Sastra
Mereka yang Berkubur Tanpa Nama
Puisi-Puisi Muhammad Subhan
Oleh MUHAMMAD SUBHAN
Mereka yang Berkubur Tanpa Nama
Mereka ditandu ke pemakaman
tanpa nama, seperti bayang-bayang
yang lupa pulang ke tubuh sendiri
menelan rahasia terlalu dalam
seperti daun tanggal yang tak sempat
berpamitan pada musim yang tinggal
dan pelan-pelan menggugurkannya.
Tak ada tanda, tak ada muasal, hanya
tubuh yang pernah bingkai mimpi-mimpi
—yang padam sebelum senja ke peraduan.
Di pucuk-pucuk mahoni, burung-burung
enggan pulang, gelisah dalam kepak sayap
dan wajah murung, seolah mencari-cari
yang sudah lama menguap di udara.
Segalanya kini gema tanpa alamat
menjelma kabut yang melilit pagi
embun menggantung di ujung daun.
Dan meski tak lagi dikenali, jasad-jasad
itu abadi dalam pelukan doa-doa
orang-orang yang kehilangannya.
Segala kasih telah menjadi kisah
di antara bunga liar yang tumbuh di pusara.
Padangpanjang, 2026
***
Penjaga Ribuan Nyawa
Tapi itu cerita sebelum pohon-
pohon rebah. ia adalah pertaruhan
antara akar yang memilih bertahan
dan api yang menghanguskan.
—Tegak sebagai harapan,
jatuh sebagai abu.
Dalam diamnya, kebaikan
tak pernah berteriak; ia bekerja
seperti waktu, menyimpan musim
purba, menjadi oase di dada rimba.
Hujan jatuh ke tanah, akar menghapal
arah pulang, burung-burung menitipkan
cinta pada daun-daun yang belum gugur.
Hingga gergasi datang membawa gergaji,
mengukur usia dari generasi ke generasi.
Hidup gergasi-gergasi itu
pernah berutang pada pohon-pohon
yang bergeming: ia memberi tanpa
meminta kembali, dengan cinta.
Padangpanjang, 2026
***
Jika Hutan Ditebang, Tidak Lagi Rindukah Kau pada Merdu Suara Siamang?
Jika pohon-pohon ditebang
tak rindukah kau pada suara siamang
yang dulu membangunkan tidurmu
di pagi mengkal berkabut, dan
mengajakmu menyulam puisi
jika dahan-dahan tak ada lagi
di manakah ia gantungkan nasib
bergelut dengan cinta, memeluk
bayi yang teduh matanya—dan
mata itu mirip bola mata bayimu
yang dulu kaupeluk dengan rindu
di mimbar-mimbar kauberi sambutan:
“setiap pohon yang roboh adalah jantung
yang berhenti berdetak di tubuh bumi”
tapi mengapa hutan-hutan itu
kaugunduli juga, lalu pohon-pohon
pengganti tak pernah sungguh-sungguh
menjawab kehilangan seekor pun primata
—apakah mereka masih bermukim di sana
atau telah mati di tanah indatu sendiri?
Dan siapa lagi kelak yang akan bernyanyi
ketika siamang kehilangan masa kecilnya
—seperti masa kecilmu yang tak lagi tiba
jika hutan tinggal nama di peta
atau dongeng sebelum tidur
apa lagi yang akan kaudekap
selain sesal di dada?
