Pak Munaja, bahkan sering dilontarkan berulangkali ke Bu Minah dan anaknya, Bujang, kondisi badannya yang sudah semakin menua, akan semakin sulit untuk berangkat haji. Namun, baik Bu Minah maupun anaknya selalu menyemangatinya.

"Bapak harus tetap semangat. Obatnya jangan lupa di minum. Insya Allah Bapak dan Ibu tetap bisa berangkat!"

"Entahlah, Nak! Bapak sudah sakit-sakitan seperti ini. Kalo tahun ini dari Indonesia tidak ada yang berangkat haji, artinya jadwal keberangkatan Bapak akan semakin mundur."

Bujang tak putus asa memberikan semangat pada bapaknya. Sembari menyuapi nasi bubur, Bujang bercerita jika keberangkatan haji akan ada petugas yang mendampingi jamaah lansia.

"Bapak jangan khawatir, nanti ada petugas yang khusus mendampingi. Mereka sudah dilatih untuk mendampingi dan mengurus keperluan jamaah lansia."

"Tapi itu nanti pasti butuh tambahan biaya lagi, kan?" Pak Munaja memikirkan tambahan biaya yang harus dipersiapkan. Sedangkan biaya haji yang akan disetor jika sudah masuk daftar keberangkatan selalu mengalami kenaikan. Uang simpanan Pak Munaja hasil melaut dan bersahang dan terakhir menjual tanah kebun untuk persiapan keberangkatan dikhawatirkan tidak cukup. Kebun yang dulu tempat berdiri rumah panggung, rumah tinggal membesarkan anaknya, kini sudah dijual ke seorang pengusaha tambang Timah.

Dan takdir hanya Tuhan yang tahu. Menjelang sholat Subuh pada 23 Dzulkaidah saat itu, Pak Munaja menghembuskan nafas terakhirnya. Karena penyakit yang dideritanya. Ia pergi untuk selamanya sebelum songkok Istimewa impiannya itu sah digunakannya. 

"Nak, lepaskan songkok putihmu itu! Kamu belum berhak memakainya. Kamu tau ikhwal songkok putih itu? Itu dihadirkan untuk membedakan orang yang sudah berhaji dan orang biasa. Jadi, jangan kamu bohongi dirimu dan orang lain karena songkok itu." Pesan itu berbekas tak ilang dalam ingatan Bujang.

Pak Munaja telah tiada. Namun, Songkok putih, songkok haji istimewa itu tersimpan rapi dan akan dipakai Bujang ketika telah melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci Makkah.

***

 

Abrah Ns merupakan ASN  di Kabupaten Bangka Selatan. Aktif menulis fiksi maupun non fiksi di berbagai media lokal dan nasional sejak tahun 2011.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat