Cerpen Benalu | Daan Yahya/Republika

Sastra

Benalu

Oleh DESY ARISANDI

 

Mobil travel, yang baru saja menurunkanku di depan pagar rumah, menghilang di tikungan ketika mataku menyapu kerumunan warga di halaman. Wajah mereka tampak lelah menunggu. Ketika aku melangkah memasuki halaman, tak satu pun yang mengubris. Di dalam rumah, di sofa dekat pintu kamarnya, Bapak menghitung kartu-kartu biru muda yang berserakan di atas meja. Kuletakkan begitu saja ransel di lantai. 

"Pak, kenapa harus mengumpulkan KTP warga?" protesku. 

Bapak melihat ke arahku. Alih-alih menyambut putrinya yang sudah enam bulan tidak pulang, ia melanjutkan kesibukannya. Tiba-tiba saja, kening Bapak berkerut. Rokok yang sedari tadi terselip di bibirnya, ia tekan ke tubir begitu saja di  bibir asbak. "Joko! Joko!" teriaknya seraya kembali mengambil rokok di asbak yang tadi ia padamkan. Intuisi perokok memang teruji. Begitu ia isap kembali gulungan tembakau yang tak lagi utuh itu, bara mengerlip di ujungnya.

“Ya, Kak?” kata Joko sambil membungkuk. Dari bunyi napasnya, ia berlarian dari luar.

"Ya, Kak? Ya, Kak?” Bapak menoleh ke laki-laki 30 tahunan itu dengan tatapan kesal. “Kenapa cuma segini?” Bapak menunjuk mejanya.

Joko sempat terdiam sejenak, sebelum bentakan Bapak membuatnya tak punya pilihan selain bicara. “Blok A nolak ngasih KTP, Pak?”

“Hah?” Dahi Bapak mengernyit. “Kamu tilap amplopnya?” Bapak tampak geram.  

Joko mengeluarkan amplop-amplop yang berada di kantong kreseknya. “Ini, Kak.”

“Lalu? Kenapa nggak kaubagikan?”

“Punya kita kalah tebal dari amplopnya Pak Johan, Kak.”

Bapak diam. 

“Tenang, Kak,” ia terdengar ragu. “Percaya saja,” suaranya ditegas-tegaskan. “Kita pasti menang!”

Bapak tersenyum meremehkan. Ia bangkit lalu balik badan, masuk ke kamarnya.

Mulanya aku ingin menyusul, namun pandanganku terpaku pada tata letak sofa, lemari, dan perabot ruang tamu lainnya yang sudah berubah. Rumah ini, dibandingkan saat ibu masih ada dulu, jauh lebih rapi dan bersih. Apa benar desas-desus itu?

Omongan orang kampung kok kamu dengar,” dalih Bapak ketika aku membawa isu kawin sirinya dengan Jamilah, janda yang usianya hanya terpaut lima tahun di atasku.

Malam harinya aku mengajak Bapak bicara. Pertama, aku butuh penjelasan kenapa ia memintaku pulang. Kalau untuk membantunya dalam urusan Pilkades, dia sudah tahu sikapku. Kedua, karena telanjur menangkap basah kesibukannya siang tadi, aku pun mengutarakan keberatanku bahwa ...

Nggak usah banyak omong,” potongnya, santai, seraya menyeruput kopinya beberapa saat kemudian. “Kamu siap-siap saja.” Lalu ia menjelaskan tentang kecurangan-kecurangan yang dilakukan saingannya. “Kalau kita nanti mau memperkarakan calon lain, kamu bantu Bapak. Kamu kuliah di Hukum, ‘kan?”

Aku tak tahu harus berkata apa. Bagiku, tuduhan itu terdengar lucu, sebab Bapak sendiri sedang merusak proses demokrasi lewat pengumpulan KTP dan pembagian amplop itu. “Benar Bapak sudah menjual sawah kita?” konfirmasiku.

Bapak mengangguk santai. ”Amplop buat warga itu isinya duit, bukan daun salam.”

Malam itu, sebagaimana sejarah percakapan kami, kembali deadlock.

***

 

Setahuku Bapak tidak pakai WhatsApp. Tapi, ketika iseng kucari kontak WA-nya, dan menemukan ruang obrolan yang terbuka, segera kukirimkan video kecurangan calon kepala desa di pulau seberang yang tertangkap tangan pihak kepolisian. Centang satu, lalu dua. Tapi tak kunjung ditonton.

Hingga siang, Bapak masih mengurung diri. Sementara Joko sibuk melayani warga yang meminta ini-itu sebagai kompensasi atas suara yang mereka berikan. “Jangan amplop doang dong, Ko!” ketus salah seorang. “Calon sebelah ngasih net voli dan nyemen lapangannya. Masak calon kita kalah?” cibir yang lain.

Beberapa video lain tentang kecurangan Pilkades kukirimkan lagi. Namun, tak kunjung Bapak buka, bahkan usai menerima tamu yang datang dari kota, Bapak masih mengabaikan kirimanku. “Kamu memang pintar menemukan solusi,” Bapak menepuk-nepuk bahu Joko. 

“Urusan begini, yang turun tangan memang harus pengusaha, Kak,” Joko nyengir bangga.

Bakda Magrib, ketika Bapak minum kopi di ruang tengah, aku bermaksud mengajaknya makan keluar. Kuharap suasana santai dapat membuat pikirannya lebih terbuka. Tapi, Bapak malah mengajakku ke beranda, melihat para pendukungnya bermain gaple. “Pemenang turnamen akan Bapak kasih motor,” katanya jemawa. “Modal Johan kalah jauh setelah tamu tadi datang!” Lalu ia tertawa tanpa suara.