Padangpanjang, 2025
***
Dulu Hujan Begitu Puitis Sekali, dan Sore Inin Ia Turun Deras, Tapi yang Tiba Adalah Cemas
Dulu
hujan datang seperti sajak
melekatkan tempias di jendela
mengusap senja. mengalirkan wangi
tanah yang teduh, membawa hati pulang
pada kenangan yang bernapas di antara gerimis
Dulu
hujan begitu puitis sekali
seperti halaman buku yang dibuka angin
mendekap cahaya redup lampu-lampu rumah
menggigil di balik tirai, dan rindu diam-diam tumbuh
Sore ini hujan tiba tanpa jeda
membawa deru yang menghunjam bumi
seperti kabar buruk yang tergesa-gesa
Guyurannya tak lagi menenangkan
ia mengetuk atap seperti membawa isyarat
menyeret bayang-bayang pada ingatan luka
—sungai yang meluap menjadi bah, galodo yang
menjatuhkan batu setubuh kerbau dari atas bukit
Sore ini, hujan turun lagi, deras—
dan yang tiba bukan puisi, tapi cemas
seperti bayang yang lahir dari cahaya retak
mengintai nasib yang kian sulit ditebak
Padangpanjang, 2025
***
Kita Harus Banglit Dari Keterpurukan Ini, Kita Harus Kuat-Kuat Menjahit Luka Ini
Ya, kita harus
bangkit dari keterpukuran ini
kita harus kuat-kuat menjahit luka ini—
sebab duka tidak diciptakan untuk ditinggali
selamanya. ia adalah tanda bahwa kita
masih manusia yang sanggup berdiri
setelah tanah runtuh, yang sanggup mencintai
setelah amarah sungai-sungai menghapus jejak
kita tahu, di balik retak yang belum pulih
asa masih memanggil dengan gumam lirih
meski tubuh merintih, seperti daun kering
yang enggan jatuh. kita harus terus melangkah
meski pelan, karena bencana yang menimpa
mempertemukan pada rahasia keteguhan
dan kini kita berdiri, satu per satu
membersihkan puing menjadi buhul baru
yang sempat terputus, terburai: bahwa dari
segala badai yang singgah akan bertunas
keberanian lebih tinggi, dari kesakitan
yang nyaris memenggal napas, tumbuh
nadi kehidupan yang enggan terempas
—bangkitlah lagi, hidup lebih lama
sekali lagi. ya, sekali lagi
Padangpanjang, 2025
***
Setiap Orang Membawa Pulang Beban di Kepalanya Masing-Masing, Sebagian yang Lain Membawa Pergi
Dan, setiap orang menyimpan sepi yang tak sempat
ia lukiskan, seperti ruang gelap di balik mata
tempat segala cemas tak berani bersuara
setiap orang menanam sesuatu dalam dirinya
entah rindu yang tak pernah sampai
entah luka yang diam-diam dijahit sendiri
—dan perih sakitnya juga ditanggung sendiri
setiap orang pernah merasa jadi rumah
yang retak, membiarkan angin lewat di beranda
lalu pergi meninggalkan gigil di bilik dadanya
setiap orang berjalan membawa sepotong hati
di bawah hujan yang melumat air matanya
—hujan itu sekali deras sekali lama berhenti
ada pula rinai yang sebentar lalu reda begitu saja
setiap orang mencari jalan pulang dari arah berbeda
tanpa penerang di malam purnama ditutupi kabut
kadang jalan itu redup kadang terang sebentar
tapi tetap dijaga agar tak padam seluruhnya
Padangpanjang, 2025
***
Kuat-Kuat Ya, Jangan Ada Air Mata Lagi, Mari Kita Belajar Tersenyum Lagi
Di balik luka yang merobek segala
kita tetap mencari hari esok
yang belum patah
jangan ada lagi air mata
meski tanah luruh dari bukit
dan sungai membawa hanyut
tubuh-tubuh yang kita kenal
di sisa rumah yang menjadi unggun
kita duduk peluk sepi, peluk sisa mimpi
menghitung napas seperti menghitung
remah harapan, dan hanya semangat itu
lagi yang kita punya. selebihnya doa-doa
mari kita belajar tersenyum lagi
walau bibir gemetar, dada terguncang
mata sembab dan isak menusuk sesak
walau malam belum usai
mengabarkan kehilangan
ya, kuat-kuat, jangan ada air mata
lagi. mari kita belajar tersenyum lagi
Padangpanjang, 2025
***
Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, dan founder Sekolah Menulis elipsis, menetap di pinggir Kota Padang Panjang, Sumatra Barat. Lahir di Medan, 3 Desember. Buku puisinya Percakapan Marapi (2024), Tungku Api Ibu (2023), dan Kesaksian Sepasang Sandal (2020). Buku kumpulan cerpennya Jalan Sunyi Paling Duri (2022) dan Bensin di Kepala Bapak (2020). Novelnya Rumah di Tengah Sawah diterbitkan Balai Pustaka (2022). Ia penulis undangan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2017. Esainya tiga terbaik Festival Sastra Bengkulu (2019) dan puisinya tiga terbaik Banjarbaru Rainy Day Literary Festival (2019). Terlibat sebagai Asisten Maestro Program Residensi Belajar Bersama Maestro (BBM) Bidang Seni Sastra, Kementerian Kebudayaan RI (2025). Beberapa puisinya dialihwahanakan menjadi lagu dengan iringan musik klasik oleh pianis bertaraf internasional, Ananda Sukarlan. Instagram: @muhammadsubhan2.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