Aku menggelengkan kepala. Harapanku makin jauh dari titik terang.

Kenapa ibu mau saja ngasih KTP-nya?’ tanyaku iseng kepada perempuan paruh baya yang baru saja menandatangani tanda terima keesokan harinya.

“Mending dong,” jawabnya cepat. “Daripada nyoblos nggak ada bayarannya!” 

Waduh gawat!

“Kasihan Bapakmu,” tiba-tiba saja Joko sudah berdiri di sampingku. “Kades tanpa ibu kades itu bagaimana jadinya!”

Ingatanku mengembara.

***

 

Aku ingat sekali, ketika Ibu sakit-sakitan, Bapak yang sudah tiga tahun menjadi jemaah pengajian Tirakat Putih, menganggap Joko, putra sang pemimpin tirakat sebagai malaikat. “Kata-katanya nggak bisa diremehkan,” tegasnya ketika aku keberatan dengan saran-saran laki-laki itu. 

“Guru ngaji sama anaknya tentu beda, Pak,” aku berusaha mengajak Bapak menggunakan logika. “Apalagi sampai Mas Joko bilang Ibu diguna-guna. Mana ada orang salih percaya begituan.”

“Susah ngomong sama anak gadis sok pinter!” Dan ... sebagaimana perkiraan, Bapak memang tidak pernah membawa Ibu ke rumah sakit. 

Sejak itu, aku jadi malas pulang kampung.

Sejak itu, kabar yang kudengar, setiap minggu ada saja dukun yang Joko bawa ke rumah. Bisa kubayangkan, aroma kemenyan yang menyebar di dalam hingga luar rumah, mulut dukun komat-kamit memegang perut ibu yang makin membesar, atau ramuan entah apa yang harus Ibu minum. 

“Ibu harus dibawa ke RS, Pak,” kataku di telepon ketika tetanggaku memberi kabar kalau Ibu muntah darah. 

“Itu bagus,” kata Bapak, santai. “Kata Mbah Anom, racunnya keluar bersama darah kotor. Joko juga ...”

Klek! Kumatikan sambungan. Joko lagi, Joko lagi!

Tak sampai sepekan kemudian, Ibu meregang nyawa dengan sekujur tubuh kurus kering seperti tengkorak tapi perutnya malah bengkak seperti mau meledak.

***

 

Minggu depan aku tak punya pilihan lain kecuali pulang.

Pertama, Bapak dilantik jadi kades.

Kedua, Bapak akan menikahi janda muda. Setelah kucari tahu, janda ini seumuran denganku alias bukan janda yang diisukan waktu itu.

Ketiga, Bapak ingin membicarakan perihal perkebunannya di kabupaten sebelah. “Kamu pasti baru tahu, ‘kan? Joko yang urus surat-suratnya,” katanya di telepon. Hari itu juga akan memesan tiket kereta paling pagi.

“Bisa nggak laki-laki itu enyah dari kehidupan Bapak?” setiba di rumah, aku benar-benar meledak.

“Siapa?” Bapak menyipitkan mata. Masih santai dan jemawa. “Joko?”

“Surat-surat tanah perkebunan itu mana? Biar aku yang amankan!”

“Lha kenapa urusannya malah ke surat tanah? Itu yang nggak bisa. Itu yang ingin Bapak bicarakan. Bapak punya lima surat. Kamu pegang satu. Empatnya mau Bapak jual.”

“Ini pasti karena Joko, ‘kan?”

Lha iya?” Bapak membelalak. “Karena dia Bapak bisa jadi kades. Kamu tahu gajinya? Lima miliar!”

“Itu dana untuk masyarakat, Pak.”

“Halah!”

“Joko memang ...”

“Dan Joko juga sebentar akan jadi bagian keluarga kita.”

“Keluarga?” Aku menggeleng. “Dari mana jalurnya, Pak?”

“Dari adik perempuannya!”

Aku masih belum nyambung.

“Si Rikalah yang akan Bapak kawini.”

“Bapak?”

“Pestanya harus mewah. Namanya juga janda yang masih kelihatan kayak gadis. Rumah juga harus kubangunkan di tanah kita di pinggir jalan dekat pasar itu. Makanya perkebunan itu harus Bapak jual. Dan kamu,” Bapak tampak heran melihat bahuku yang turun-naik menahan emosi, “dengan satu surat tanah itu, mungkin nanti bisa jadi notaris!”

Aku benar-benar matikata.

“Satu lagi,” ia yang baru saja berbalik, kembali menoleh. “Kalau mau kawin, cari pemuda kota saja. Di kampung ini, dikit-dikit main santet!”

Ponselku berdering. Nama Bapak mengedap-ngedipkan layar. Kulihat Bapak masih berdiri, tanpa memegang ponsel. “Halo?” kataku dengan keheranan yang meriap di kepala.

“Kamu sudah sampai rumah, ‘kan?”

Aku kenal suara bangsat itu.

“Tunggu di sana. Mas mau ngantar surat tanah bagianmu.”

Jadi, selama ini, ponsel Bapak pun dipegang benalu itu?!

 

Musi Rawas, 23 Februari 2024

***

 

Desy Arisandi menulis cerpen sejak 2008. Novel anaknya Halimah dan Bainai menjadi pemenang 1 Sayembara Cerita Anak Kemdikbud tahun 2018. Kumpulan cerpen debutnya 9 Kisah Cinta yang Ganjil (2016).

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat